Jalan Hampir 4 Bulan, Perlu Ada Evaluasi dan Pengawasan Ketat dari Program MBG

AKURAT.CO Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah berjalan hampir empat bulan, sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025 lalu. Tentunya, banyak tantangan dan hambatan yang terjadi selama program ini berjalan.
Untuk itu, perlu adanya evaluasi dan perbaikan dari program ini. Salah satunya, perbaikan kualitas makanan dan pelayanan, juga pengawasan yang lebih diperketat.
Hal ini dapat dilakukan dengan Termasuk digitalisasi pembayaran untuk mitra dan penguatan kolaborasi antara pusat dan daerah. Serta pemilihan mitra juga harus benar-benar memenuhi syarat dan standar yang ada.
Baca Juga: Pengelola Dapur MBG di Bogor Pastikan Pembayaran Lancar
"Kalau bisa yang memang bisa melaksanakan pekerjaan sendiri tanpa disubkan lagi ke pihak ketiga," ujar Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, Minggu (27/4/2025).
Menurutnya, program MBG membutuhkan bahan baku yang cukup besar dan berkelanjutan seperti beras, telur daging ayam dan lainnya. Hal ini merupakan peluang besar bagi pelaku UMKM lokal, petani, peternak.
"Maka sebisa mungkin MBG dapat memberdayakan mereka dengan cara mewajibkan para mitra untuk mengambil atau membeli langsung dari UMKM, produk petani dan peternal lokal tersebut. Sehingga mendorong perputaran ekonomi yang sehat dan berkelanjutan di tingkat bawah," ungkapnya.
Untuk menjalankan program MBG, dibutuhkan dana yang cukup besar. Pada tahun ini, pemerintah membutuhkan Rp 71 triliun untuk menjalankan program tersebut.
Dengan demikian, pemerintah diminta untuk mencari skema pendanaan lain, seperti menjalin kerja sama dengan negara lain.
Skema kerja sama luar negeri, dapat melibatkan beberapa pihak dan mekanisme, antara lain dengan Lembaga Organisasi Internasional seperti UNICEF, WFP, atau FAO, Lembaga donor internasional dan juga NGO internasional yang bergerak di bidang terkait.
Baca Juga: Cegah Kasus Keracunan Terulang, Program MBG Harus Dievaluasi Secara Berkelanjutan
"Mekanisme kerjanya, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan negara dan organisasi internasional secara bilateral dan multilateral untuk mendapatkan bantuan keuangan atau teknis," tambahnya.
Selain itu, pemerintah dirasa perlu menerapkan semacam skala prioritas untuk penerima manfaat. Hal ini dapat memprioritaskan wilayah atau daerah yang masuk dalam katagori sangat membutuhkan program MBG. Seperti daerah terpencil, terluar, dan pendapatan perkapita rendah.
"Bukan malah dimulai dari daerah perkotaan. Sehinggga tepat sasaran. Banyak anak-anak di pedesaan terpencil dan susah terjangkau itu yang ke sekolah saja tidak pernah sarapan, itu yang harus diprioritaskan," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







