Yudi Latif Tegaskan Pentingnya Lihat Masa Lalu untuk Wujudkan Masa Depan

AKURAT.CO Cendekiawan dan budayawan Yudi Latif menegaskan bahwa kemampuan membaca dan memahami warisan masa lalu merupakan fondasi utama dalam menyiapkan masa depan bangsa. Hal itu ia sampaikan dalam acara Diskusi Warisan Naskah Nusantara yang digelar di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026).
“Jika kita tidak mampu membaca warisan masa lalu, maka kita seperti meraba dalam gelap. Satu-satunya cara untuk menyongsong masa depan adalah dengan berbekal ingatan, warisan, keteladanan, dan pelajaran dari masa lalu,” ujar Yudi Latif yang juga merupakan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa dan Kurator Sasana Budaya Dompet Dhuafa.
Di hadapan peserta diskusi, Yudi menjelaskan bahwa kesadaran historis merupakan bagian tak terpisahkan dari esensi kemanusiaan. Menurutnya, manusia tidak hanya hidup pada masa kini, tetapi selalu bergerak dalam lintasan ingatan masa lalu dan imajinasi masa depan. Cara pandang inilah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya dan menjadi dasar peradaban.
Baca Juga: Prof. Oman: Apa Jadinya Dunia Tanpa Manuskrip Nusantara
“Manusia bukan hanya homo sapiens, tetapi juga satu-satunya primata yang memiliki ingatan jauh ke belakang sekaligus bayangan ke depan. Karena itu, setiap upaya menyongsong masa depan harus selalu dikaitkan dengan masa lalu,” tegasnya.
Dalam paparannya, Yudi juga menyinggung tradisi intelektual Barat yang berkembang melalui akumulasi pengetahuan lintas generasi. Ia mencontohkan pemikiran Aristoteles yang hingga kini masih relevan dalam membaca dinamika politik dan krisis demokrasi modern, termasuk di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa Aristoteles membedakan bentuk pemerintahan berdasarkan kualitas moral dan siapa yang memegang kekuasaan. Pemerintahan oleh banyak orang, kata Yudi, dapat menjadi ideal dalam bentuk polity apabila ditopang oleh kelas menengah terdidik, namun berpotensi menyimpang ketika dijalankan tanpa basis pengetahuan dan etika publik yang kuat.
Diskusi Warisan Naskah Nusantara ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya naskah-naskah Nusantara sebagai sumber nilai, pengetahuan, dan refleksi kebangsaan, termasuk dalam merawat ingatan kolektif dan spirit filantropi bangsa.
Diketahui, acara bertajuk “Diskusi Warisan Naskah Nusantara: Merawat Spirit Filantropi dan Keagamaan dalam Naskah Nusantara” ini merupakan kolaborasi antara Lingkar Filologi Ciputat dan Dompet Dhuafa.
Program ini menghadirkan tiga pembicara kunci, yaitu Yudi Latif dengan tema “Membaca Peran Nusantara bagi Masa Depan Global”, Peneliti BRIN sekaligus Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara Agus Iswanto dengan tema “Spirit Filantropi dan Kesadaran Ekologi: Belajar dari Manuskrip Kisah Kiai Kanugrahan Qomaruddin Gresik”, serta Pengurus Manassa Rahmatia Ayu Widyaningrum dengan tema “Lontara’ Pabbura dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Bugis: Membaca Naskah Pengobatan sebagai Pengetahuan Bersama”.
Program diskusi kolaborasi yang diagendakan tiap bulan selama satu tahun ke depan ini memiliki sejumlah tujuan. Pertama, meningkatkan literasi filantropi berbasis khazanah naskah Nusantara bagi pegawai Dompet Dhuafa, pegiat manuskrip, dan publik secara umum. Kedua, memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi melalui warisan intelektual manuskrip Nusantara.
Baca Juga: 5 Banjir Besar yang Pernah Terjadi di Masa Kekhilafan Islam
Ketiga, terbentuknya jejaring kolaborasi antara praktisi filantropi dan akademisi/peneliti. Keempat, tersedianya arsip pengetahuan yang dapat dikembangkan menjadi serial publikasi dan kelas lanjutan.
Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Pembina Yayasan Dompet Dhuafa dan Kurator Sasana Budaya Dompet Dhuafa Andi Makmur Makka, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Pembina Lingkar Filologi Ciputat Oman Fathurahman, Pengawas Yayasan Dompet Dhuafa Yayat Supriyatna, Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Rahmad Riyadi, Kepala Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan Arsip Nasional Republik Indonesia Agus Santoso, para pemangku kepentingan, serta ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






