Penelitian: 25 Tahun Udah Jadi Ayah Sebabkan Tingkat Kematian Tinggi

AKURAT.CO Pria yang menjadi ayah lebih awal dalam hidup di kisaran usia 25 tahun atau lebih muda, cenderung memiliki kesehatan jantung yang lebih buruk dan tingkat kematian yang lebih tinggi.
"Jika Anda berusia di bawah 25 tahun, Anda mungkin kurang stabil secara finansial, otak Anda mungkin kurang matang dan, terutama bagi ras dan etnis minoritas, Anda mungkin memiliki pekerjaan bergaji rendah dengan lebih sedikit tunjangan dan kebijakan cuti terbatas," kata Dokter John James Parker, asisten profesor pediatri dan penyakit dalam umum di Fakultas Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern di Chicago.
"Semua ini dapat memersulit Anda untuk fokus pada kesehatan Anda. Ada banyak intervensi kesehatan masyarakat untuk ibu muda, tetapi tidak ada yang pernah benar-benar memperhatikan ayah muda dengan cara ini."
Baca Juga: Menakjubkan, Begini Al-Qur’an Menyebutkan Peran Ayah untuk Pertumbuhan Anaknya
Para ayah cenderung memiliki kesehatan jantung yang lebih buruk daripada pria tanpa anak, berdasarkan faktor-faktor seperti pola makan, olahraga, merokok, berat badan, tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, menurut laporan para peneliti dalam jurnal AJPM Focus.
“Perubahan dalam kesehatan jantung yang kami temukan menunjukkan bahwa tanggung jawab tambahan untuk mengasuh anak dan stres dalam masa transisi menjadi ayah dapat menyulitkan pria untuk memertahankan gaya hidup sehat, seperti pola makan dan olahraga yang sehat,” kata peneliti Dokter John James Parker, asisten profesor pediatri dan penyakit dalam umum di Fakultas Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern di Chicago.
Baca Juga: Jantung Lemah, Donny Kesuma Masuk ICU
Penelitian ini juga menemukan tingkat merokok yang lebih tinggi di antara para ayah, yang bertentangan dengan penelitian lain yang menunjukkan banyak pria berhenti merokok ketika mereka memiliki anak, kata Parker.
"Penelitian ini mengamati para ayah yang lebih tua, jadi mungkin saja pria berhenti merokok ketika mereka menjadi ayah tetapi kemudian, mungkin mereka menjadi lebih stres dan kembali merokok," kata Parker. "Bagaimanapun, kita harus melihat apa yang terjadi dengan tingkat merokok karena merokok adalah penyebab utama kematian yang dapat dicegah dan jika seorang ayah merokok, itu akan memengaruhi keluarga mereka juga."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







