KRITIK Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terhadap perbankan syariah, dalam acara Metro TV Sharia Economic Forum beberapa waktu yang lalu, perlu disikapi secara bijak dan hati-hati, jangan sampai menimbulkan reaksi yang berdampak negatif terhadap perkembangan perbankan syariah ke depan.
Perlu kita pahami bersama bahwa secara mendasar dan filosofi prinsip yang dipergunakan oleh bank syariah dan konvensional berbeda. Dalam sistem perbankan konvensional basis operasinya adalah sistem bunga (interest rate) dan aktivitas kredit atau pinjaman yang diberikan tidak mempertimbangkan halal dan haram menurut prinsip syariat Islam.
Sedangkan sistem perbankan syariah basisnya adalah bagi hasil (profit atau revenue sharing) dan aktivitas pembiayaanya adalah aktivitas ekonomi atau industri halal. Dari sini ruang lingkup dan aktivitasnya sudah berbeda.
Baca Juga: Bank Panin Dubai Syariah dan Muhammadiyah Teken Kerja Sama Produk dan Layanan Perbankan Syariah
Dalam pernyataanya Purbaya melihat perbankan syariah indonesia hanya sekadar mengganti istilah tanpa memberikan keadilan ekonomi yang nyata karena dia melihat dalam praktik di lapangan sebagian masyarakat merasa, pembiayaan yang diberikan oleh perbankan syariah jauh lebih mahal dari bank konvensional.
Tentunya kita tidak bisa membenarkan 100% kritik Purbaya tersebut. Para pemikir, aktivis dan komunitas ekonomi syariah yang sudah bertahun-tahun mengawal perjalanan perbankan syariah, tentunya tidak sepakat dengan pernyataan tersebut.
Akad-akad yang terdapat dalam perbankan syariah, seperti mudharabah, musyarakah, murabahah dan lainnya justru meletakkan fondasi keadilan yang kuat bagi semua nasabah (debitur dan kreditur), mereka berhak atas seseatu berdasarkan usaha dan ikhtiar yang dilakukan.
Lebih jauh, Purbaya mengkritik skema pembiayaan perbankan syariah lebih mahal dibandingkan bank umum konvensional. Kita tidak membantah sepenuhnya pernyataan tersebut. Tetapi agar lebih fair, kita perlu melihat dalam konteks yang lebih komprehensif.
Perlu kita ketahui bersama bahwa permodalan perbankan syariah mayoritas berada pada kategori KBMI 1—2 dan baru BSI yang masuk dalam kelompok KBMI 4. Sedangkan total aset perbankan syariah tercatat mencapai Rp1.028 triliun pada Oktober 2025.
Artinya sebagian besar bank syariah masih dalam kategori permodalan kecil hingga menengah. Modal yang terbatas cenderung menyebabkan biaya operasional per unit produk cenderung lebih tinggi.
Selain itu, jumlah modal akan sangat menentukan bank mampu berinvestasi terhadap teknologi, sistem informasi dan SDM yang membuat produk perbankan jauh lebih efisien dan inovatif.
Tidak bisa kita pungkiri, bank syariah lebih banyak menghimpun dana pihak ketiganga dalam bentuk tabungan dan deposito sehingga menyebabkan cost of fund di bank syariah menjadi lebih mahal. Sedangkan Bank Konvensional, lebih banyak dalam bentuk rekening giro dan dana murah lainnya. Seperti dana Pemerintah dalam bentuk rekening giro.
Selain itu, bank Himbara dan Swasta nasional lainnya memiliki keunggulan sistem IT dan jaringan yang luas, bahkan d iantaranya memiliki satelit sendiri. Sehingga mampu menawarkan produk yang inovatif, efisien dan jaringan yang luas serta kemudahan-kemudahan lainnya.
Kita harus akui, Bank Syariah seringkali hanya terpaku dengan instrumen akad yang ditawarkan berbasis pada akad jual beli (murabahah) yang menawarkan keuntungan tetap (fixed rate). Hal ini membuat angsuran terkesan lebih tinggi di awal dibandingkan bunga konvensional yang seringkali rendah di awal tetapi mengambang (floating) di tahun berikutnya.
Walaupun demikian, yang perlu kita ketahui adalah bank syariah menawarkan kepastian cicilan (flat) hingga periode kontrak berakhir, akad yang sesuai syariah, tidak ada denda keterlambatan yang sangat memberatkan. kalaupun ada denda, tidak dimasukkan ke dalam pendapatan perusahaan tapi harus diperuntukkan bagi kepentingan sosial.
Terakhir, nasabah Bank Syariah tidak perlu was-was dengan kehalalan produk dan layanan bank syariah, karena pada setiap bank syariah terdapat Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang merupakan kepanjang tanganan Dewan Syariah Nasional (DSN). Artinya secara syariah kecil kemungkinan adanya manipulasi dan akad yang bertentangan dengan syariah, jikapun ada akan menjadi tanggung jawan DPS dan jajaran pengelola bank syariah.
Kritik Purbaya sendiri harus kita anggap sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawabnya sebagai Menteri Keuangan. Kita berharap setelah ini, Pemerintah bisa lebih fair dan adil dalam memberlakukan bank syariah, dengan lebih banyak menempatkan rekening giro pemerintah secara proporsional khususnya lembaga-lembaga keagamaan, membuat cost of fund bank syariah lebih murah.
Memberikan fasilitas insentif pajak dan menambah permodalan bank syariah BUMN serta jumlah bank syariah BUMN baru, sehingga bisa membuat dana bank syariah bisa lebih murah dan kompetitif.
Perbankan syariah memiliki syarat keunggulan dalam tata nilai dan keadilan yang berbasis pada syariat Islam. Seluruh stakeholder perbankan syariah wajib menjaga dan mengingatkan perbankan syariah untuk selalu mempertahankan nilai nilai maqhosid syariah. InshaAllah Bank Syariah semakin berkah dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Wallahu'alam bissawab.
Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina dan Wakil Kepala CSED-INDEF
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal




