Akurat Logo

SRC Dorong Omzet Toko Kelontong Naik 27,5 Persen dalam Tiga Tahun, Ini Strategi yang Dilakukan

Idham Nur Indrajaya | 21 Mei 2026, 20:05 WIB
SRC Dorong Omzet Toko Kelontong Naik 27,5 Persen dalam Tiga Tahun, Ini Strategi yang Dilakukan
SRC dorong omzet toko kelontong naik 27,5 persen dalam tiga tahun lewat pendampingan UMKM dan digitalisasi warung tradisional. dok. Akurat/Idham Nur Indrajaya

AKURAT.CO Di tengah ekspansi minimarket modern dan perubahan kebiasaan belanja masyarakat yang makin digital, banyak orang mengira toko kelontong perlahan akan kehilangan pelanggan. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Di berbagai daerah, warung kecil justru tetap menjadi tempat belanja harian paling dekat, paling cepat, dan paling personal bagi masyarakat.

Fenomena itu terlihat dari pertumbuhan jaringan Sampoerna Retail Community atau SRC. Melalui pendampingan usaha yang konsisten, SRC mencatat omzet toko kelontong binaannya naik 27,5 persen dalam tiga tahun terakhir. Angka tersebut menunjukkan bahwa toko tradisional tidak benar-benar kalah oleh ritel modern, asalkan mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.

Apa Itu SRC dan Kenapa Omzet Toko Bisa Naik?

SRC adalah ekosistem pendampingan UMKM toko kelontong yang dibangun oleh HM Sampoerna sejak 2008.

Berikut poin penting yang membuat omzet toko SRC meningkat:

  • Pendampingan manajemen usaha

  • Penataan toko agar lebih modern dan rapi

  • Penguatan komunitas paguyuban

  • Literasi digital melalui AYO by SRC

  • Dukungan distribusi produk lokal lewat Pojok Lokal

  • Kemudahan akses mitra dan jaringan usaha

Menurut Direktur HM Sampoerna Yohan Lesmana, pertumbuhan tersebut lahir dari pendampingan yang terus menyesuaikan kebutuhan pelaku usaha kecil.

“Pertumbuhan ini terus berlanjut secara konsisten di tengah dinamika ekonomi. Melalui pendampingan berkelanjutan dari SRC, omzet toko SRC terus mengalami kenaikan sebesar 27,5 persen dalam tiga tahun terakhir,” ujar Yohan dalam Talkshow HUT ke-18 SRC bertajuk “Bukti Nyata Transformasi dan Akselerasi untuk UMKM Indonesia” di Jakarta, Kamis, 21 Mei 2026.

Baca Juga: Menteri Maman Siapkan Diskon Biaya Marketplace untuk UMKM

Baca Juga: Grab SERABI 2026 Bantu 1.800 UMKM Perempuan Naik Kelas Lewat Strategi Bisnis Anti Boncos

Dari 57 Toko di Medan Menjadi 250 Ribu Toko di Indonesia

Salah satu hal menarik dari perjalanan SRC adalah bagaimana gerakan ini lahir dari skala yang sangat kecil.

Yohan Lesmana mengungkapkan bahwa SRC pertama kali dibangun di Medan bersama Romo Susetyo atau yang akrab dipanggil D. Romi. Saat itu, jumlah toko binaan SRC hanya 57 toko kelontong.

Kini, ekosistem tersebut berkembang menjadi:

  • lebih dari 250 ribu toko,

  • didukung 6.300 mitra,

  • serta lebih dari 10 ribu paguyuban SRC di seluruh Indonesia.

Pertumbuhan ini menarik karena menunjukkan satu hal penting: UMKM kecil sebenarnya tidak selalu membutuhkan modal besar di awal, tetapi membutuhkan sistem pendampingan yang konsisten.

Di lapangan, masalah toko kelontong sering kali bukan hanya soal stok barang atau harga. Banyak pemilik warung kesulitan mengatur:

  • pencatatan keuangan,

  • penataan produk,

  • manajemen stok,

  • hingga memahami perilaku pelanggan modern.

Di sinilah pendekatan SRC berbeda dibanding bantuan UMKM yang hanya berfokus pada modal.

Kenapa Toko Kelontong Masih Bertahan di Era Minimarket?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di tengah menjamurnya ritel modern di kota-kota besar maupun daerah.

Secara kasat mata, minimarket memang unggul dalam:

  • pendingin ruangan,

  • pencahayaan,

  • tata letak,

  • dan sistem pembayaran digital.

Namun toko kelontong punya kekuatan yang sulit digantikan algoritma maupun ekspansi jaringan modern: kedekatan sosial.

Warung dekat rumah bukan sekadar tempat membeli kopi atau mi instan. Di banyak lingkungan, toko kelontong masih menjadi pusat interaksi sosial warga.

SRC tampaknya membaca pola ini dengan cukup tepat.

Alih-alih mengubah warung menjadi minimarket sepenuhnya, SRC justru memperbaiki elemen-elemen kecil yang memengaruhi psikologi konsumen:

  • toko lebih terang,

  • rak lebih rapi,

  • harga lebih jelas,

  • produk lebih tertata,

  • dan pelayanan lebih nyaman.

Perubahan sederhana seperti ini sering kali punya dampak besar terhadap perilaku pembeli.

Dalam praktiknya, pelanggan cenderung lebih percaya pada toko yang terlihat bersih dan tertata. Mereka juga lebih mudah menemukan barang sehingga waktu belanja menjadi lebih singkat.

Hal-hal kecil seperti itu sering luput dibahas dalam narasi besar tentang digitalisasi UMKM.

Digitalisasi UMKM Ternyata Bukan Sekadar Masuk Marketplace

Salah satu insight penting dari perkembangan SRC adalah digitalisasi ternyata tidak selalu berarti semua toko harus pindah ke e-commerce.

Bagi toko kelontong kecil, transformasi digital justru sering dimulai dari hal paling mendasar:

  • pencatatan stok,

  • pembelian barang,

  • promosi sederhana,

  • hingga pembayaran digital.

Melalui ekosistem AYO by SRC, pemilik toko mulai diperkenalkan dengan pengelolaan usaha yang lebih terukur.

Pendekatan ini lebih realistis dibanding mendorong seluruh UMKM langsung bersaing di marketplace besar.

Di lapangan, banyak pelaku UMKM sebenarnya gagal bertransformasi digital karena:

  • terlalu cepat dipaksa masuk sistem kompleks,

  • tidak memahami operasional digital,

  • atau tidak punya waktu belajar teknologi yang rumit.

SRC tampaknya mengambil jalur berbeda: digitalisasi bertahap yang tetap sesuai ritme usaha kecil.

Pojok Lokal dan Dampak Ekonomi yang Jarang Dibahas

Salah satu program yang cukup menarik adalah Pojok Lokal.

Program ini menyediakan rak khusus di toko SRC untuk menjual produk UMKM warga sekitar. Artinya, toko kelontong bukan hanya tempat menjual produk pabrikan besar, tetapi juga menjadi jalur distribusi ekonomi lokal.

Menurut Yohan Lesmana:

“Rak ini menjual produk UMKM milik tetangga atau warga sekitar toko SRC.”

Dampaknya ternyata cukup besar.

Omzet Pojok Lokal meningkat 128 persen, dari Rp5,65 triliun pada 2023 menjadi Rp12,9 triliun pada 2026.

Angka ini menarik untuk dibaca lebih dalam.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya masih punya minat terhadap produk lokal, asalkan:

  • mudah ditemukan,

  • dekat dengan tempat tinggal,

  • dan dipercaya kualitasnya.

Dalam konteks ekonomi rakyat, Pojok Lokal bisa dilihat sebagai bentuk distribusi ekonomi berbasis komunitas, bukan hanya perdagangan biasa.

Baca Juga: SRC Perkuat Ekonomi Rakyat, 250 Ribu Toko Serap 1 Juta Pekerja

Baca Juga: Integrasi Holding Ultra Mikro Jangkau 34,2 Juta Pelaku Usaha, Bukti Keberpihakan BRI Terhadap Ekonomi Kerakyatan yang Terstruktur

Kontribusi SRC terhadap Ekonomi Nasional

Berdasarkan paparan SRC, total kontribusi omzet ekosistem SRC mencapai Rp251 triliun per tahun pada 2025 atau setara 9,5 persen Produk Domestik Bruto ritel nasional.

Angka tersebut naik Rp15 triliun dibanding 2023 yang berada di level Rp236 triliun.

Secara sederhana, data ini menunjukkan bahwa toko kelontong masih memegang peran besar dalam ekonomi Indonesia.

Hal ini penting karena ada anggapan bahwa masa depan ritel sepenuhnya akan dikuasai platform digital dan jaringan modern besar.

Padahal Indonesia memiliki karakter konsumsi yang berbeda.

Di banyak daerah:

  • belanja masih bersifat harian,

  • hubungan personal masih kuat,

  • dan akses ke toko dekat rumah tetap menjadi faktor utama.

Karena itu, modernisasi toko kelontong kemungkinan akan menjadi model yang lebih realistis dibanding menghilangkan warung tradisional sepenuhnya.

Pemerintah Nilai UMKM Jadi Penopang Ekonomi

Sekretaris Daerah Uus Kuswanto mengatakan UMKM tetap menjadi sektor paling tahan menghadapi tekanan ekonomi.

“Dalam berbagai situasi ekonomi yang penuh tantangan, UMKM terbukti menjadi sektor yang mampu bertahan dan menopang perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyebut pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan I 2026 mencapai 5,59 persen, didukung aktivitas perdagangan dan UMKM.

Menurut Uus, toko kelontong perlu terus bertransformasi agar:

  • lebih adaptif,

  • mampu memanfaatkan teknologi,

  • dan memiliki daya saing di tengah perkembangan ritel modern.

Pandangan ini memperlihatkan bahwa transformasi UMKM kini bukan lagi sekadar program sosial, melainkan bagian penting dari strategi ekonomi nasional.

Masa Depan Toko Kelontong Ada pada Adaptasi, Bukan Sekadar Bertahan

Ada satu hal menarik dari perjalanan SRC selama 18 tahun: perubahan terbesar ternyata bukan pada bentuk tokonya, tetapi pola pikir pelaku usahanya.

Dulu, banyak warung berjalan sekadar “asal buka”. Hari ini, toko kecil mulai belajar:

  • membaca perilaku pelanggan,

  • menata produk,

  • menggunakan data sederhana,

  • hingga membangun loyalitas pelanggan.

Transformasi seperti ini mungkin terlihat kecil dari luar. Namun bagi UMKM, perubahan operasional sederhana justru sering menjadi pembeda antara bertahan dan tutup usaha.

Di tengah ekonomi digital yang bergerak cepat, toko kelontong tampaknya belum kehilangan relevansinya. Yang berubah adalah cara mereka beradaptasi dengan zaman.

Dan di situlah pendampingan seperti SRC menemukan momentumnya.

Pantau terus perkembangan transformasi UMKM dan ekonomi rakyat Indonesia, karena perubahan besar sering kali justru dimulai dari warung kecil di dekat rumah.

Baca Juga: Menteri Maman: SAPA UMKM siap Dukung Pemasaran Digital bagi Pelaku Usaha

Baca Juga: Isu Larangan Toko Kelontong Beroperasi 24 Jam, DPR: Diskriminasi ke Pengusaha Kecil

FAQ

Apa itu SRC dan bagaimana programnya membantu toko kelontong?

Sampoerna Retail Community atau SRC adalah program pendampingan UMKM toko kelontong yang dibangun oleh HM Sampoerna sejak 2008. Program ini membantu pemilik warung melalui pelatihan manajemen usaha, penataan toko, penguatan komunitas, hingga digitalisasi lewat aplikasi AYO by SRC. Pendekatan tersebut membuat toko kelontong lebih rapi, modern, dan mampu bersaing dengan minimarket maupun perubahan perilaku belanja masyarakat.

Kenapa omzet toko SRC bisa naik 27,5 persen dalam tiga tahun?

Kenaikan omzet toko SRC sebesar 27,5 persen dalam tiga tahun terjadi karena pendampingan usaha dilakukan secara konsisten dan menyentuh kebutuhan operasional sehari-hari. Banyak toko kelontong mengalami perubahan pada tata letak barang, pencatatan stok, pelayanan pelanggan, hingga penggunaan sistem digital sederhana. Perubahan kecil seperti toko lebih terang, produk lebih tertata, dan pembayaran lebih praktis ternyata berpengaruh besar terhadap kenyamanan pelanggan dan frekuensi belanja.

Apa manfaat digitalisasi bagi UMKM toko kelontong?

Digitalisasi UMKM tidak selalu berarti harus berjualan di marketplace besar. Dalam konteks toko kelontong, transformasi digital justru dimulai dari hal sederhana seperti pengelolaan stok, pembelian barang, pembayaran digital, hingga promosi melalui aplikasi. Pendekatan ini membantu pemilik warung bekerja lebih efisien, memahami pola penjualan, dan mengurangi kesalahan operasional yang sering terjadi pada usaha kecil tradisional.

Apa itu Pojok Lokal di toko SRC?

Pojok Lokal adalah rak khusus di toko SRC yang digunakan untuk menjual produk UMKM warga sekitar. Program ini menjadi jalur distribusi baru bagi usaha kecil lokal agar produknya lebih mudah ditemukan konsumen. Berdasarkan paparan SRC, omzet Pojok Lokal meningkat dari Rp5,65 triliun pada 2023 menjadi Rp12,9 triliun pada 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa produk lokal masih memiliki pasar kuat jika didukung akses distribusi yang dekat dengan masyarakat.

Apakah toko kelontong masih bisa bersaing dengan minimarket modern?

Toko kelontong masih memiliki peluang besar untuk bersaing karena punya kedekatan sosial dengan pelanggan yang sulit digantikan ritel modern. Banyak konsumen Indonesia masih mengandalkan warung dekat rumah untuk kebutuhan harian karena lebih cepat, fleksibel, dan personal. Tantangannya bukan sekadar bertahan, tetapi bagaimana toko tradisional beradaptasi melalui penataan toko, pelayanan, serta penggunaan teknologi sederhana agar tetap relevan di era digital.

Berapa kontribusi ekonomi ekosistem SRC di Indonesia?

Ekosistem SRC disebut telah menghasilkan kontribusi omzet sekitar Rp251 triliun per tahun pada 2025 atau setara 9,5 persen Produk Domestik Bruto ritel nasional. Kontribusi tersebut menunjukkan bahwa UMKM toko kelontong masih menjadi bagian penting dari ekonomi rakyat Indonesia. Selain menciptakan perputaran ekonomi lokal, jaringan toko SRC juga membantu memperkuat distribusi produk UMKM dan membuka peluang usaha di berbagai daerah.

Kenapa UMKM dianggap penting bagi ekonomi Indonesia?

UMKM dianggap sebagai tulang punggung ekonomi nasional karena mampu bertahan saat kondisi ekonomi sedang tidak stabil. Dalam banyak krisis, sektor usaha kecil tetap bergerak karena dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Pemerintah dan pelaku industri kini melihat transformasi UMKM, termasuk toko kelontong, sebagai strategi penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi kerakyatan di era digital.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.