Akurat Logo

Sejarah Bandung Lautan Api dan Perjuangan Rakyat Mempertahankan Kemerdekaan

Redaksi Akurat | 12 Agustus 2026, 15:13 WIB
Sejarah Bandung Lautan Api dan Perjuangan Rakyat Mempertahankan Kemerdekaan
Bandung Lautan Api

AKURAT.CO Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak langsung membuat bangsa Indonesia terbebas dari ancaman kekuatan asing.

Setelah kemerdekaan, berbagai wilayah Indonesia masih menghadapi kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi oleh NICA atau Netherlands Indies Civil Administration. Salah satu konflik besar terjadi di Bandung dan kemudian dikenal sebagai Bandung Lautan Api.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bentuk perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.

Rakyat Bandung bersama para pejuang memilih meninggalkan dan membumihanguskan sebagian wilayah kota daripada membiarkannya dimanfaatkan oleh pihak lawan.

Peristiwa tersebut berlangsung pada 23 hingga 24 Maret 1946 dan menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Bertandang ke Gelora Bandung Lautan Api, Persija Ingin Perbaiki Posisi Klasemen

Latar Belakang Bandung Lautan Api

Latar belakang Bandung Lautan Api tidak dapat dilepaskan dari kedatangan pasukan Sekutu ke Bandung pada Oktober 1945. Pasukan tersebut datang dengan alasan melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang.

Namun, kedatangan mereka juga disertai NICA yang memiliki kepentingan untuk mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia.

Kehadiran NICA menimbulkan kecurigaan dan penolakan dari rakyat Bandung. Situasi semakin tegang karena pasukan Sekutu meminta rakyat menyerahkan senjata yang sebelumnya diperoleh dari tentara Jepang.

Rakyat dan para pejuang Indonesia menolak tuntutan tersebut karena tidak ingin kehilangan alat pertahanan setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan.

Ketegangan kemudian berkembang menjadi berbagai pertempuran. Pasukan Indonesia mendirikan pos pertahanan dan melakukan perlawanan di sejumlah wilayah Bandung. Bentrokan juga terjadi di Cicadas, Lengkong, Tegalega, Sukajadi, Pasir Kaliki, dan beberapa kawasan lainnya.

Ultimatum Sekutu kepada Rakyat Bandung

Konflik semakin meningkat setelah Sekutu mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Bandung. Pada 21 November 1945, Sekutu meminta penduduk Bandung bagian utara mengosongkan wilayah tersebut dan berpindah ke Bandung Selatan.

Ultimatum ini ditolak oleh banyak pejuang karena dianggap sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintahan dan rakyat Indonesia.

Wilayah Bandung kemudian terbagi menjadi dua bagian dengan jalur rel kereta api sebagai salah satu batasnya. Bandung Utara dikuasai oleh Sekutu, sedangkan Bandung Selatan menjadi wilayah yang ditempati pasukan Indonesia.

Pertempuran terus berlangsung hingga memasuki awal 1946. Posisi Sekutu juga menghadapi perlawanan dari pasukan Indonesia. Kondisi tersebut membuat Sekutu kembali memberikan tekanan agar pasukan Indonesia meninggalkan Bandung.

Munculnya Ultimatum Kedua

Puncak ketegangan terjadi ketika Sekutu mengeluarkan ultimatum kedua pada 23 Maret 1946. Pasukan Indonesia diminta meninggalkan Bandung Selatan sejauh sekitar 10 hingga 11 kilometer dari pusat kota dan menyelesaikan pengosongan wilayah tersebut pada 24 Maret 1946.

Ultimatum tersebut menimbulkan persoalan bagi pemerintah dan para pejuang. Pemindahan pasukan serta rakyat dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Kolonel A.H. Nasution juga menilai bahwa kondisi tersebut sangat sulit dilaksanakan.

Pemerintah Republik Indonesia kemudian mempertimbangkan keselamatan pasukan dan keberlangsungan perjuangan. Pada akhirnya, para pemimpin TRI, laskar, dan aparat pemerintahan mengambil keputusan untuk mengosongkan Bandung Selatan.

Namun, sebelum meninggalkan wilayah tersebut, berbagai bangunan penting akan dihancurkan agar tidak dapat dimanfaatkan oleh Sekutu.

Kronologi Peristiwa Bandung Lautan Api

Kronologi Bandung Lautan Api berlangsung dalam suasana yang penuh ketegangan. Rakyat terlebih dahulu dievakuasi dari wilayah Bandung Selatan. Mereka meninggalkan rumah dan membawa barang yang dapat diselamatkan menuju daerah di sekitar Bandung.

Pembumihangusan kemudian dilakukan sebelum pasukan dan masyarakat meninggalkan kota. Salah satu ledakan awal terjadi di Gedung Bank Rakyat. Setelah itu, pembakaran menyebar ke sejumlah kawasan, seperti Banceuy, Cicadas, Braga, dan Tegalega.

Menurut sejumlah sumber sejarah, pembakaran dilakukan lebih awal dari waktu yang sebelumnya direncanakan. Kobaran api kemudian terlihat di berbagai bagian kota sehingga Bandung tampak seperti lautan api. Kondisi tersebut menjadi asal mula munculnya istilah Bandung Lautan Api.

Peristiwa tersebut bukan sekadar pembakaran kota. Di tengah proses pengosongan Bandung, para pejuang tetap melakukan perlawanan.

Salah satu perlawanan terkenal terjadi di kawasan Dayeuhkolot yang menjadi lokasi gudang amunisi milik pihak Sekutu. Mohammad Toha bersama pejuang lainnya terlibat dalam upaya menghancurkan gudang tersebut dan gugur dalam perjuangan.

Baca Juga: Sejarah Bandung Lautan Api: Ketika Kota Dibakar Demi Kemerdekaan

Tokoh yang Berperan dalam Bandung Lautan Api

Salah satu tokoh penting dalam peristiwa Bandung Lautan Api adalah Kolonel A.H. Nasution. Pada saat itu, ia menjadi salah satu pemimpin militer yang menghadapi situasi sulit akibat ultimatum Sekutu.

Nasution bersama para pemimpin lainnya kemudian mengambil keputusan untuk mengosongkan Bandung dan melakukan pembumihangusan sebelum pasukan Indonesia mundur.

Selain A.H. Nasution, terdapat pula Aruji Kartawinata dan Suryadarma yang turut terlibat dalam pengambilan keputusan terkait kondisi Bandung.

Di tingkat lapangan, banyak anggota TRI (Tentara Republik Indonesia), laskar, dan masyarakat sipil yang berperan dalam proses evakuasi serta pembumihangusan kota.

Mohammad Toha juga menjadi salah satu tokoh yang dikenang dalam peristiwa tersebut. Ia dikenal karena keberaniannya dalam menyerang gudang amunisi Sekutu di Dayeuhkolot. Perjuangannya berakhir dengan gugurnya dirinya ketika menjalankan aksi tersebut.

Alasan Bandung Dibumihanguskan

Keputusan membumihanguskan Bandung dilakukan karena para pejuang tidak ingin kota tersebut dimanfaatkan oleh Sekutu dan NICA sebagai pusat kekuatan militer.

Apabila bangunan, fasilitas, gudang, dan sejumlah tempat strategis tetap tersedia, pihak lawan dapat menggunakannya untuk memperkuat posisi mereka.

Pembumihangusan juga menjadi bentuk strategi perjuangan. Rakyat dan pasukan Indonesia memilih meninggalkan wilayah tersebut sambil memastikan pihak lawan tidak memperoleh keuntungan dari fasilitas yang ditinggalkan.

Keputusan tersebut tentu memiliki konsekuensi besar. Masyarakat harus meninggalkan rumah dan lingkungan tempat mereka tinggal.

Banyak bangunan dan fasilitas mengalami kerusakan atau terbakar. Namun, bagi para pejuang saat itu, pengorbanan tersebut dianggap sebagai bagian dari usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Makna Bandung Lautan Api bagi Perjuangan Kemerdekaan

Bandung Lautan Api memiliki makna penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan yang telah diproklamasikan harus dipertahankan melalui berbagai bentuk perjuangan.

Rakyat Bandung menunjukkan bahwa mereka tidak ingin kembali berada di bawah kekuasaan kolonial. Bahkan ketika harus meninggalkan rumah dan membakar berbagai fasilitas yang dimiliki, mereka tetap memilih mempertahankan kemerdekaan.

Peristiwa tersebut juga memperlihatkan hubungan erat antara rakyat dan pejuang dalam menghadapi ancaman dari pihak asing. Evakuasi masyarakat, perlawanan bersenjata, serta pembumihangusan dilakukan dalam situasi yang penuh tekanan.

Bandung Lautan Api merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Peristiwa ini dipicu oleh kedatangan Sekutu yang diboncengi NICA, meningkatnya ketegangan dengan rakyat Bandung, serta ultimatum agar pasukan dan masyarakat Indonesia meninggalkan Bandung Selatan.

Pada 23 hingga 24 Maret 1946, rakyat dan pejuang kemudian mengosongkan Bandung sambil membumihanguskan sejumlah bagian kota. Keputusan tersebut dilakukan agar fasilitas penting tidak dapat digunakan oleh pihak lawan.

Peristiwa ini kemudian dikenang sebagai Bandung Lautan Api dan menjadi simbol keberanian, pengorbanan, serta semangat rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Amalia Febriyani (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R