Prihatin dengan Konflik PBNU, Gus Nadir: Marwah NU Ada di Tangan Rais Aam

AKURAT.CO Konflik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus memunculkan respons dari berbagai tokoh. Salah satunya datang dari akademisi sekaligus tokoh NU yang menetap di Australia, Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, atau Gus Nadir, yang menyampaikan pandangan tegas mengenai arah jam’iyah di tengah memanasnya dinamika organisasi.
Dalam pernyataan tertulisnya, Gus Nadir menegaskan bahwa dirinya memilih berada di barisan Rais Aam serta dua Wakil Rais Aam PBNU. Ia menyampaikan bahwa hiruk pikuk tafsir prosedur dan manuver aktivis organisasi tidak boleh menggeser posisi Syuriyah sebagai pemegang otoritas tertinggi.
“NU ini kan Nahdlatul Ulama, bukan Nahdlatul prosedur AD/ART,” kata dia, dikutip dalam keterangan tertulis, Selasa (9/12/2025).
Baca Juga: Hari Ini Syuriyah PBNU Gelar Rapat Pleno, Tentukan Pj Ketum PBNU Pengganti Gus Yahya
Gus Nadir menilai bahwa sejak awal berdiri, NU adalah jam’iyyah ulama. Karena itu, marwah dan arah organisasi seharusnya tetap dikendalikan oleh para ulama, bukan bergeser menjadi organisasi teknokratis yang ribut di seputar pasal dan tata tertib.
Ia menekankan bahwa bahaya terbesar bagi NU adalah ketika keputusan-keputusan Syuriyah dimentahkan oleh tafsir prosedural atau kekuatan voting para aktivis.
“Kebenaran yang dijaga oleh Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam akan dimentahkan oleh tafsir prosedur dan kekuatan voting para aktivis,” ujarnya.
Menurutnya, jika pola tersebut dibiarkan, peran Syuriyah sebagai penjaga tradisi keulamaan akan terus terpinggirkan. “Lama-lama peranan Syuriyah akan terus dibatasi dan dipinggirkan oleh para aktivis,” katanya.
Gus Nadir dengan tegas menyatakan lebih memilih berpegang pada kepemimpinan ulama meskipun ijtihad mereka tidak sempurna, daripada mengikuti aktivis yang sekalipun secara administratif tampak benar.
“Saya memilih lebih baik bersama Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam meskipun seandainya ijtihad beliau salah, ketimbang bersama para aktivis organisasi meskipun seandainya ijtihad mereka benar,” ujarnya.
Baca Juga: Konflik PBNU, Gus Yahya Titipkan Keutuhan NU kepada Kiai Sepuh
Ia menutup pernyataannya dengan refleksi mendalam mengenai arah masa depan jam’iyah, menyinggung bahwa esensi spiritual NU bisa lenyap jika khidmat hanya berputar pada aturan teknis tanpa ketundukan kepada para ulama.
“Kalau ber-NU bukan lagi berkhidmat pada ulama, tapi berkhidmat pada AD/ART, saya tidak tahu lagi di mana keramat dan berkatnya ber-NU ini,” tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








