Akurat Logo

Studi HCC: 60 Persen Anak Muda Lebih Pilih Swadiagnostik Saat Sakit Dibanding ke Berobat ke Dokter

Siti Nur Azzura | 13 Mei 2026, 20:35 WIB
Studi HCC: 60 Persen Anak Muda Lebih Pilih Swadiagnostik Saat Sakit Dibanding ke Berobat ke Dokter
Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH.

AKURAT.CO Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) menemukan bahwa hampir 60 persen anak muda usia di bawah 40 tahun, memilih melakukan swadiagnosis atau self-diagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan, dan tidak langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan.

Penelitian ini dilakukan pada Maret–Mei 2026 melalui pendekatan mixed-method yang melibatkan survei terhadap 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, fenomena swadiagnostik di kalangan anak muda urban Indonesia menjadi perhatian serius, dan tidak bisa dipandang sekadar perubahan perilaku digital biasa.

Baca Juga: PGN Salurkan Layanan Kesehatan Anak Lewat Program Khitan Massal di Momen HUT ke-61

"Swadiagnostik saat ini sudah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban. Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi 'dokter pertama' bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan," kata Ray.

Studi HCC dengan research associate Yoli Farradika ini menemukan bahwa Google dan mesin pencari berbasis AI, menjadi sumber utama swadiagnosis, diikuti website kesehatan dan konten digital lainnya.

Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernafasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis. Fenomena ini sejalan dengan istilah global cyberchondria, yaitu kondisi meningkatnya kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis secara berlebihan di internet.

Yang menjadi perhatian, studi ini juga menemukan bahwa ternyata 36 persen responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa ke dokter. Sementara 27 persen mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi internet.

Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa 57 persen hasil swadiagnostik ternyata dikonfirmasi benar oleh dokter. Menurutnya, temuan ini menjelaskan mengapa perilaku swadiagnostik semakin menguat.

"Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu di masyarakat, karena sebenarnya yang dinaggap cocok dengan dokter itu bsia jadi hanya hasil skrining risiko penyakit dan bukan diagnosis," jelasnya.

Baca Juga: Raperda Sistem Kesehatan Daerah Jakarta Didorong Fokus Pencegahan dan Kualitas Layanan

Penelitian juga menunjukkan bahwa responden dengan riwayat penyakit kronis, memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnostik dibanding kelompok lainnya. Hal ini menggambarkan adanya kelelahan sistemik (system fatigue) di masyarakat urban modern.

"Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre, biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal," ujar Ray yang merupakan pengajar kedokteran komunitas ini.

Penelitian juga menemukan bahwa lebih dari separuh responden merasa swadiagnosis lebih nyaman dibanding datang langsung ke fasilitas kesehatan karena dianggap lebih praktis, lebih hemat biaya, dan tidak perlu antre.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.