Era Digital Ubah Cara Kerja Wartawan, Kecepatan Tak Lagi Jadi Segalanya

AKURAT.CO Ekosistem informasi yang semakin dipenuhi konten digital menuntut perubahan mendasar dalam cara kerja wartawan.
Di tengah banjir informasi dan maraknya disinformasi, jurnalisme berkualitas bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga kesehatan demokrasi.
Mantan Kepala Litbang The Jakarta Post, Fransiskus Surdiasis, menyebut terdapat tiga alasan utama mengapa jurnalisme berkualitas semakin penting pada era digital saat ini.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan materi secara virtual bertajuk Konsep Dasar Kerja Wartawan yang Berbasis Fakta dan Data dalam program Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch III 2026 yang diikuti belasan peserta terpilih.
Alasan pertama, menurut Frans, adalah fenomena abundance of information atau melimpahnya informasi akibat perkembangan teknologi yang memungkinkan produksi informasi terjadi dalam jumlah sangat besar.
"Nah di tengah kelimpahan informasi tersebut, publik atau audiens itu sebetulnya memiliki kebutuhan yang semakin besar tentang apa yang penting. Dari sekian timbunan informasi yang ada, apa yang sungguh penting dan relevan? Di sinilah jurnalisme berkualitas menjadi jauh lebih penting," ujar Frans, dikutip Minggu (7/6/2026).
Alasan kedua adalah meningkatnya penyebaran hoaks dan disinformasi.
Menurutnya, jurnalisme harus hadir sebagai penjernih di tengah derasnya arus informasi yang tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara alasan ketiga adalah fenomena democracy backsliding atau kemunduran demokrasi yang terjadi di berbagai negara.
Dalam konteks tersebut, jurnalisme berkualitas berperan sebagai fondasi penting bagi kehidupan demokrasi.
"Jurnalisme berkualitas itu bisa kita anggap sebagai salah satu infrastruktur epistemik. Saya suka istilah infrastruktur epistemik. Ini bukan infrastruktur fisik, tetapi infrastruktur pengetahuan," tuturnya.
Baca Juga: Prabowo: Sekolah Rakyat Dibangun untuk Membantu Masyarakat Paling Tidak Berdaya
Wartawan Harus Bertransformasi
Frans yang juga menjadi mentor dalam program JFC mendorong para jurnalis untuk mulai mengubah pola pikir dengan mengembangkan jurnalisme berbasis data.
Menurutnya, penggunaan data menjadi salah satu jalan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang lebih berkualitas dan relevan bagi kebutuhan publik.
Ia menilai, di tengah persaingan dengan berbagai platform digital, menjadi pihak pertama yang melaporkan sebuah peristiwa bukan lagi keunggulan utama seorang wartawan.
Sebaliknya, tugas jurnalis saat ini adalah memberikan makna dan konteks terhadap setiap peristiwa melalui pengelolaan data dan informasi secara mendalam.
"Dengan penggunaan data, fokus pekerjaan wartawan bergeser dari orang pertama yang melaporkan suatu kejadian menjadi orang yang menyampaikan makna dari sebuah kejadian. Jadi fokus kita bekerja berbeda," jelasnya.
Menurut Frans, perubahan tersebut juga menuntut transformasi kemampuan wartawan, dari yang sebelumnya berfokus mencari informasi (information seeking) menjadi mengelola informasi (information management).
Kemampuan mengolah data dan menyajikannya menjadi sebuah perspektif atau insight, kata dia, merupakan kompetensi penting agar profesi wartawan tetap relevan di tengah perubahan lanskap media.
"Jadi dari information seeking ke information management. Kalau dulu tugas kita terutama mencari informasi, tugas saat ini adalah mengelola informasi," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







