Akurat Logo

Di Balik Joget dan Scroll Tanpa Henti, FYP TikTok Menjelma Jadi Ruang Kelas Baru Generasi Muda

Tim Redaksi | 11 Mei 2026, 15:44 WIB
Di Balik Joget dan Scroll Tanpa Henti, FYP TikTok Menjelma Jadi Ruang Kelas Baru Generasi Muda
Mimi Silvia

DI TENGAH banjir konten joget, TikTok juga menjadi ruang baru sebagai edukasi budaya. Salah satu akun yang berhasil membuktikannya TikTok Uni Minang @mimisilviarl.

Sejak aktif pada 2023, akun ini konsisten menghadirkan konten budaya Minangkabau dengan gaya yang relate untuk Gen Z, dikemas lewat storytelling yang menggaet ratusan ribu sampai jutaan penonton.

Cuma butuh 2 minggu ngonten, akun ini bertahan di FYP hingga sekarang meraup 22 ribu followers dan 700K likes.

Baca Juga: TikTok Jadi Media Sosial Favorit, Ini Cara Agar Konten Masuk FYP

Strategi bertahan FYP dan membangun digital enggagement ini dibukukan si creator akun Mimi Silvia dalam bukunya Start Your Content Journey.

Mimi meyakini akun sosial media bisa hadir sebagai culture content yang menjembatani edukasi dan hiburan sekaligus.

Algoritma TikTok yang biasanya dipenuhi konten ringan justru dimanfaatkan sebagai media literasi budaya yang accessible dan tidak menggurui.

“Pengalaman di TikTok Uni Minang menginspirasi saya menulis ini berhasil cara bermain di era algoritma: visual cepat, caption yang conversational, dan storytelling yang emosional tetapi tetap informatif. Semua kombinasi ini saya kulit di buku saya bersama teman content creator Instagram Anissa Fajari,” tutur Mimi.

Kekuatan TikTok Uni Minang adalah mengubah topik budaya menjadi konten yang terasa personal. Misalnya ketika membahas hubungan Jawa-Minang, Minang-Batak, atau pasangan beda suku lainnya.

Konten seperti ini sering memancing komentar panjang karena banyak anak muda merasa “itu gue banget”.

Dari sinilah tercipta komunitas digital yang bukan cuma menonton, tetapi ikut sharing pengalaman, bertanya soal adat, bahkan curhat tentang proses adaptasi budaya dalam hubungan mereka.

Format seperti ini membuat TikTok Uni Minang bukan sekadar akun edukasi, tetapi juga safe space untuk diskusi identitas budaya.

TikTok Uni Minang juga berkembang menjadi ruang belajar budaya bagi pasangan beda suku.

Fenomena pernikahan lintas budaya saat ini semakin umum di Indonesia, sehingga banyak anak muda mulai mencari referensi tentang adat pasangan mereka sebelum menikah.

TikTok Uni Minang menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu identik dengan hiburan kosong.

Di tangan kreator yang tepat, platform digital justru bisa menjadi ruang pelestarian budaya yang hidup, interaktif, dan dekat dengan generasi muda.

TikTok Uni Minang bukan hanya tentang viral atau FYP, tetapi tentang bagaimana budaya lokal bisa tetap eksis dan dicintai di tengah cepatnya arus budaya digital global.


Mimi Silvia, Praktisi Komunikasi dan Penulis Buku

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

T
Reporter
Tim Redaksi
Yosi Winosa