Akurat Logo

Mencegah Generasi Pecandu Gula Sejak Usia Dini

Intan Safitri | 3 Juni 2026, 11:24 WIB
Mencegah Generasi Pecandu Gula Sejak Usia Dini
Intan Safitri, Guru di Sekolah Dasar Islam Pembangunan Pamulang-Tangerang Selatan

MEMILIKI anak adalah anugerah yang tak ternilai. Kehadiran mereka menghadirkan kebahagiaan, harapan, sekaligus semangat baru dalam keluarga. Karena rasa sayang yang begitu besar, banyak orang tua ingin memberikan segala hal terbaik bagi buah hatinya.

Apa yang diinginkan anak sering kali ingin segera dipenuhi, mulai dari mainan, pakaian, hingga makanan favoritnya.

Namun, di balik rasa cinta tersebut, ada satu hal yang perlu dipahami: tidak semua yang membuat anak senang selalu baik bagi kesehatannya. Tanpa disadari, kebiasaan menuruti keinginan anak untuk mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan dapat berdampak pada tumbuh kembangnya di masa depan.

Saat ini, makanan manis begitu mudah dijumpai di sekitar anak. Permen, cokelat, es krim, minuman kemasan, hingga berbagai camilan dengan warna dan bentuk menarik seolah menjadi bagian dari keseharian mereka. Tidak sedikit orang tua yang menjadikan makanan tersebut sebagai hadiah, hiburan, atau cara cepat untuk menenangkan anak ketika rewel.

Padahal, masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam pembentukan kebiasaan hidup. Maria Montessori menjelaskan bahwa usia 1–6 tahun adalah fase emas perkembangan anak, ketika otak berkembang sangat pesat dan berbagai kebiasaan dasar mulai terbentuk. Apa yang dibiasakan pada masa ini akan sangat memengaruhi pola hidup anak ketika remaja hingga dewasa.

Baca Juga: Tanda-tanda Seseorang Sudah Kecanduan Gula, Waspadai Sebelum Terlambat

Ironisnya, kebiasaan makan yang kurang sehat sering kali pertama kali dikenalkan oleh lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang tua terbiasa mengonsumsi minuman manis, camilan tinggi gula, atau makanan cepat saji, anak akan terdorong untuk melakukan hal yang sama.

Fenomena ini sejalan dengan teori Social Learning yang dikemukakan Albert Bandura. Menurut teori tersebut, anak belajar melalui proses mengamati dan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Dengan kata lain, kebiasaan orang tua akan menjadi contoh yang sangat kuat bagi anak.

Tantangan terbesar biasanya muncul ketika anak mulai meminta makanan tertentu dan menunjukkan kekecewaan jika keinginannya tidak dipenuhi. Banyak orang tua merasa tidak tega melihat anak menangis atau tantrum. Akhirnya, satu permen, satu cokelat, atau satu minuman manis diberikan agar suasana kembali tenang.

Jika hal ini terus berulang, anak dapat terbiasa menjadikan makanan manis sebagai sumber kenyamanan. Lambat laun mereka akan lebih menyukai jajanan dibandingkan makanan rumahan yang bergizi.

Pada titik inilah orang tua dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: memenuhi keinginan anak untuk kesenangan sesaat atau membangun kebiasaan sehat untuk masa depannya.

Sebagian orang tua mungkin beranggapan bahwa sedikit makanan manis tidak akan menimbulkan masalah. Memang dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung. Namun, konsumsi gula berlebihan sejak usia dini dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, seperti gigi berlubang, kelebihan berat badan, gangguan metabolisme, hingga penurunan daya tahan tubuh.

Karena itu, World Health Organization (WHO) menganjurkan pembatasan konsumsi gula tambahan pada anak guna mencegah berbagai penyakit di kemudian hari.

Selain makanan ringan, minuman kemasan juga perlu mendapat perhatian khusus. Banyak produk anak dipasarkan dengan kemasan menarik dan karakter kartun yang membuatnya terlihat aman dan menyenangkan.

Padahal, sebagian produk tersebut mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi setiap hari, anak akan semakin terbiasa dengan rasa manis dan sulit menikmati air putih maupun makanan alami.

Membatasi makanan manis bukan berarti orang tua kurang menyayangi anak. Justru sebaliknya, itulah bentuk kasih sayang yang sesungguhnya. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab membuat anak bahagia hari ini, tetapi juga memastikan mereka tumbuh sehat di masa depan. Tidak semua keinginan anak harus dipenuhi, terutama jika berpotensi merugikan kesehatannya.

Tentu saja pembatasan bukan berarti larangan total. Anak tetap dapat menikmati makanan manis dalam jumlah yang wajar dan pada waktu tertentu. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan makan yang seimbang sehingga anak tidak bergantung pada rasa manis sebagai bagian utama dari pola makannya.

Lalu, apa yang dapat dilakukan orang tua?

Pertama, biasakan anak mengonsumsi makanan sehat sejak dini. Perkenalkan berbagai jenis buah, sayuran, lauk bergizi, dan makanan rumahan secara konsisten. Semakin sering anak dikenalkan pada makanan sehat, semakin besar peluang mereka menyukainya.

Kedua, kurangi frekuensi pemberian makanan dan minuman manis. Orang tua tidak harus melarang sepenuhnya, tetapi perlu mengatur porsinya secara bijak. Sebagai alternatif, berikan camilan yang lebih sehat seperti pisang, pepaya, semangka, atau yogurt rendah gula.

Ketiga, jadilah teladan yang baik. Anak lebih mudah meniru tindakan dibandingkan mendengarkan nasihat panjang. Jika ingin anak gemar makan sehat, orang tua juga perlu menunjukkan kebiasaan yang sama dalam kehidupan sehari-hari.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

I
A