Serial Merdeka Finansial (II): Di Balik Sinyal Ekonomi Makro, Mengapa Menabung Kini Menjadi Barang Mewah?

AKURAT.CO Ada paradoks dalam perilaku keuangan masyarakat Indonesia pada pertengahan 2026. Keinginan untuk menabung justru menguat, akan tetapi kemampuan untuk benar-benar menyisihkan uang melemah.
Mengutip hasil survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dikutip dari laman Akurat.co menunjukkan Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada Juni 2026 naik 1,6 poin dari bulan sebelumnya menjadi 81,7.
Sekilas, angka itu tampak sebagai kabar baik. Namun, ketika komponen penyusunnya dibedah, terdapat beberapa paradoks di dalamnya.
Di mana indeks Kemauan Menabung (IKMM) meningkat 3,5 poin menjadi 90,2. Sebaliknya, Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) justru turun 0,4 poin menjadi 73,2. Pada saat yang sama, proporsi responden yang menyatakan sering menabung turun dari 18,9% pada Mei menjadi 17,1% pada Juni.
Melihat hal tersebut, Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menilai penurunan Indeks Kemampuan Menabung menunjukkan mulai tertekannya daya beli, terutama pada kelompok masyarakat bawah akibat kenaikan biaya kebutuhan pokok.
Menurut Arianto, kondisi ini berdampak langsung pada pola belanja masyarakat yang mulai menahan konsumsi mereka.
"Dampaknya, masyarakat cenderung mengurangi belanja sekunder, memilih produk lebih murah, dan menunda pembelian barang tahan lama. Jika pendapatan riil dan lapangan kerja tidak membaik, konsumsi rumah tangga berisiko melambat secara bertahap," katanya di Jakarta.
Baca Juga: Serial Merdeka Finansial (I): Daya Beli Semu dan Kelas Menengah yang Kian Rapuh
Dengan kata lain, persoalan rumah tangga bukan semata-mata tidak memiliki keinginan untuk menyimpan uang. Keinginan itu ada, namun yang semakin sulit yakni menemukan uang yang benar-benar tersisa setelah kebutuhan sehari-hari dibayar.
Di sinilah persoalan kemampuan menabung menjadi lebih penting daripada sekadar melihat pertumbuhan nominal simpanan di perbankan.
Antara Kemauan dan Kemampuan Finansial
LPS mencatat kenaikan kemauan menabung pada Juni 2026 antara lain berkaitan dengan persiapan pengeluaran pendidikan. Persepsi responden mengenai waktu yang tepat untuk menabung meningkat.
Mereka yang menilai Juni sebagai waktu yang tepat untuk menabung naik dari 25,5% menjadi 27%. Responden yang menilai tiga bulan mendatang sebagai waktu yang tepat untuk menabung juga naik dari 33,7% menjadi 34,8%.
Namun, niat tersebut tidak sepenuhnya berujung pada kemampuan aktual. Persentase responden yang menyatakan sering menabung justru turun menjadi 17,1%. Ini berarti ada jarak antara rencana finansial dan kemampuan finansial rumah tangga.
Jarak tersebut penting karena tabungan pada dasarnya merupakan sisa pendapatan setelah konsumsi dan kewajiban lain dipenuhi. Ketika pendapatan tidak bertambah cukup cepat sementara kebutuhan meningkat, ruang untuk menyisihkan uang otomatis menyempit.
Oleh karena itu, Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai data LPS tersebut memberikan sinyal yang cukup jelas mengenai kondisi keuangan rumah tangga saat ini.
Kenaikan indeks kemauan menabung menunjukkan kesadaran masyarakat yang tinggi untuk menabung, tetapi kapasitas riilnya semakin terbatas.
Baca Juga: Misbakhun: Bansos dan Subsidi Berlapis Berhasil Jaga Daya Beli Masyarakat di Paruh Pertama 2026
"Keinginan untuk menabung masih ada, tetapi kapasitas untuk menyisihkan pendapatan justru melemah karena sebagian besar penghasilan habis untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, pendidikan, transportasi, dan kesehatan," kata Yusuf.
Yusuf menyebut tekanan daya beli ini akan membuat rumah tangga semakin selektif dalam berbelanja dan cenderung menunda konsumsi nonesensial. Dampak lanjutannya akan mulai memukul sektor ritel, restoran, hingga UMKM yang bergantung pada permintaan domestik.
Data Bank Indonesia memperlihatkan gejala serupa
Mengutip hasil survei Konsumen Juni 2026 Bank Indonesia, rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi meningkat menjadi 73% dari 72,3% pada Mei.
Sebaliknya, proporsi pendapatan yang disimpan turun menjadi 17% dari 17,5%. Porsi pembayaran cicilan atau utang relatif stabil, dari 10,2% menjadi 10%.
Artinya, penurunan ruang menabung pada Juni tidak terutama datang dari melonjaknya porsi pembayaran cicilan. Uang rumah tangga lebih banyak terserap untuk konsumsi.
Temuan BI ini membuat data LPS menjadi lebih menarik. Dua survei dengan pendekatan berbeda sama-sama menunjukkan adanya tekanan terhadap ruang tabungan, meski konsumen belum sepenuhnya kehilangan optimisme terhadap ekonomi.
Sehingga fenomena tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Turunnya kemampuan menabung tidak otomatis membuktikan bahwa masyarakat telah masuk dalam kondisi “makan tabungan (MANTAB)”.
Istilah tersebut menggambarkan situasi ketika seseorang menggunakan simpanan yang sudah dimiliki untuk membiayai kebutuhan hidup.
Lalu apa yang Membedakan?
Seseorang yang tidak mampu menabung belum tentu mengambil uang dari tabungan. Bisa jadi ia memang tidak memiliki surplus pendapatan yang cukup sejak awal. Karena itu, fenomena Juni 2026 lebih tepat dibaca sebagai menyempitnya ruang finansial rumah tangga.
Data LPS bahkan menunjukkan perbedaan yang cukup lebar berdasarkan tingkat pendapatan. IMK rumah tangga berpendapatan Rp1,5 juta hingga Rp3 juta per bulan turun 1,2 poin pada Juni.
Sebaliknya, kelompok berpendapatan di atas Rp7 juta justru mencatat kenaikan IMK 2,4 poin dan tetap berada di atas level 100. Menurut LPS, kondisi tersebut menunjukkan kemampuan dan kemauan menabung kelompok berpendapatan lebih tinggi masih relatif kuat.
Baca Juga: Jaga Daya Beli, Kemendag Bidik Transaksi ISF 2026 Tembus Rp38 Triliun
Sehingga data tersebut menunjukkan bahwa tekanan keuangan tidak tersebar secara merata.
Semakin besar kapasitas pendapatan, semakin besar pula kemungkinan rumah tangga memiliki sisa dana setelah kebutuhan rutin terpenuhi.
Sebaliknya, bagi rumah tangga dengan pendapatan lebih terbatas, sedikit kenaikan biaya kebutuhan pokok saja dapat mengurangi ruang untuk menabung.
Karena itu, menyebut seluruh masyarakat Indonesia sedang “makan tabungan (MANTAB)” juga terlalu menyederhanakan persoalan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 7Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026
- 1020 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!








