AKURAT.CO, Dalam surah Albaqoroh ayat 183 dinyatakan; “wahai orang yang beriman diwajibkan melaksanakan puasa seperti telah diwajibkan kepada umat sebelumnya, agar kamu sekalian bertaqwa”. Surah ini menjadi dasar kewajiban melaksanakan puasa sekaligus hikmah yang bisa dipetik yakni mendapatkan kualitas taqwa.
Menurut kaidah ushul fikh (metode penarikan hukum) kalimat perintah itu bermakna wajib. Dengan kalimat tegas bisa dipahami bahwa yang melaksanakan puasa akan mendapatkan pahala bagi yang dan akan mendapat sanksi jika tidak melaksanakan.
Namun setiap diktum hukum Islam selalu mempunyai sisi hikmah, yang akan dipetik oleh para pelakunya. Hikmah puasa adalah mendapat kualitas taqwa. Yang berarti sebagai sikap yang melaksanakan apa yang diperintahkan oleh agama dan meninggalkan apa yang dilarang oleh agama.
Hikmatu tasyri (hikmah penentuan hukum) puasa pada gilirannya akan manyasar semua berbuatan positif sekaligus menanggalkan perbuatan negatif di mata agama Islam. Termasuk di dalamnya hal paling penting dalam konteks ketertiban sosial adalah berbagi pada sesama.
Kualitas taqwa tersebut idealnya bisa dilakukan dengan sekali melakukan puasa, tapi pada praktiknya dalam sejarah agama-agama puasa telah berjalan ribuan tahun. Artinya menjalani sekali puasa sesudah itu taqwa telah terbukti gagal dipraktikkan.
Idealitas tersebut juga bertentangan dengan tabiat keyakinan umat manusia pada kekuasaan Ilahi. Karena iman itu selalu bertambah ketika musibah menimpa dan berkurang ketika musibah sirna. Dinamika iman adalah watak kemanusiaan sejak lahir.
Manusia sejak diturunkan di muka bumi punya tabiat untuk terus menerus diingatkan sampai batas melakukan kesalahan. Ini terlihat dari drama kosmis di mana manusia pertama Adam melakukan kesalahan memakan buah terlarang, hingga diturunkan di muka bumi.
Ada aktor penggoda (setan) yang sejak di surga menggoda Adam untuk memakan buah terlarang, hingga akhirnya diturunkan di muka bumi akan terus menggoda manusia. Godaan itu, seperti diterangkan dalam surah Annas, pada akhirnya sudah melembaga dalam diri setiap manusia.
Dalam diri manusia juga ada nafsu yang terus membisikan untuk melanggar titah ilahi. Motivasinya tentu saja setali tiga uang dengan sang penggoda hingga dai kondang KH. Zaenuddin MZ mengatakan inti berpuasa adalah “pengendalian diri” dari nafsu.
Ini pada gilirannya menjadi syarat penting untuk melahirkan kualitas taqwa yang berpuasas. Jika memang belum bisa dengan sekali puasa, maka ia akan membutuhkan beberapa kali puasa. Dan jika mungkin terus berpuasa hingga akhirnya berada dalam barisan bertaqwa kala ajal menjemput.
Berpuasalah tahun ini dengan niat untuk mengubah kualitas diri menuju drajat taqwa. Meski itu susah boleh jadi dirasa mustahil, tidak perlu risau dan terbebani. Kita harus menerima kenyataan menjadi manusia itu pasti banyak godaan, bahkan dari diri kita sendiri. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK





