Pemerintah Diminta Ambil Langkah Lebih Berani dalam Merespons Konflik Timur Tengah

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia diminta untuk melakukan diplomasi secara aktif, dalam merespons konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Pemerintah diharapkan bisa mengambil langkah yang berani dan bukan sebatas simbolik.
"Meminta pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomasi aktif yang berani dan tidak sekadar simbolik," ujar Ketua DPP Partai Gema Bangsa Bidang Luar Negeri, Ary Oskandar, melalui keterangannya, Senin (2/3/2026).
Sebagaimana diketahui, ketegangan berlangsung pasca Israel dan Amerika Serikat (AS) melakukan serangan militer ke Iran. Tak tinggal diam, Iran juga melakukan serangan balasan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di negara-negara Timur Tengah, seperti Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain.
Baca Juga: F1 GP Australia: Timur Tengah Membara, Ribuan Personel Putar Otak Cari Jalur Aman Menuju Melbourne
Di tengah situasi yang semakin panas, Ary mendesak Pemerintah untuk memastikan keselamatan WNI yang ada di negara-negara yang tengah berkonflik. Selain itu, Ary juga berharap pemerintah bisa menjaga stabilitas ekonomi nasional.
"Menuntut langkah konkret pemerintah untuk melindungi WNI dan menjaga stabilitas ekonomi nasional dari dampak gejolak energi, inflasi, dan tekanan nilai tukar," ucapnya.
Sementara itu, DPP Gema Bangsa mengutuk tanpa kompromi setiap tindakan agresi militer dan pelanggaran kedaulatan negara yang memicu eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Ary mengatakan, penggunaan kekuatan bersenjata yang melampaui prinsip hukum internasional adalah bentuk arogansi kekuasaan yang mengancam perdamaian dunia dan membahayakan keselamatan umat manusia.
"Kami menegaskan bahwa setiap bentuk intervensi bersenjata yang mengabaikan kedaulatan negara lain adalah pelanggaran serius terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan merupakan ancaman langsung terhadap stabilitas global," tuturnya.
Ary menegaskan bahwa tidak ada yang dapat membenarkan tindakan perang dan memperbesar korban sipil. "Perang bukan solusi. Perang adalah kegagalan diplomasi dan kegagalan kepemimpinan," ungkapnya.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri menyampaikan keterangan resmi pasca meletusnya serangan militer ke Iran yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS). Pemerintah Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi. "Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai," tulis Kemlu melalui keterangannya, Sabtu (28/2/2026).
Presiden Prabowo Subianto disebut bersedia untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kondisi keamanan yang kondusif. Bahkan, dia juga siap jika harus bertolak ke Teheran, Iran, guna memediasi secara langsung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





