Akurat Logo

Menteri Pariwisata: Indonesia Masih Jadi Destinasi Menarik, Kunjungan Wisman April Tercatat 1,25 Juta

Ayu Rachmaningtyas | 6 Juni 2026, 14:38 WIB
Menteri Pariwisata: Indonesia Masih Jadi Destinasi Menarik, Kunjungan Wisman April Tercatat 1,25 Juta
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, memastikan Indonesia tetap menjadi destinasi yang menarik. Foto: Kemenpar

AKURAT.CO Capaian kinerja kepariwisataan tumbuh positif hingga April 2026, baik dari sisi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), capaian devisa pariwisata, maupun pergerakan wisatawan Nusantara.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menilai hal itu menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi yang kompetitif, menarik, dan dipercaya oleh pasar internasional. Terkait ketahanan dan daya saing yang kuat di tengah dinamika geopolitik global.

Widiyanti menyampaikan Laporan Bulanan Kinerja Kementerian Pariwisata. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisman pada April 2026 mencapai 1,25 juta kunjungan atau meningkat 7,22 persen dibandingkan April 2025 yang tercatat sebanyak 1,16 juta kunjungan.

Secara kumulatif, sepanjang Januari-April 2026 jumlah kunjungan wisman mencapai 4,68 juta atau tumbuh 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 4,33 juta kunjungan.

Dari sisi pintu masuk pada bulan April 2026, Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali masih menjadi gerbang utama kedatangan wisman dengan 552.961 kunjungan. Posisi berikutnya ditempati Bandara Soekarno-Hatta dengan 227.830 kunjungan dan Batam melalui jalur laut dengan 110.535 kunjungan.

Baca Juga: Pemerintah Pastikan Pariwisata Buka Lapangan Kerja Baru dan Perkuat Ekonomi Desa

Sementara itu, Malaysia menjadi negara asal wisman terbesar dengan 207.957 kunjungan, diikuti Australia sebanyak 157.960 kunjungan, Tiongkok 133.986 kunjungan, Singapura 111.439 kunjungan, dan Timor-Leste 75.477 kunjungan.

Peningkatan kunjungan wisatawan tersebut turut memberikan dampak positif terhadap penerimaan devisa negara. Bank Indonesia mencatat devisa pariwisata pada Triwulan I 2026 mencapai 4,05 miliar dolar AS atau sekitar Rp68,28 triliun, meningkat 6,30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,81 miliar dolar AS atau sekitar Rp62,29 triliun.

Di sisi lain, pergerakan wisatawan nusantara juga terus menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, jumlah perjalanan wisnus mencapai 417,06 juta perjalanan atau tumbuh 1,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Pariwisata Indonesia saat ini berada pada jalur pertumbuhan yang sangat positif. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan kunjungan wisman serta meningkatnya rata-rata pengeluaran wisatawan per kunjungan. Ini membuktikan bahwa strategi penguatan kualitas destinasi mulai membuahkan hasil," jelas Widiyanti, melalui keterangan resmi, Sabtu (6/6/2026).

Ia menuturkan, sepanjang Mei 2026, Kementerian Pariwisata terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk mendukung program pembangunan nasional. Upaya tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan angka kunjungan wisatawan, tetapi juga diarahkan pada penguatan keberlanjutan dan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga: Kementerian Pariwisata Taiwan Bidik Peluang Pasar Wisata 280 Juta Jiwa Indonesia

Komitmen tersebut diperkuat melalui penyelenggaraan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026 pada 20–21 Mei 2026 yang menjadi forum strategis penyelarasan kebijakan menuju target pembangunan pariwisata nasional tahun 2029.

"Melalui rakornas, Kementerian Pariwisata menegaskan pentingnya penyelarasan kebijakan, penguatan dampak ekonomi program, optimalisasi pembiayaan, serta percepatan pembangunan infrastruktur pariwisata agar pembangunan pariwisata semakin berkualitas, berdaya saing, dan berdampak luas," kata Widiyanti.

Dalam mendorong penerapan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, Widiyanti juga melakukan kunjungan kerja ke Desa Wisata Arborek di Raja Ampat, Papua Barat Daya.

"Di Raja Ampat, fokus kami adalah menjaga kelestarian lingkungan, mengendalikan daya dukung destinasi, serta mengantisipasi overtourism. Kita ingin manfaat pariwisata bertumpu pada kualitas pengalaman dan keberlanjutan destinasi, bukan sekadar kuantitas," ujar Widiyanti.

Kementerian Pariwisata juga terus memperkuat ekosistem pariwisata ramah muslim melalui kolaborasi dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Salah satu implementasinya terlihat di Desa Wisata Jatimulyo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Baca Juga: Jakarta Gandeng Jeju, Pramono Genjot Kerja Sama Global dari Pariwisata hingga Energi Hijau

Hingga 29 Mei 2026, kolaborasi tersebut telah menghasilkan 31.548 sertifikat halal yang diterbitkan bagi pelaku usaha di 1.116 desa wisata yang tersebar di 34 provinsi.

Ia menegaskan, program kerja Kementerian Pariwisata tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan angka kunjungan wisatawan tetapi juga memastikan bahwa pariwisata menjadi penggerak ekonomi yang lebih merata.

Melalui koordinasi pusat dan daerah, penguatan desa wisata, sertifikasi produk lokal, serta aktivasi event daerah, pariwisata Indonesia terus didorong agar semakin inklusif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Program ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem pariwisata ramah muslim sekaligus membuka peluang yang lebih besar bagi UMKM lokal untuk masuk ke dalam rantai nilai pariwisata," kata Widiyanti.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.