Akurat Logo

Peluang Seniman di Era Digital Semakin Terbuka Lebar

Ayu Rachmaningtyas | 20 Agustus 2026, 15:02 WIB
Peluang Seniman di Era Digital Semakin Terbuka Lebar
Pelukis Naufal Abshar menyebut perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia memberi ruang lebih besar bagi dunia seni. - Foto: Akurat.co

AKURAT.CO Peluang bagi seniman untuk berkembang di bidang ekonomi kreatif (ekraf) sangat terbuka luas, terutama di tengah perkembangan digitalisasi dan media sosial.

Namun, banyaknya informasi dan pelaku seni menjadi tantangan tersendiri.

Demikian dikatakan seniman sekaligus pelukis, Naufal Abshar, saat berbincang dengan awak media di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

"Peluangnya sih selalu ada dan selalu luas. Karena mungkin sekarang era digitalisasi dan social media itu sangat luas ya," ujarnya.

Menurut Naufal, perkembangan dunia digital menjadikan peluang seniman untuk dikenal dan sukses semakin besar. Meski di sisi lain seniman harus menghadapi banyaknya informasi, distraksi, dan kompetitor.

Baca Juga: SBY Art Community Gelar Kolaborasi Lintas Generasi dan Budaya, Suarakan Pesan Perdamaian Lewat Seni Lukis

"Jadi, kemungkinan untuk bisa successful-nya bisa lebih besar. Tapi downside-nya adalah banyaknya informasi dan banyaknya distraksi itu juga membuat kita sebagai seniman tersendiri kesulitan. Dan banyaknya juga bisa dibilang kompetitor gitu," jelasnya.

Selain itu, perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia juga mulai memberi ruang lebih besar bagi dunia seni. Masyarakat semakin terbuka terhadap karya seni, sementara sejumlah brand dan kolektor mulai menghargai serta mengoleksi karya seniman.

"Tapi in a way untuk ekonomi kreatif di Indonesia ini cukup berkembang. Karena sekarang orang lebih open minded. Juga banyak brand-brand atau misalnya kolektor-kolektor yang cukup menghargai seni dan mencoba untuk mengkoleksi karya seni," tuturnya.

Di sisi lain, persoalan pajak dan biaya produksi juga menjadi tantangan bagi para seniman karena sebagian besar bekerja sebagai pekerja bebas. Dalam hal ini, harga alat dan kebutuhan melukis juga terus meningkat.

Kondisi tersebut kemudian ditambah dengan kewajiban pajak yang harus dibayarkan seniman.

Baca Juga: Rindekraf 2026-2045 Beri Kepastian Kebijakan dan Perlindungan bagi Pelaku Ekonomi Kreatif

"Banyak seniman-seniman tersendiri sekarang mau beli alat lukis sudah mahal. Apa-apa sudah mahal. Terus habis itu kita dipotong pajak dan segala macam," keluh Naufal.

Selain dukungan terkait beban ekonomi, Naufal mendorong semakin banyaknya pameran dan kegiatan seni untuk digelar. Ia juga berharap pendidikan bidang seni lebih diperkenalkan kepada generasi muda.

"Jadi itu one thing. Kedua adalah mungkin banyaknya acara-acara seperti SBY Community ini. Jadi banyaknya pameran-pameran," katanya.

"Lebih juga dibantu untuk kayak kurikulum seni ini lebih diborkan kepada younger generations. Jadi mereka lebih apresiasi seni lagi untuk kedepannya," tambahnya.

Karena itu, Naufal berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih besar kepada para seniman, terutama terkait beban biaya yang harus ditanggung pekerja seni.

Baca Juga: Percepat Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Nasional, Menteri Ekraf Jajaki Kolaborasi dengan Youtube dan Google

"Perhatian kepada pemerintah sendiri? I hope pemerintah bisa lebih push lagi untuk membantu seniman-seniman," katanya.

Naufal juga menceritakan pengalaman mengikuti dan berkolaborasi dalam SBY Art Community. Salah satu hal yang dia rasakan adalah belajar bernegosiasi dengan diri sendiri dan keadaan saat berkarya bersama seniman lain.

"Poin positif sebenarnya banyak. Yang paling penting sebenarnya di mana saya belajar untuk mencoba bernegosiasi dengan diri dan juga keadaan, yang di mana saya berkarya dengan teman-teman lain," tuturnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.