Anomali Mahasiswa Tolak Efisiensi Anggaran, Lebih Senang Pemerintah Menambah Utang?

AKURAT.CO Demonstrasi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) dengan tajuk "Indonesia Gelap", menolak Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran.
Aksi ini mendapat sorotan dari aktivis Reformasi 98, yang mempertanyakan alasan mahasiswa menolak kebijakan efisiensi yang bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan anggaran negara.
Ketua Umum DPP Persaudaraan 98, Wahab Talaohu, menilai, aksi mahasiswa harus tetap kontekstual dan selaras dengan semangat zaman, sebagaimana peran gerakan mahasiswa dalam sejarah Indonesia.
"Gerakan mahasiswa selalu menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa. Reformasi 98 mendorong demokratisasi, dan kini saatnya Indonesia bertransformasi menuju negara maju. Namun, gerakan ini harus tetap relevan dengan tantangan zaman,” ujar Wahab kepada Akurat.co, Selasa (18/2/2025).
Salah satu tuntutan mahasiswa dalam aksi ini adalah pencabutan Inpres Nomor 1 Tahun 2025, yang dirancang untuk mengurangi belanja negara yang tidak efektif.
Baca Juga: Wahab Talaohu: Kabinet Merah Putih Solusi Jenius Presiden Prabowo
Wahab menilai tuntutan ini sebagai anomali, mengingat efisiensi anggaran justru bertujuan untuk menyelamatkan uang rakyat dan mengurangi risiko manipulasi serta korupsi dalam APBN/APBD.
"Tuntutan mahasiswa menolak efisiensi anggaran sangat aneh. Justru efisiensi ini bertujuan agar anggaran negara digunakan dengan baik, tepat sasaran, dan tidak dihamburkan untuk pos yang tidak perlu,” tegas Wahab.
Menurutnya, tanpa efisiensi, pemerintah akan terpaksa menerbitkan utang luar negeri baru untuk menutup defisit APBN/APBD.
“Jika Inpres ini dicabut, artinya kita harus kembali mengambil utang luar negeri. Padahal, mahasiswa selama ini selalu menolak keras penambahan utang. Lalu, mengapa sekarang justru menentang kebijakan yang bisa mencegahnya?” tambahnya.
Wahab juga menegaskan, belanja pegawai dan bantuan sosial tidak termasuk dalam efisiensi anggaran, sehingga tidak ada alasan untuk mengaitkan kebijakan ini dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) pegawai pemerintah.
Lebih jauh, Wahab menekankan, efisiensi anggaran merupakan bagian dari transformasi besar yang tengah dilakukan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Ia berharap gerakan mahasiswa dapat memahami bahwa setiap kebijakan telah melalui kalkulasi matang dengan mitigasi risiko yang terukur.
Baca Juga: Wahab Talaohu: Ridwan Kamil Punya Banyak Keunggulan Dibanding Dua Pesaingnya
"Setiap bangsa yang ingin bertransformasi harus melalui pressure test agar muncul etos kerja, mentalitas, inovasi, dan produktivitas yang lebih baik. Efisiensi anggaran adalah bukti nyata bahwa Presiden Prabowo serius memimpin Indonesia menuju negara maju dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” tutup Wahab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







