Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Jakarta Diresmikan, Upaya Penguatan Perlindungan Masyarakat dari Infeksi

AKURAT.CO Infeksi dengue masih menjadi beban signifikan bagi masyarakat di seluruh dunia, menyebabkan krisis kesehatan yang parah, tekanan ekonomi dan gangguan sosial.
Insiden dengue meningkat secara signifikan di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir. Dengan jumlah kasus yang dilaporkan ke Badan Kesehatan Dunia (WHO) meningkat dari 505.430 kasus pada 2000 menjadi 14,6 juta di tahun 2024.
Bahkan, data terbaru tentang prevalensi dengue memperkirakan bahwa 5,6 miliar orang berisiko terinfeksi dengue dan arbovirus lainnya.
Dengue adalah infeksi yang disebabkan oleh virus (DENV) yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus betina yang terinfeksi. Penyakit ini lebih umum di daerah beriklim tropis dan subtropis.
Baca Juga: Dari Perempuan untuk Keluarga, Lawan Dengue Bersama
Pada sebagian orang yang mengalaminya, gejala dengue sering kali tidak tampak atau hanya berupa gejala ringan. Namun, bagi yang mengalaminya, gejala paling umum adalah demam tinggi, sakit kepala, nyeri badan, nyeri sendi, mual, muntah dan ruam kulit.
Virus dengue terdiri dari empat jenis/serotipe. Oleh karena itu, seseorang dapat terinfeksi virus dengue lebih dari satu kali dan infeksi kedua kali dapat meningkatkan risiko terjadinya gejala yang lebih parah.
Sebagai negara endemis dengue, Indonesia telah melakukan berbagai upaya penanggulangan dengue melalui pengendalian vektor nyamuk secara berkesinambungan sejak tahun 1980.
Mulai dari penggunaan larvasida dalam skala besar melalui fogging hingga penerapan program yang mendorong partisipasi aktif masyarakat seperti Gerakan 3M Plus dan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J).
Baca Juga: Hari Anak Nasional 2025: Lindungi Anak dari Dengue, Anak Hebat Menuju Indonesia Emas
Namun demikian, pengendalian serta pencegahan dengue memerlukan pendekatan yang lebih terintegrasi, tidak hanya intervensi terhadap vektor, tetapi juga pada manusianya.
Sejalan dengan Strategi Nasional Penanggulangan (Stranas Kementerian Kesehatan) Dengue, diperkenalkan inovasi baru, antara lain penerapan teknologi Wolbachia untuk menekan laju penyebaran virus.
Selain itu, sejumlah pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten telah mulai mengadopsi pencegahan lain, termasuk pelaksanaan vaksinasi dengue.
Dengan demikian, pengendalian vektor tetap menjadi pilar utama, sementara pendekatan inovatif berfungsi melengkapi upaya yang sudah berjalan.
Baca Juga: ASEAN Dengue Day 2025, Kawal Komitmen Pencapaian Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030
Walaupun berbagai langkah telah dijalankan, angka kejadian dengue masih menunjukkan tantangan yang perlu diatasi bersama.
Kemenkes mencatat, sampai dengan 22 September 2025, terdapat 115.138 kasus dengue secara nasional dengan 479 kematian.
Dari jumlah tersebut, 57 persen terjadi di Pulau Jawa, yang menunjukkan tingginya konsentrasi beban penyakit di wilayah dengan populasi padat.
Dalam hal ini, Jakarta sebagai provinsi dengan mobilitas penduduk yang tinggi membutuhkan strategi berlapis agar perlindungan terhadap masyarakat dapat lebih diperkuat.
Baca Juga: Kaukus Kesehatan DPR Dorong Strategi Terpadu Capai Nol Kematian Akibat Dengue Tahun 2030
Oleh karena itu, peresmian Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Jakarta Selatan menjadi suatu langkah terobosan yang perlu dilakukan.
Acara ini berlangsung di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Senin (29/9/2025).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta, dr. Ovi Norfiana, mengatakan bahwa dengue adalah tantangan kesehatan yang terus dihadapi setiap tahun dengan dampak signifikan bagi masyarakat Jakarta.
Tahun ini, sampai tanggal 22 September, Jakarta mencatat jumlah kasus dengue sebanyak 7.274 dengan 12 kematian.
Baca Juga: Dinkes Kutai Kartanegara Sosialisasikan Vaksinasi Dengue Sebagai Upaya Pencegahan Jangka Panjang
Pemprov Jakarta pun telah melakukan berbagai langkah pengendalian, mulai dari program pengendalian vektor nyamuk, seperti 3M Plus dan G1R1J, edukasi masyarakat yang berkelanjutan hingga intervensi berbasis teknologi.
"Salah satu inovasi yang telah kami terapkan adalah implementasi Wolbachia di wilayah Jakarta Barat, yang menjadi pilot untuk memutus rantai penularan virus dengue," ujar Ovi.
Inisiatif ini menunjukkan bagaimana strategi berbasis sains dapat melengkapi upaya konvensional yang sudah berjalan.
Ovi menyadari bahwa pengendalian dengue membutuhkan strategi yang terintegrasi. Untuk memberikan perlindungan yang lebih optimal bagi masyarakat, diperlukan pendekatan lain yang juga inovatif.
Baca Juga: Minahasa Utara Terapkan Langkah Terpadu Cegah Dengue, Targetkan Nol Kematian pada 2030
"Karena itu, kami bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melaksanakan vaksinasi dengue, beserta pemantauan aktif, di Jakarta Selatan sebagai langkah pelengkap. Kami percaya bahwa kolaborasi lintas sektor ini akan semakin memperkuat upaya perlindungan, sekaligus membuka jalan bagi masyarakat Jakarta untuk mendapatkan manfaat dari berbagai bentuk inovasi kesehatan," jelasnya.
Sejalan dengan itu, Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K), menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap dengue.
Ia menjelaskan, dengue adalah penyakit yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia, di mana seseorang tinggal maupun gaya hidup. Dan bukan hanya pada saat musim hujan tetapi juga mengancam sepanjang tahun.
"Itulah sebabnya masyarakat perlu selalu waspada karena setiap keluarga berisiko terpapar. Pencegahan sangat penting, sama pentingnya adalah memastikan bahwa setiap intervensi yang dijalankan benar-benar memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat," ujar Prof. Sri.
Baca Juga: Inisiatif Vaksinasi Dengue di Kaltim Menginspirasi Kerja Sama Regional dengan Pemerintah Selangor
Melalui pemantauan aktif vaksinasi dengue pada siswa Sekolah Dasar di Jakarta Selatan ini, FKUI bersama Dinkes Provinsi Jakarta dengan dukungan Takeda berupaya menghadirkan mekanisme pemantauan efektifitas vaksin yang lebih sistematis.
"Kami percaya, dengan langkah ini, kita dapat membangun fondasi yang lebih kuat dan berkesinambungan dalam mengurangi beban dengue di Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga akan dilakukan bersama di beberapa daerah lain yaitu Palembang dan Banjarmasin," kata Prof. Sri.
Terdapat 30 ribu anak yang masuk dalam pemantauan aktif ini, dengan rincian:
- Jakarta Selatan (15.000 anak dengan 10.000 yang mendapatkan vaksinasi)
- Palembang (7.500 anak dengan 5.000 yang mendapatkan vaksinasi)
- Banjarmasin (7.500 anak dengan 5.000 yang mendapatkan vaksinasi).
Baca Juga: Antisipasi Dengue di Musim Hujan, Langkah Bersama Cegah DBD Hadir di Kota Medan
Vaksinasi dengue akan diberikan selama tiga tahun ke depan.
Dukungan serupa disampaikan dr. Fadjar Surya Mensing Silalahi, Plh. selaku Direktur Penyakit Menular, Kemenkes.
Ia mengatakan, upaya pengendalian dengue di Indonesia terus diperkuat dari waktu ke waktu sebagai bagian dari komitmen nasional dalam melindungi kesehatan masyarakat.
Kemenkes telah menetapkan Strategi Nasional Penanggulangan Dengue (Stranas) 2021-2025 sebagai acuan bersama dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat dengue di seluruh daerah.
Baca Juga: Gerakan SIAP Lawan Dengue, Investasi untuk Kesehatan Karyawan dan Produktivitas Perusahaan
Keberhasilan strategi nasional ini tidak hanya ditentukan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan dukungan nyata dari akademisi, sektor swasta dan masyarakat agar upaya pencegahan bisa berjalan lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
"Kegiatan hari ini merupakan contoh kolaborasi yang sangat kami apresiasi. Sekaligus selaras dengan strategi global WHO untuk Neglected Tropical Diseases 2020-2030 dengan target zero dengue death in 2030. Dengan sinergi berbagai pihak, kami optimis target tersebut dapat tercapai dan beban dengue di Tanah Air dapat kita tekan," terang Fadjar.
Sebagai mitra swasta yang turut terlibat dalam kegiatan ini, PT Takeda Innovative Medicines yang diwakili dr. Arif Abdillah, selaku Head of Medical Affairs, mengatakan bahwa Takeda memiliki komitmen jangka panjang dalam mendukung Indonesia melawan dengue.
Hal ini sejalan dengan misi Takeda untuk menghadirkan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat.
Baca Juga: Kemenkes dan Takeda Serukan Tindakan Proaktif Pencegahan Dengue, Jangan Tunggu Wabah
Ia percaya bahwa peningkatan kesadaran publik tentang bahaya dengue, disertai kerja sama lintas sektor yang erat, merupakan fondasi penting untuk mencapai nol kematian akibat dengue pada tahun 2030.
"Kami bangga dapat berkontribusi bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam kegiatan ini," ujarnya.
"Kami memandang kolaborasi ini bukan sekadar sebuah kegiatan, melainkan bagian dari perjalanan panjang dalam memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat, membantu melindungi lebih banyak keluarga. Serta membantu Indonesia semakin siap menghadapi tantangan penyakit menular di masa depan," sambung Arif menjelaskan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









