Akurat Logo

Modal Asing Masuk USD1,8 Miliar, Rupiah Menguat ke Rp17.855

Esha Tri Wahyuni | 19 Agustus 2026, 18:38 WIB
Modal Asing Masuk USD1,8 Miliar, Rupiah Menguat ke Rp17.855
Pjs Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti

AKURAT.CO Arus investasi portofolio asing mulai memberikan dukungan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) mencatat investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 hingga 14 Agustus 2026 mengalami net inflows sebesar USD1,8 miliar.

Arus modal tersebut masuk melalui sejumlah instrumen keuangan domestik. BI menyebut penerbitan global bond pemerintah, aliran dana ke Surat Berharga Negara (SBN), serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi penopang masuknya investasi portofolio asing.

Perkembangan tersebut terjadi ketika kondisi eksternal masih menjadi perhatian bank sentral. BI menilai ketahanan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap perlu diperkuat untuk menjaga kemampuan ekonomi menghadapi perubahan kondisi global.

Baca Juga: Soal Fit and Propert Test Gubernur Bank Indonesia, Misbakhun: Minggu Depan Akan Kita Laksanakan

Pjs Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, arus masuk modal asing menjadi salah satu perkembangan yang mendukung stabilitas eksternal Indonesia.

"Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan ketahanan eksternal tetap kuat ditopang sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menghadapi gejolak global," kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring, Rabu (19/8/2026).

Dukungan dari arus modal asing menjadi penting karena kinerja perdagangan Indonesia belum sepenuhnya konsisten sepanjang 2026.

BI mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Juni 2026 secara kumulatif masih membukukan surplus USD3,58 miliar. Namun, khusus pada Juni 2026, neraca perdagangan kembali mengalami defisit sebesar USD450 juta.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan posisi eksternal Indonesia tidak hanya bergantung pada kinerja ekspor dan impor, tetapi juga pada pergerakan modal di sektor keuangan.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa memberikan bantalan bagi perekonomian dalam menghadapi tekanan eksternal.

Pada akhir Juli 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD145,3 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka tersebut juga masih berada di atas standar kecukupan internasional yang berada di sekitar tiga bulan impor.

Masuknya investasi portofolio asing turut menjadi bagian dari faktor yang mendukung pergerakan rupiah.

BI mencatat nilai tukar rupiah pada 18 Agustus 2026 berada di level Rp17.855 per USD. Posisi tersebut menguat 0,78% secara point to point (ptp) dibandingkan level pada akhir Juli 2026.

Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah sebelumnya menghadapi tekanan akibat dinamika pasar keuangan global dan pergerakan dolar AS.

Destry mengatakan BI terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendorong aliran modal masuk.

"Perkembangan ini didukung strategi Bank Indonesia dalam mengoptimalkan seluruh instrumen moneter dan memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA)," ujar Destry.

Baca Juga: Bank Indonesia Buka Lowongan Kerja, Ada 20 Lebih Jurusan yang Bisa Daftar, Ini Syaratnya

Dengan strategi tersebut, BI tidak hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing. Bank sentral juga menggunakan berbagai instrumen untuk meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik bagi investor asing sekaligus mengelola risiko nilai tukar.

Salah satu kebijakan yang ditempuh BI adalah meningkatkan insentif untuk transaksi lindung nilai.

BI menaikkan insentif untuk swap jual lindung nilai menjadi 12,5%. Sementara itu, insentif untuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) jual lindung nilai diberikan sebesar 15%.

Instrumen tersebut ditujukan untuk membantu pelaku pasar mengelola risiko nilai tukar sehingga transaksi valuta asing dapat dilakukan dengan manajemen risiko yang lebih baik.

BI juga memberikan insentif untuk memperkuat transaksi local currency transaction (LCT) dengan negara mitra.

Untuk skema tersebut, BI memberikan premi swap beli lindung nilai sebesar 10% serta pengurangan premi DNDF jual lindung nilai sebesar 10%.

Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya BI memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap transaksi berbasis dolar AS.

Jika dilihat secara keseluruhan, terdapat tiga sumber dukungan terhadap posisi eksternal Indonesia saat ini, yakni arus investasi portofolio asing, cadangan devisa, serta surplus perdagangan secara kumulatif.

Investasi portofolio asing yang mencapai USD1,8 miliar hingga 14 Agustus memberikan tambahan pasokan valuta asing di pasar keuangan.

Sementara itu, cadangan devisa sebesar USD145,3 miliar memberikan ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas ketika terjadi tekanan terhadap rupiah.

Pada saat yang sama, surplus perdagangan sebesar USD3,58 miliar pada semester I 2026 menunjukkan sektor perdagangan masih memberikan kontribusi positif terhadap posisi eksternal Indonesia, meskipun Juni mencatat defisit USD450 juta.

Namun, besarnya arus modal portofolio juga membuat kondisi pasar keuangan tetap perlu dicermati karena jenis investasi ini dapat bergerak mengikuti perubahan sentimen global, ekspektasi suku bunga, serta risiko pasar.

Karena itu, BI masih menempatkan stabilitas nilai tukar dan penguatan pasar keuangan sebagai bagian penting dari kebijakan moneternya.

"Bank Indonesia akan terus menempuh berbagai strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ke depan, nilai tukar rupiah diprakirakan tetap stabil didukung penguatan respons kebijakan stabilisasi Bank Indonesia," kata Destry.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.