Akurat
Pemprov Sumsel

Keharusan Transformasi LPTK Untuk Wajah Baru Guru Profesional: Bagian 1

Abdul Rozak | 23 April 2026, 19:37 WIB
Keharusan Transformasi LPTK Untuk Wajah Baru Guru Profesional: Bagian 1
Ilustrasi Guru

Problematika yang Tidak Selalu Tampak dalam Dunia Pendidikan

Di tengah euforia transformasi digital, pendidikan Indonesia menghadapi paradoks yang subtil namun serius: teknologi berkembang pesat, tetapi kapasitas pedagogis guru tidak selalu bergerak seiring.

Wacana tentang smart classroom, learning management system, hingga kecerdasan buatan begitu dominan dalam diskursus publik.

Tetapi pertanyaan paling mendasar justru sering terabaikan—apakah guru telah siap menjadi aktor utama dalam ekosistem pembelajaran baru ini? Jika jawabannya belum, maka modernisasi pendidikan berisiko menjadi sekadar kosmetik: tampak canggih di permukaan, tetapi rapuh dalam substansi.

Masalah ini tidak berdiri sendiri, melainkan berakar pada hulu sistem pendidikan, yakni Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Transformasi pendidikan yang berkelanjutan tidak mungkin terjadi tanpa perubahan sistemik pada institusi pembentuk guru.

Dalam pandangan Michael Fullan (2007), reformasi pendidikan yang efektif harus dimulai dari perubahan struktur dan kultur institusi yang memproduksi guru. Dengan kata lain, pembaruan di tingkat sekolah akan selalu terbatas jika tidak diikuti dengan transformasi di tingkat LPTK.

Krisis ini tidak selalu tampak karena ia bekerja dalam keseharian yang dianggap normal. Proses pembelajaran tetap berlangsung, kurikulum dijalankan, teknologi digunakan, tetapi makna pendidikan sebagai proses pemanusiaan perlahan tereduksi.

Dalam perspektif Jürgen Habermas (1984), kondisi ini dapat dibaca sebagai kolonisasi dunia kehidupan oleh rasionalitas instrumental—ketika pendidikan direduksi menjadi prosedur, standar, dan efisiensi, sementara dimensi reflektif dan emansipatoris terpinggirkan.

Akibatnya, pendidikan berjalan secara administratif, tetapi kehilangan daya transformasinya.

Ilusi kemajuan semakin diperkuat oleh penetrasi teknologi digital. Kehadiran perangkat canggih sering disalahartikan sebagai indikator kualitas, padahal tanpa kapasitas pedagogis yang memadai, teknologi hanya mempercepat reproduksi praktik lama dalam bentuk baru.

Seperti diingatkan Larry Cuban (2001), sejarah pendidikan menunjukkan bahwa inovasi teknologi jarang mengubah praktik pembelajaran jika tidak diiringi perubahan paradigma mengajar.

Di sinilah urgensi transformasi LPTK menjadi semakin mendesak—bukan sekadar memperbarui kurikulum, tetapi merekonstruksi cara berpikir tentang profesi guru itu sendiri.

Potret Kapasitas Guru yang Belum Ideal dalam Dunia Pendidikan Saat Ini

Berbagai indikator menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Hasil PISA yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (2022) menempatkan capaian literasi siswa Indonesia di bawah rata-rata global.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Reporter
Abdul Rozak
A