Akurat Logo

Hari Ini Pengumuman BI Rate, Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rentang Rp17.860-Rp17.920

Esha Tri Wahyuni | 19 Agustus 2026, 08:45 WIB
Hari Ini Pengumuman BI Rate, Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rentang Rp17.860-Rp17.920
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah ditaksir lanjutkan pelemahan di tengah kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya kembali ketegangan geopolitik Amerika Serikat (AS)-Iran.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berada pada rentang Rp17.860-Rp17.920 per USD.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.860-Rp17.920," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (19/8/2026).

Baca Juga: Rupiah Tertekan ke Rp17.862, Pasar Tunggu Keputusan BI Besok

Pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor eksternal yang kembali diperhatikan pasar. Brent pada Selasa telah berada di atas USD90 per barel setelah sebelumnya menetap di USD90,87 per barel pada perdagangan Senin. WTI juga meningkat ke sekitar USD84,50 per barel.

Kenaikan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Berakhirnya kesepakatan gencatan senjata AS-Iran tanpa kepastian perpanjangan membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pengiriman energi di kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz menjadi titik perhatian karena merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak global. Reuters melaporkan aktivitas pelayaran di selat tersebut mengalami penurunan tajam di tengah meningkatnya ketegangan.

Di sisi lain, masih terdapat upaya diplomasi Iran dan Oman untuk mengatur jalur pelayaran di Hormuz. Namun, belum terdapat kepastian mengenai kesepakatan yang dapat menjamin normalisasi lalu lintas kapal.

Bagi pasar keuangan Indonesia, kondisi tersebut menciptakan jalur tekanan yang perlu diperhatikan. Jika harga minyak bertahan tinggi, kebutuhan pembayaran impor energi dalam dolar AS berpotensi meningkat.

Pada saat yang sama, investor juga dapat menjadi lebih berhati-hati terhadap aset negara berkembang ketika risiko geopolitik meningkat.

Tekanan rupiah tidak hanya berasal dari minyak. Pasar global juga tengah menunggu arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve. Pelaku pasar akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juli yang dijadwalkan dirilis Rabu.

Risalah tersebut akan menjadi petunjuk mengenai pandangan pejabat The Fed terhadap inflasi, suku bunga dan prospek pelonggaran moneter berikutnya.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi. Apabila inflasi global kembali mendapatkan tekanan dari energi, ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga dapat menjadi lebih terbatas.

Kondisi tersebut berpotensi membuat dolar AS tetap mendapatkan dukungan, terutama apabila investor memilih aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik.

Dengan demikian, rupiah saat ini menghadapi dua sumber tekanan eksternal sekaligus, yakni kenaikan harga minyak dan ketidakpastian arah suku bunga AS.

Di dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Bank Indonesia (BI). Bank sentral menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Agustus 2026, dengan keputusan kebijakan moneter akan diumumkan pada Rabu (19/8/2026). Jadwal tersebut merupakan agenda resmi RDG BI tahun ini.

Pada RDG Juli, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Sebelumnya, BI menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026 dan kemudian menaikkannya lagi menjadi 5,75% pada Juni.

Artinya, arah kebijakan BI pada Agustus akan menjadi perhatian pasar karena bank sentral harus menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas rupiah dengan kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

BI sebelumnya telah menggunakan kenaikan suku bunga sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat stabilitas nilai tukar ketika ketidakpastian global meningkat.

Pada saat yang sama, BI juga menyiapkan kebijakan makroprudensial untuk menjaga intermediasi perbankan dan mendorong kredit.

Data terbaru menunjukkan transmisi kenaikan BI-Rate mulai terlihat pada suku bunga kredit. Rata-rata bunga kredit perbankan meningkat menjadi 8,81% pada Juni 2026 dari 8,72% pada Mei, sementara bunga kredit baru naik menjadi 9,49% dari 9,31%.

Karena itu, keputusan mempertahankan atau mengubah BI-Rate bukan hanya akan dibaca dari sisi nilai tukar, tetapi juga dari dampaknya terhadap biaya pembiayaan dan pertumbuhan kredit.

Faktor lain yang menjadi perhatian dalam menjaga stabilitas eksternal adalah posisi utang luar negeri (ULN).

Berdasarkan data resmi BI, posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 mencapai USD444,4 miliar atau tumbuh 2,1% secara tahunan. ULN pemerintah tercatat USD217,3 miliar dengan pertumbuhan 3,7% secara tahunan.

BI menyatakan perkembangan ULN tersebut tetap terjaga, antara lain karena pertumbuhan ULN publik dan kontraksi ULN swasta yang semakin rendah.

Aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional juga menjadi salah satu faktor yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Data ULN tersebut penting dalam konteks nilai tukar karena kewajiban eksternal turut berkaitan dengan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran pokok maupun bunga utang.

Namun, besarnya ULN tidak serta-merta berarti rupiah akan melemah. Kondisi tersebut perlu dilihat bersama dengan kemampuan ekonomi menghasilkan devisa, posisi cadangan devisa, arus modal dan kondisi neraca pembayaran.

Asal tahu, rupiah pada perdagangan Selasa (18/8/2026) ditutup melemah 64 poin ke level Rp17.862 per USD dari posisi sebelumnya Rp17.798 per USD. Sebelumnya, rupiah sempat tertekan hingga sekitar Rp17.880 per USD.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.