Akurat Logo

Kurban dan Maklumat Peradaban

Tim Redaksi | 30 Mei 2026, 08:26 WIB
Kurban dan Maklumat Peradaban
Subhan Akbar Saidi

WILAYAH Fiskerton dekat Sungai Witham di Lincolnshire (wilayah Inggris) abad 500 SM punya ritual pengorbanan.

Ritual ini berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur dan persembahan kepada dewa sungai (kurban manusia). Praktik di Fiskerton mencerminkan pola umum kepercayaan masyarakat Zaman Besi di Inggris: hubungan erat antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Sungai bukan hanya sumber kehidupan (jalur perdagangan dan berkah pertanian), tetapi juga entitas yang harus dihormati bahkan “ditenangkan” melalui persembahan.

Peristiwa serupa ternyata tidak hanya terjadi di Inggris kuno. Dinasti Shang di China juga membangun sistem kepercayaan yang menempatkan ritual pengorbanan sebagai pusat kehidupan peradaban.

Sekitar 1600–1046 SM, Dinasti Shang berkembang di wilayah lembah Sungai Kuning (Yellow River) dan menjadi salah satu fondasi awal peradaban China. Sama seperti masyarakat Fiskerton yang memandang sungai sebagai wilayah spiritual, masyarakat Shang juga percaya bahwa dunia manusia berada di bawah pengaruh roh leluhur dan kekuatan gaib yang harus dihormati melalui ritual.

Praktik pengorbanan manusia ternyata menjadi pola yang telah muncul di banyak masyarakat kuno: Suku Aztec di wilayah meksiko kuno, Kanaan (timur tengah), Kartago di Afrika Utara, Mesir Kuno, Mespotomia, dan suku Etruria di Italia. Pada peradaban Aztec, pengorbanan manusia dilakukan secara besar-besaran sebagai bagian dari ritual keagamaan untuk menghormati dewa matahari dan menjaga keberlangsungan alam semesta. Mereka percaya bahwa matahari membutuhkan “makanan” berupa darah manusia agar tetap bergerak dan dunia tidak jatuh ke dalam kehancuran.

Di wilayah Kanaan dan Kartago, ritual pengorbanan juga dikaitkan dengan persembahan kepada dewa-dewa tertentu, terutama dalam situasi krisis seperti perang, wabah, atau gagal panen.

Sementara itu, di Mesir Kuno dan Mesopotamia, praktik pengorbanan lebih berkaitan dengan kekuasaan dan kehidupan setelah kematian. Pada masa awal Mesir kuno, beberapa pelayan atau pengikut penguasa dikorbankan dan dikuburkan bersama raja untuk “menemani” perjalanan sang penguasa di alam baka.

Di Mesopotamia, ritual persembahan dilakukan untuk memperoleh restu para dewa yang dipercaya mengendalikan sungai, musim, dan hasil pertanian. Kepercayaan tersebut berkembang karena kehidupan masyarakat sangat bergantung pada kondisi alam, khususnya sungai-sungai besar seperti Nil, Tigris, dan Efrat.

Adapun pada masyarakat Etruria di Italia, praktik ritual pengorbanan berkaitan erat dengan tradisi spiritual dan ramalan. Mereka percaya bahwa tanda-tanda yang diberikan oleh para dewa dimaknai melalui ritual darah dan persembahan. Dalam perkembangannya, sebagian tradisi keagamaan Etruria bahkan memengaruhi kebudayaan Romawi awal. Seluruhnya telah menjadi proses lahirnya sebuah peradaban.

Dari sinilah tampak bahwa peradaban awal tidak hanya dibangun oleh teknologi, pertanian, atau perdagangan, tetapi juga oleh sistem kepercayaan. Ritual telah menjelma menjadi sarana untuk mempertahankan tatanan sosial, mengukuhkan legitimasi kekuasaan para pemimpin, serta mempererat persatuan masyarakat dalam satu identitas kolektif.

Karena itu, jejak ritual pengorbanan di Fiskerton, Shang, Aztec, Mesir, Mesopotamia, hingga Etruria sesungguhnya adalah cermin perjalanan panjang peradaban manusia. Dari sana lahir kota-kota, kerajaan, hukum, tradisi, dan kebudayaan yang menjadi fondasi sejarah umat manusia.

Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail juga pencipta peradaban besar. Ketika Ismail lahir, Allah menyeru agar Ibrahim membawa Siti Hajar dan Ismail menyusuri padang pasir yang gersang menuju lembah bakkah (kini Mekkah) yang tandus.

Ibrahim kerap pulang ke Palestina (tempat bermukim sebelumnya) sampai peristiwa penemuan air zam zam dan perintah penyembelihan Ismail. Ibrahim menukar mimpi dengan keimanan, Ismail mengkonversi menjadi sikap tawakal yang mutlak. Ia percaya tetes darah yang akan keluar dari lehernya ialah semburat kehidupan makhluk lainnya.

Dalam banyak peradaban kuno, manusia memang dianggap jalan untuk mendekatkan diri kepada dewa-dewa. Tetapi dalam kisah Ibrahim, peristiwa itu justru menjadi titik balik sejarah kemanusiaan.

Ibrahim tidak sedang diperintahkan untuk memuliakan darah manusia, melainkan pembuktian ketundukan total kepada Allah. Ismail pun menerima perintah itu dengan keteguhan luar biasa. Ia tidak memberontak, tidak melarikan diri, dan tidak mempertanyakan kehendak Allah. Pada akhirnya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah yang menghapuskan kurban manusia dan melembagakan kurban hewan dalam tradisi keagamaan.

Dari jejak sungai-sungai kuno, altar batu, darah persembahan, hingga padang tandus Bakkah, sejarah manusia memperlihatkan bahwa peradaban selalu lahir dari pencarian makna antara rasa takut, harapan, dan keyakinan kepada sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Jika banyak peradaban kuno membangun hubungan dengan langit melalui pengorbanan manusia, maka kisah Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail menghadirkan maklumat baru bagi kemanusiaan: bahwa ketundukan kepada Tuhan tidak lagi ditegakkan dengan mengorbankan manusia, melainkan dengan keikhlasan, pengorbanan batin, dan kemuliaan nilai kehidupan itu sendiri.

Dari lembah gersang yang dahulu sunyi, lahirlah peradaban besar yang mengubah makna kurban dari darah manusia menuju kasih sayang, ketakwaan, dan kemanusiaan. Karena pada akhirnya, peradaban terbesar bukanlah yang dibangun oleh ketakutan, melainkan yang ditegakkan oleh iman, pengorbanan, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Subhan Akbar Saidi; Dosen di Universitas Jakarta/ Peneliti di Pusat Kajian Strategis Impetus Demokrasi

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

T
Reporter
Tim Redaksi
Aldi Gultom