Siomay Suparman, Rezeki di Tengah Ricuh Aksi Buruh di DPR

AKURAT.CO Hiruk-pikuk demonstrasi buruh di depan Gedung DPR RI, Jalan Gatot Subroto, Kamis (28/8/2025), tak hanya meninggalkan spanduk, teriakan, dan jalanan yang ditutup.
Di sela kerumunan massa, roda pedagang kecil ikut berputar. Salah satunya Suparman (41), penjual siomay keliling asal Tegal yang saban hari mangkal di sekitar Senayan.
Sejak siang, ia mendorong gerobaknya meski teriknya matahari menyengat. Ribuan buruh yang datang sempat membuat dagangannya sepi pembeli.
"Kalau saya dagang aja, mau ada demo rusuh juga tetap dagang. Ya tapi keganggu, karena siapa yang mau beli kalau suasana rusuh," ujarnya sembari menuang bumbu ke piring plastik.
Biasanya, tiap ada aksi besar di depan DPR, dagangannya ikut terdongkrak. Buruh yang lantang bersuara tetap butuh isi perut.
"Capek orasi, pasti cari makan. Ada yang pesan dua porsi, ada juga yang duduk lesehan di trotoar," tuturnya sambil tersenyum.
Baca Juga: 6 Tuntutan Buruh di DPR
Namun, di balik pasang-surut rezeki, ada rasa waswas yang tak bisa ditolak. Suparman harus gesit menggeser gerobak saat situasi memanas.
"Kalau ramai saya senang, tapi kalau sudah dorong-dorongan, saya mundur. Ngeri juga kalau kena gas air mata," katanya.
Menjelang sore, ketika massa mulai bubar, roda dagangan Suparman ikut bergerak pelan. Jalanan penuh sampah plastik bekas makanan, sementara ia menutup panci dagangan dengan kain lusuh.
"Rezeki ada saja, Mas. Buruh teriak minta haknya, saya juga ikut dapat berkah dari teriakan itu," pungkasnya.
Aksi unjuk rasa ini digelar ribuan buruh dari Koalisi Serikat Pekerja dan Partai Buruh (KSP-PB).
Mereka membawa enam tuntutan utama, mulai dari penghapusan outsourcing, kenaikan upah minimum 2026 sebesar 8,5–10,5 persen, hingga reformasi pajak perburuhan dan pengesahan sejumlah RUU penting seperti RUU Ketenagakerjaan tanpa Omnibus Law dan RUU Perampasan Aset.
Sejak pagi, massa sudah memadati Jalan Gatot Subroto. Aksi berlangsung ricuh ketika sebagian demonstran mulai melempari aparat dengan botol, petasan, hingga membakar ban.
Polisi membalas dengan tembakan gas air mata dan water cannon untuk memukul mundur massa hingga ke kawasan Senayan dan Palmerah.
Baca Juga: Jan Olde Riekerink Sayangkan Rafael Struick Absen Lawan Persija karena Panggilan Timnas U-23
Di tengah riuh itu, roda kecil seperti milik Suparman tetap berputar, menjadi saksi bahwa di balik teriakan buruh menuntut hak, ada pedagang kecil yang mencari rezeki untuk sekadar menghidupi keluarganya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









