Menilik Kisruh Purbaya-Pramono di Obligasi Daerah Pemprov DKI

PERKARA obligasi daerah yang akan diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Jakarta menuai kontroversi. Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menerbitkan obligasi ini mendapat sorotan dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Purbaya mengingatkan pemda agar berhati-hati berutang, mencontohkan Brasil yang penerbitannya gagal bayar, ambyar dan akhirnya berdampak langsung ke pemerintah pusat.
Menurut saya peringatan ini ada benarnya dan ada contoh kasus yang nyata dari obligaasi daerah yang gagal bayar, kemudian merusak ekonomi secara nasional.
Baca Juga: Penerbitan Obligasi Jakarta Mandek, Pramono Kasih Opsi ke Kemenkeu Kembalikan DBH
Kontroversi ini tidak masalah terjadi karena dengan demikian semua pihak (Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat serta otoritas moneter) bisa berpikir dua kali dan menimbang dengan cermat risiko-risikonya.
Menurut saya dengan kondisi politik dan birokrasi yang tidak bersih serta korup seperti sekarang, maka potensi gagal bayar tidak jauh berbeda dengan kasus Brazil.
Secara teoritis politik dan birokrasi tersebut sifat dan karakternya selalu cenderung memaksimalkan dan rakus anggaran (“budget maximizer theory”). Politik dan birokrasi sudah pasti karakternya seperti itu.
Berbading terbalik dengan bisnis, pengusaha punya karakter “profit maximizer” - maka birokrasi berkarakter “budget miximizer” atau rakus anggaran.
Pemerintah akan terus-menerus membangun kerajaan birokrasi yang gemuk, “empire builder theory”. Kasus di Brazil merupakan pelajaran di negara berkembang atau emerging market.
Krisis gagal bayar (default) massal pada obligasi daerah seperti ini terjadi akibat kombinasi pelonggaran aturan utang tanpa kontrol ketat, moral hazard politik, birokrasi akibat ekspektasi dana talangan (bailout) dari pemerintah pusat.
Referensi Purbaya di kasus ini sering dijadikan pembelajaran penting bagi pengelolaan fiskal di berbagai negara, termasuk saat menyusun kebijakan penerbitan obligasi daerah agar tidak mengganggu stabilitas keuangan nasional. Purbaya punya dasar yang kuat untuk mempertanyakan rencana Pemerintah Daerah Jakarta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK




