Akurat Logo

Kembali Reshuffle Kabinet, Presiden Prabowo Masih Mencari Tim Terbaik

Wahyu SK | 28 April 2026, 21:56 WIB
Kembali Reshuffle Kabinet, Presiden Prabowo Masih Mencari Tim Terbaik
Presiden Prabowo Subianto mengambil sumpah jabatan dalam pelantikan Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (27/4/2026). Foto: Akurat.co/Moehamad Dheny Permana

AKURAT.CO Perombakan (reshuffle) kabinet sebanyak lima kali dalam kurun waktu 1,5 tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi sinyal belum solidnya kinerja tim eksekutif dalam menopang agenda besar pemerintah.

Menurut pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif SCL Taktika, Iqbal Themi, publik mulai mempertanyakan efektivitas kerja para pembantu presiden dalam menerjemahkan janji-janji strategis pemerintah.

Iqbal menyebut salah satu indikator utama adalah belum optimalnya kinerja tim. Terlihat dari energi pemerintahan yang lebih banyak terserap pada konsolidasi internal.

"Jika energi pemerintahan terus habis untuk konsolidasi internal, publik akan membaca bahwa presiden belum menemukan tim becus yang benar-benar mampu langsung berlari mengikuti ritme kerja pemerintahannya," jelas Iqbal, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Ia menilai bahwa pola perombakan kabinet yang berulang juga mencerminkan belum stabilnya proses pembentukan tim kerja terbaik yang efektif.

Baca Juga: Presiden Prabowo Dorong Genteng Hasil Olahan Sampah Masuk Anggaran Program Perbaikan Rumah

"Pola bongkar pasang kabinet yang terjadi secara intens dalam waktu singkat ini menegaskan bahwa proses pembentukan tim masih berada dalam fase trial and error. Presiden seperti melakukan eksperimen formasi di tengah situasi yang sangat krusial. Dampaknya, konsolidasi kinerja belum mencapai titik stabil," jelasnya.

Lebih lanjut, Iqbal menyebut ketidakstabilan komposisi tim ini berdampak langsung pada lemahnya konsistensi implementasi kebijakan di level birokrasi.

"Frekuensi kocok ulang kabinet ini membuat birokrasi tidak memiliki cukup waktu untuk membangun konsistensi implementasi kebijakan. Dalam konteks ini, negara berisiko mengalami gangguan pada policy continuity," katanya.

Ia juga menyoroti fenomena pergantian gerbong yang kerap menyertai setiap pergantian pejabat, sehingga berdampak pada terputusnya kesinambungan kerja tim.

"Setiap pergantian membawa pendekatan baru yang tidak selalu sejalan dengan arah sebelumnya. Sehingga tim tidak pernah benar-benar berada dalam satu ritme kerja yang konsisten," ujar Iqbal.

Baca Juga: Prabowo: Dalam Dua Sampai Tiga Tahun Kita Harus Kendalikan Sampah di Seluruh Indonesia

Dalam konteks yang lebih luas, Iqbal menekankan bahwa efektivitas tim pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh individu tetapi juga stabilitas sistem kerja yang menopangnya.

"Di tengah tekanan ekonomi-politik, baik domestik maupun global, pemerintah membutuhkan tim yang tidak hanya kompeten tetapi juga tetapi juga mampu bekerja cepat dan stabil dalam mengeksekusi kebijakan," ujarnya.

Transparansi dalam evaluasi kinerja juga menjadi faktor penting dalam menjaga legitimasi tim pemerintahan.

"Publik berhak mengetahui apakah reshuffle ini berbasis pada kinerja yang terukur atau sekadar bagian dari kalibrasi politik. Jika dimensi politik terlalu dominan, maka risiko yang muncul adalah tergerusnya kepercayaan publik terhadap efektivitas pemerintahan," jelas Iqbal.

Dalam konteks tersebut, ia menekankan bahwa persoalan utama yang ada saat ini terletak pada kemampuan tim pemerintahan untuk segera mencapai stabilitas kerja yang dibutuhkan dalam mengeksekusi agenda strategis.

Baca Juga: Presiden Prabowo Siapkan Anggaran Rp4 Triliun Benahi Infrastruktur Perkeretaapian

"Pemerintah perlu memastikan tim yang ada benar-benar siap bekerja secara fokus, stabil dan konsisten dalam mengeksekusi agenda strategis. Fase uji coba bongkar pasang kabinet sudah seharusnya diakhiri," demikian Iqbal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

W
Reporter
Wahyu SK
W
Editor
Wahyu SK