Dua per Tiga Orang Tua Khawatir Konten Negatif dan Cyberbullying di Internet

AKURAT.CO Survei menunjukkan bahwa hampir dua per tiga orang tua khawatir terhadap konten internet yang berbahaya dan 53% khawatir terhadap penindasan online.
Namun, hampir separuhnya mengapresiasi peningkatan keterhubungan di antara anggota keluarga dekat dan sekitar 57% menyukai hal ini bagi keluarga besar.
Kalau internet hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang, tidak apa-apa, ujarnya. Namun jika hal tersebut mengganggu interaksi sosial dan sekolah, maka hal tersebut perlu dikhawatirkan.
“Banyak sekali manfaatnya. Hal utama yang menurut saya masih perlu kita pahami adalah mengenai keseimbangan,” kata Dr. Giovanni Salum, yang juga direktur program Child Mind Institute.
Baca Juga: Resmi Angkat Kaki dari Cipayung, Pramudya: Kesehatan Mental Saya Sedang Tidak Bagus
Survei dirilis secara online pada bulan Juni dan Juli 2022 terhadap orang tua yang memiliki anak berusia 9 hingga 15 tahun.
Para orang tua di Amerika khawatir penggunaan internet di kalangan remaja dapat membuat mereka terkena cyberbullying, konten berbahaya, dan membuat mereka kecanduan berdasarkan sebuah studi baru.
Sebuah survei terhadap sekitar 1.000 ibu dan ayah menemukan lebih dari 22% khawatir anak-anak mereka mungkin bergantung pada internet. Dua kali lebih banyak orang yang merasa khawatir akan kecanduan internet dibandingkan dengan mereka yang khawatir akan kecanduan zat-zat seperti obat-obatan terlarang atau alkohol.
Ada alasan bagi orang tua untuk khawatir, kata Mitchell Prinstein, kepala petugas sains di American Psychological Association (APA).
Beberapa data menunjukkan bahwa sekitar 50% anak-anak melaporkan setidaknya satu gejala ketergantungan pada media sosial, kata Prinstein.
Baca Juga: Penyebab Alkohol Bisa Membuat Seseorang Mabuk
Survei baru yang dilakukan oleh para peneliti di Child Mind Institute di New York City dan lainnya, menyoroti perasaan orang tua saat mereka menavigasi remaja dan teknologi.
Meskipun sebagian orang khawatir akan kecanduan internet, banyak pula yang mengatakan bahwa internet telah mendekatkan keluarga dekat dan keluarga besar.
Rekan penulis studi, Dr. Giovanni Salum, yang juga direktur program di institut tersebut, mengatakan ada persepsi umum bahwa gangguan kesehatan mental meningkat seiring berjalannya waktu. Bukti menunjukkan bahwa penggunaan internet dan media sosial mungkin berkontribusi terhadap hal tersebut.
“Hal yang menarik dari penelitian ini adalah bahwa penelitian ini melihat kedua sisi yakni manfaat dan kerugiannya,” kata Salum.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








