Keharusan Transformasi LPTK Untuk Wajah Baru Guru Profesional: Bagian 1

Problematika yang Tidak Selalu Tampak dalam Dunia Pendidikan
Di tengah euforia transformasi digital, pendidikan Indonesia menghadapi paradoks yang subtil namun serius: teknologi berkembang pesat, tetapi kapasitas pedagogis guru tidak selalu bergerak seiring.
Wacana tentang smart classroom, learning management system, hingga kecerdasan buatan begitu dominan dalam diskursus publik.
Tetapi pertanyaan paling mendasar justru sering terabaikan—apakah guru telah siap menjadi aktor utama dalam ekosistem pembelajaran baru ini? Jika jawabannya belum, maka modernisasi pendidikan berisiko menjadi sekadar kosmetik: tampak canggih di permukaan, tetapi rapuh dalam substansi.
Masalah ini tidak berdiri sendiri, melainkan berakar pada hulu sistem pendidikan, yakni Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Transformasi pendidikan yang berkelanjutan tidak mungkin terjadi tanpa perubahan sistemik pada institusi pembentuk guru.
Dalam pandangan Michael Fullan (2007), reformasi pendidikan yang efektif harus dimulai dari perubahan struktur dan kultur institusi yang memproduksi guru. Dengan kata lain, pembaruan di tingkat sekolah akan selalu terbatas jika tidak diikuti dengan transformasi di tingkat LPTK.
Krisis ini tidak selalu tampak karena ia bekerja dalam keseharian yang dianggap normal. Proses pembelajaran tetap berlangsung, kurikulum dijalankan, teknologi digunakan, tetapi makna pendidikan sebagai proses pemanusiaan perlahan tereduksi.
Dalam perspektif Jürgen Habermas (1984), kondisi ini dapat dibaca sebagai kolonisasi dunia kehidupan oleh rasionalitas instrumental—ketika pendidikan direduksi menjadi prosedur, standar, dan efisiensi, sementara dimensi reflektif dan emansipatoris terpinggirkan.
Akibatnya, pendidikan berjalan secara administratif, tetapi kehilangan daya transformasinya.
Ilusi kemajuan semakin diperkuat oleh penetrasi teknologi digital. Kehadiran perangkat canggih sering disalahartikan sebagai indikator kualitas, padahal tanpa kapasitas pedagogis yang memadai, teknologi hanya mempercepat reproduksi praktik lama dalam bentuk baru.
Seperti diingatkan Larry Cuban (2001), sejarah pendidikan menunjukkan bahwa inovasi teknologi jarang mengubah praktik pembelajaran jika tidak diiringi perubahan paradigma mengajar.
Di sinilah urgensi transformasi LPTK menjadi semakin mendesak—bukan sekadar memperbarui kurikulum, tetapi merekonstruksi cara berpikir tentang profesi guru itu sendiri.
Potret Kapasitas Guru yang Belum Ideal dalam Dunia Pendidikan Saat Ini
Berbagai indikator menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Hasil PISA yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (2022) menempatkan capaian literasi siswa Indonesia di bawah rata-rata global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Daftar PHTC 2026: Syarat Lengkap, Link Resmi, dan Tips Lolos Seleksi
- 2Sejumlah ilmuwan AS yang Terlibat Pengembangan Penangkal Nuklir dan Teknologi Antariksa Hilang Misterius
- 3Kenapa Ikan Sapu-sapu Dimusnahkan? Ini Bahaya dan Dampaknya bagi Lingkungan
- 4Iran Keluarkan Pernyataan Resmi Menolak Perundingan Baru dengan Amerika Serikat
- 5Setelah Kyiv Memperbaiki Pipa Minyak dari Rusia, Hungaria Akan Cabut Larangan atas Pinjaman Uni Eropa untuk Ukraina
- 6Pembukaan Sebagian Wilayah Udara Dimulai, AS Minta Warganya Segera Tinggalkan Iran
- 7Warga Amerika: Demensia Trump Makin Parah, Pernyataan-pernyataannya Makin Aneh!
- 8Bernie Sanders Kalah, Senat AS Tolak Dua Resolusi Blokir Penjualan Senjata ke Israel
- 9KPK: Banyak PIHK Kembalikan Uang Terkait Kasus Korupsi Kuota Haji
- 10Cadangan Beras Tembus 5 Juta Ton, Sejarah Baru Ketahanan Pangan Indonesia



