Akurat Logo

Habis Mantab Terbitlah Manja

Yosi Winosa | 2 Agustus 2026, 07:20 WIB
Habis Mantab Terbitlah Manja
Ilustrasi kelas menengah kini makan pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari

AKURAT.CO AKURAT.CO Kondisi perekonomian masyarakat kelas menengah RI kian terjepit.

Usai ditekan inflasi dan terpaksa merogoh tabungan untuk sekadar bertahan hidup, atau dikenal sebagai fenomena makan tabungan (mantab), kini mereka terbiasa manja, singkatan dari makan pinjaman.

Manja juga mewakili kondisi ekonomi warga yang sulit sehingga memaksa mengambil pinjaman guna mencukupi kebutuhan harian.

Baca Juga: Indeks Keyakinan Konsumen Tinggi Tak Mewakili Kelas Menengah, Fenomena Mantab dan Maut Masih Merajalela

Data OJK dan BI menunjukan pembiayaan nonbank terus tumbuh di Mei 2026.

Total saldo pinjaman yang mencakup pinjaman daring atau pindar, kartu kredit, dan paylater, baik dari perusahaan pembiayaan nonbank maupun perbankan melonjak 26,4% secara tahunan ke Rp160,7 triliun per Mei 2026.

Pindar memiliki porsi terbesar dengan saldo Rp103,7 triliun atau sekitar 65% dari total gabungan ketiga pembiayaan tersebut. Di sisi lain, outstanding kartu kredit mencapai Rp43,8 triliun (27%) sementara porsi pembiayaan paylater mencapai 8% atau sebesar Rp13,2 triliun.

Namun demikian, paylater tumbuh paling pesat 53,6% diikuti p2p lending 25,7% dan kartu kredit 15,6%.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar rumah tangga tidak lagi mengandalkan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dari pinjaman.

Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda berpendapat fenomena tersebut tidak lepas dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja atau PHK. Ketika pendapatan berkurang, masyarakat masih harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, salah satunya dengan pinjaman.

Berdasarkan laporan Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja yang terdampak PHK pada Juni 2026 mencapai 19.530 orang. Angka ini melonjak hingga 23 kali lipat dibandingkan periode Mei 2026 yang sebanyak 829 orang.

Nailul mengingatkan kondisi ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah lantaran data tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja dan memburuk.

Jika tidak tertangani dengan baik, dampaknya akan merembet ke ranah sosial seperti meningkatnya angka kejahatan.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi berpendapat data tersebut menunjukkan bahwa rumah tangga tetap berbelanja bukan semata-mata karena pendapatan riil menguat, melainkan karena sebagian kebutuhannya mulai ditopang oleh pinjaman.

Pola ini dapat menjaga konsumsi dalam jangka pendek tetapi menambah beban cicilan pada bulan-bulan berikutnya.

Apabila pendapatan riil tidak naik cukup cepat, rumah tangga akan menekan konsumsi berikutnya, menunda belanja sekunder, mengurangi tabungan darurat, atau masuk ke pinjaman berulang. Dengan kata lain, daya beli masih belum pulih.

Fondasi Konsumsi RT Mulai Rapuh

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro menilai pertumbuhan pendapatan masyarakat kelas menengah saat ini masih tertinggal atau belum mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup mereka.

Data Mandiri Spending Index edisi 28 Juli 2026 menunjukan belanja masyarakat di Juni 2026 tembus 123, naik 5,9% secara tahunan sementara Mandiri Saving Index hanya 84,8 atau kontraksi 5,7% secara tahunan.

Andry dan timnya mencatat mayoritas pinjaman online digunakan untuk membiayai konsumsi di saat pinjol sektor produktif melandai. Data OJK menunjukan porsi pembiayaan konsumtif dari pinjol naik ke 86% di April 2026, dari 78% di April 2025 dan 68% di April 2024.

"Ini menunjukan kenaikan pinjaman lebih banyak didorong konsumsi rumah tangga, bukan aktivitas usaha. Sebenarnya mirip, manja dan mantab sama-sama menggambarkan daya beli yang susut," ujar Andry saat dihubungi Akurat.co, Rabu (29/7/2026).

Andry dan tim mencatat rerata pertumbuhan belanja RT di awal kuartal III-2026, berdasarkan data MSI, hanya 5,8%, melambat dibanding 6,1% di kuartal II-2026 dan 6,4% di kuartal I-2026.

"Pelemahan tabungan dan meningkatnya pembiayaan konsumtif menjadi sinyal sebagian konsumsi kian ditopang oleh leverage rumah tangga. Untuk itu kebijakan penguatan tingkat penghasilan dan manjaga disposible income perlu menjadi prioritas pemerintah," tukas Andry.

Senada, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development and Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman menilai meski dalam jangka pendek konsumsi Rumah Tangga masih menopang pertumbuhan ekonomi RI, namun dalam jangka menengah fondasinya mulai rapuh.

Survei Bank Indonesia mencatat porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi naik dari 72% di Mei 2026 menjadi 73% di Juni 2026. Di sisi lain, porsi tabungan menurun dari 17,6% ke 17% sementara porsi cicilan tetap tinggi di kisaran 10% dari pendapatan.

"Artinya pertumbuhan konsumsi saat ini tidak lagi sepenuhnya ditopang oleh kenaikan income tetapi mulai mengandalkan pengurangan tabungan dan tambahan pinjaman. Ini merupakan sinyal permintaan domestik masih bertahan tapi daya tahan keuangan mulai lemah terutama untuk rumah tangga," ujar Rizal.

Rizal menilai, meski saat ini inflasi relatif masih berada dalam level sasaran tahunan BI dan pemerintah, namun struktur pengeluaran rumah tangga tekanannya berbeda di masing-masing kelompok.

Misalnya kelompok bawah yang alokasi sebagian besar income mereka untuk kebutuhan pokok (pangan, pakaian) atau kelompok di atasnya (menengah ke bawah/ aspiring middle income) yang alokasi terbesar pendapatannya ke transportasi, pendidikan dan cicilan, akan sangat terdampak inflasi.

Sedikit saja ada kenaikan harga, lansung bisa menggerus pendapatan riil rumah tangga mereka.

Sementara tabungan sebagai shock absorber pasti akan menjadi sumber pertama yang digunakan setiap rumah tangga di kelompok ini. Ketika tabungan menipis, rumah tangga lantas mulai memanfaatkan pinjaman atau menjual aset (tanah, rumah dll) yang ada.

"Fenomena mantab (makan tabungan), manset (makan asset) dan manja (makan pinjaman) adalah indikator bahwa kapasitas membangun kekayaan atau wealth accumulation dari rumah tangga semakin lemah. Isunya adalah di bagaimana memperbai income mereka," ujar Rizal.

Solusi Nyata: Naikkan Upah Riil dan Jaga Kemampuan Menabung

Terkait solusi atas fenomena mantab, manset dan manja, Rizal menyarankan pemerintah untuk meningkatkan upah riil dan menciptakan lapangan kerja serta mengendalikan biaya hidup agar tak melulu inflasi.

Artinya, pemerintah harus bisa menjaga harga-harga agar tak tinggi serta menerap tenaga kerja khususnya bagi industri berbasis padat karya.

"Maka konsumsi masyarakat, yang masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi, akan terselamatkan. Kalau pemerintah tidak berupaya keras untuk mencari solusi atas isu ini, adalah keniscayaan bahwa pertumbuhan ekonomi akan tergerus," ujar Rizal.

Kemudian, pemerintah juga tidak hanya perlu menjaga masyarakat agar tetap bisa berbelanja, namun juga agar mereka tetap mampu menabung. Tabungan lah yang akan menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di masa depan.

"Pemerintah harus memikirkan bagaimana menghasilkan kebijakan agar masyarakat tidak hanya konsumsi tapi juga mampu menyimpan.

"Jadi kuncinya menjaga tidak hanya sisi spending-nya saja tapi juga saving-nya karena fenomena mantab sekarang ini ibaratnya kita meminjam atau mengijon mesin pertumbuhan ekonomi di masa depan," tegas Rizal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.