Sentimen Data PDB RI Belum Berdampak, Rupiah Ditaksir Melemah ke Rp17.980

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah berhasil menguat pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026) setelah mendapat sentimen positif dari dalam negeri. Kejutan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui ekspektasi pasar menjadi katalis utama penguatan mata uang Garuda.
Namun, pelaku pasar menilai ruang penguatan rupiah masih terbatas karena perhatian investor global kini beralih ke rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan indeks dolar AS turut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.
Baca Juga: Rupiah Perkasa Usai Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Dolar AS Tertekan
Sentimen tersebut muncul setelah pasar merespons positif perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Qatar. Meski demikian, Ibrahim memperkirakan penguatan rupiah belum akan berlangsung secara konsisten pada perdagangan berikutnya.
"Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp17.930 hingga Rp17.980 per USD. Pasar masih akan cenderung menunggu hasil data ketenagakerjaan Amerika Serikat sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya," ujar Ibrahim, dikutip Kamis (6/8/2026).
Pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026), rupiah ditutup menguat 93 poin ke level Rp17.934 per USD dari posisi sebelumnya Rp18.030 per USD. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat terapresiasi hingga 115 poin.
"Pasar mulai merespons positif adanya kemajuan upaya perdamaian di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong harga minyak dunia turun sehingga tekanan terhadap dolar AS ikut mereda," kata Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan harga minyak Brent bahkan kembali ditutup di bawah level USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli. Penurunan harga energi tersebut membuat kekhawatiran inflasi global sedikit berkurang sehingga permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS ikut menurun.
Meski demikian, menurut Ibrahim, sentimen geopolitik belum sepenuhnya hilang. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran telah dimulai dan menyebut Teheran memiliki "kesempatan terakhir" untuk mencapai kesepakatan. Namun, pemerintah Iran membantah adanya proses negosiasi dengan Washington.
Selain isu geopolitik, perhatian investor saat ini beralih pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dinilai akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed.
"Fokus pasar sekarang bergeser ke data ADP Employment Change malam ini dan Nonfarm Payrolls pada Jumat. Dua data ini akan menjadi penentu ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed," ujar Ibrahim.
Pasar memperkirakan penambahan tenaga kerja sektor swasta berdasarkan ADP pada Juli hanya mencapai sekitar 70.000 orang, turun dibandingkan 98.000 pada Juni.
Apabila realisasi lebih rendah dari perkiraan, peluang pengetatan kebijakan moneter The Fed diperkirakan semakin mengecil sehingga berpotensi menekan dolar AS dan memberikan ruang penguatan bagi rupiah.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II/2026.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan mayoritas ekonom yang sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan hanya berada pada kisaran 4,8% hingga 4,9%.
BPS juga mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp3.576,2 triliun. Secara kuartalan (quarter-to-quarter), ekonomi tumbuh 3,73%, sementara secara kumulatif semester I/2026 meningkat 5,45%.
Menurut Ibrahim, capaian tersebut memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat di tengah tingginya ketidakpastian global.
"Data pertumbuhan ekonomi yang berada di atas ekspektasi memberikan kepercayaan kepada pelaku pasar bahwa ekonomi domestik masih mampu bertahan. Sentimen ini ikut menopang penguatan rupiah pada perdagangan hari ini," katanya.
Di sisi lain, inflasi yang relatif terkendali juga menjadi faktor pendukung stabilitas nilai tukar. Sebelumnya, BPS melaporkan Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14% pada Juli 2026, sementara inflasi tahunan tercatat 2,88%. Penurunan harga pangan dinilai membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengurangi tekanan inflasi domestik.
Menurutnya, apabila data tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan yang lebih dalam dari perkiraan, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berlanjut sehingga rupiah memiliki peluang kembali menguat.
Sebaliknya, apabila data tersebut lebih kuat dari ekspektasi, dolar AS dapat kembali menguat karena pasar akan meningkatkan kembali ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed, yang berpotensi membatasi penguatan rupiah dalam jangka pendek.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









