The Death of Expertise

DUNIA informasi hari ini tengah mengalami fenomena yang menurut saya dan banyak kawan lain mencemaskan: runtuhnya otoritas kepakaran di hadapan algoritma media sosial.
Fenomena yang diistilahkan Tom Nichols dalam bukunya, "The Death of Expertise" (2017), kini bukan lagi sekadar peringatan sosiologis di ruang seminar, melainkan kenyataan pahit yang mengepung ruang publik kita sehari-hari.
Pengetahuan yang lahir dari riset bertahun-tahun, integritas metodologis, serta kompetensi keilmuan yang teruji, mendadak kehilangan bobot ketika berhadapan dengan narasi dangkal berdurasi puluhan detik yang dibalut sensasionalisme.
Masyarakat kontemporer kian bergantung pada pasokan data dan analisis dari individu-individu yang berlindung di balik label mentereng pembuat konten.
Sayangnya, banyak dari produsen pesan instan ini yang tidak memiliki rekam jejak maupun dasar keilmuan atas tema yang mereka bicarakan.
Panggung diskursus publik dibajak oleh figur-figur yang fasih berbicara di depan kamera, piawai menyunting visual dramatis, namun miskin pemahaman substantif atas kompleksitas masalah yang diangkatnya.
Kenyataan ini diperparah oleh motif ekonomi yang telanjang. Motivasi utama sebagian besar produksi konten tersebut bukanlah mencerdaskan publik, melainkan mengejar metrik keterlibatan, menambah tayangan, dan mengeruk keuntungan finansial melalui monetisasi algoritma.
Seperti yang dicatat Shoshana Zuboff dalam "The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power" (2019), perhatian manusia kini telah menjadi komoditas utama yang dieksploitasi tanpa memedulikan dampak etis maupun kebenaran pesan yang disebarkan.
Tidak berhenti pada perburuan rente algoritma semata, sebagian narasi yang sengaja disebar bahkan memiliki motif yang jauh lebih destruktif, yakni memperkeruh keadaan.
Informasi diplintir sedemikian rupa untuk memantik kemarahan publik, meruncingkan polarisasi, dan mengorbankan kohesi sosial demi menjaga agar percakapan tetap panas dan menguntungkan kantong pribadi pembuatnya.
Kebisingan ini perlahan menggantikan ruang dialog rasional yang menjadi syarat mutlak masyarakat beradab.
Persoalan ini bertambah genting manakala pers sebagai benteng pertahanan kebenaran justru ikut rapuh.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa sebagian wartawan kini terjebak mengonsumsi informasi mentah, tidak utuh, dan bias yang diproduksi oleh kreator konten media sosial.
Godaan kecepatan dan tekanan tenggat waktu di era digital kerap membuat awak redaksi melonggarkan filter verifikasi yang selama ini menjadi nyawa profesi jurnalistik.
Tragisnya, narasi potongan video dan utas viral tersebut kerap diangkat begitu saja menjadi apa yang seolah-olah berfungsi sebagai "rujukan metodologis" dalam karya pers.
Tindakan mengutip opini kreator konten sebagai fakta rujukan atau menjadikannya representasi kebenaran objektif adalah sebuah kemunduran fatal dalam metodologi jurnalistik.
Praktik instan ini mereduksi jurnalisme investigatif yang berpijak pada kerja lapangan menjadi sekadar daur ulang kebisingan dunia maya.
Kondisi ini menegaskan kembali kerisauan Jean Baudrillard dalam "Simulacres et Simulation" (1981), mengenai era ketika representasi dan kepalsuan realitas justru dianggap lebih nyata daripada realitas faktual itu sendiri.
Ketika potongan klip manipulatif di media sosial dijadikan dasar peliputan berita oleh pers arus utama, media massa pada hakikatnya sedang melegitimasi ilusi simulasi dan mempercepat pemakaman kepakaran yang kredibel.
Jika jurnalis tidak lagi menjalankan fungsi konfirmasi dan disiplin verifikasi, jurang antara karya pers dan celoteh liar di linimasa akan hilang sama sekali.
Padahal, Denis McQuail dalam buku babonnya, "McQuail’s Mass Communication Theory" (edisi keenam, 2010), telah menegaskan bahwa salah satu fungsi esensial pers adalah menjaga akuntabilitas informasi publik melalui independensi, akurasi, dan tanggung jawab sosial.
Mengorbankan metodologi demi mengekor tren viral berarti meruntuhkan fondasi legitimasi pers di mata publik.
Bagi masyarakat awam, situasi ini melahirkan ilusi pemahaman. Ketergantungan pada penjelasan-penjelasan simplistis ala kreator konten membuat publik merasa telah memahami persoalan yang rumit hanya lewat ringkasan pendek.
Fenomena ini menghancurkan apresiasi masyarakat terhadap proses ilmiah yang teliti, kerja para akademisi, analis kebijakan, serta ilmuwan yang sesungguhnya.
Baca Juga: Sahroni: RUU Perampasan Aset Jangan Jadi Alat Bungkam Kritik
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








