Apakah Perempuan Masih Sulit Naik Jabatan di Perusahaan Besar?

AKURAT.CO Isu kesetaraan gender di dunia kerja masih menjadi perhatian hingga saat ini, terutama terkait peluang perempuan untuk naik jabatan di perusahaan besar.
Meski semakin banyak perempuan memiliki pendidikan tinggi dan kemampuan profesional yang baik, kenyataannya masih ada berbagai tantangan yang membuat perempuan lebih sulit mencapai posisi kepemimpinan dibanding laki-laki.
Baca Juga: Diskriminasi Pendidikan terhadap Perempuan dan Dampaknya
Apakah Perempuan Masih Mengalami Hambatan Karier?
Secara umum, peluang perempuan di dunia kerja memang semakin terbuka dibanding beberapa tahun lalu.
Banyak perusahaan mulai menerapkan kebijakan inklusif dan mendukung keberagaman di lingkungan kerja.
Namun, dalam praktiknya, perempuan masih sering menghadapi hambatan tertentu saat ingin naik ke posisi yang lebih tinggi, terutama pada level manajerial dan eksekutif.
Fenomena ini sering disebut sebagai glass ceiling, yaitu hambatan tidak terlihat yang membatasi perempuan untuk mencapai posisi puncak meskipun memiliki kemampuan yang memadai.
Baca Juga: Apakah Cuti Melahirkan Mempengaruhi Karier Perempuan? Ini Penjelasannya
Faktor yang Membuat Perempuan Sulit Naik Jabatan
Berikut beberapa faktor yang sering memengaruhi perkembangan karier perempuan di perusahaan besar.
1. Stereotip Gender di Dunia Kerja
Masih ada anggapan bahwa posisi pemimpin lebih cocok dipegang laki-laki karena dianggap lebih tegas atau lebih fokus terhadap pekerjaan.
Sementara itu, perempuan terkadang dianggap:
lebih emosional,
kurang fleksibel,
atau akan lebih memprioritaskan keluarga dibanding karier.
Padahal, kemampuan kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender.
2. Beban Ganda Perempuan
Banyak perempuan menghadapi beban ganda antara pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga.
Dalam beberapa kasus:
Perempuan tetap diharapkan mengurus keluarga,
Mengasuh anak,
dan menjalankan pekerjaan domestik meskipun bekerja penuh waktu.
Kondisi ini dapat memengaruhi waktu, energi, dan peluang pengembangan karier.
3. Minimnya Representasi di Posisi Pimpinan
Kurangnya perempuan di posisi tinggi membuat mentor atau role model perempuan juga lebih sedikit.
Akibatnya:
Kesempatan networking lebih terbatas,
Dukungan karier berkurang,
dan budaya perusahaan kadang masih didominasi perspektif tertentu.
4. Bias dalam Proses Promosi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bias tidak sadar (unconscious bias) masih memengaruhi proses penilaian kinerja dan promosi jabatan.
Contohnya:
Laki-laki dianggap lebih siap memimpin,
Sementara perempuan sering harus membuktikan kemampuan lebih banyak untuk mendapatkan pengakuan yang sama.
5. Tantangan Setelah Menikah atau Memiliki Anak
Sebagian perempuan mengalami perlambatan karier setelah menikah atau memiliki anak karena adanya asumsi bahwa fokus kerja mereka akan berkurang. Padahal, banyak perempuan tetap mampu menjalankan peran profesional secara optimal.
Apakah Kondisi Ini Mulai Berubah?
Ya, banyak perusahaan besar mulai lebih terbuka terhadap kepemimpinan perempuan.
Saat ini semakin banyak perusahaan:
Menerapkan kebijakan kesetaraan gender,
Menyediakan cuti yang lebih fleksibel,
Menghadirkan program kepemimpinan perempuan,
dan membangun lingkungan kerja yang lebih inklusif.
Beberapa perusahaan bahkan mulai menyadari bahwa keberagaman gender dapat meningkatkan inovasi, kreativitas, dan kualitas pengambilan keputusan.
Pentingnya Kesetaraan Peluang Karier
Kesetaraan peluang karier bukan berarti memberikan jabatan berdasarkan gender, melainkan memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang adil berdasarkan kemampuan dan kompetensi.
Lingkungan kerja yang mendukung kesetaraan dapat memberikan manfaat seperti:
Peningkatan produktivitas,
Budaya kerja lebih sehat,
Keberagaman perspektif,
dan loyalitas karyawan yang lebih baik.
Cara Mendukung Kesetaraan Karier di Perusahaan
Beberapa langkah yang dapat dilakukan perusahaan antara lain:
Menerapkan sistem promosi yang transparan,
Mengurangi bias gender dalam rekrutmen,
m
Menyediakan kebijakan kerja fleksibel,
dan memberikan pelatihan kepemimpinan secara setara.
Selain itu, penting juga membangun budaya kerja yang menghargai kemampuan tanpa memandang gender.
Perempuan di perusahaan besar memang masih menghadapi berbagai tantangan untuk naik jabatan, mulai dari stereotip gender hingga bias dalam promosi kerja.
Meski begitu, kondisi ini perlahan mulai berubah seiring meningkatnya kesadaran tentang pentingnya kesetaraan gender di dunia profesional.
Dengan dukungan kebijakan yang lebih inklusif dan budaya kerja yang adil, peluang perempuan untuk berkembang dan memimpin di perusahaan besar akan semakin terbuka di masa depan.
Dinda Nur Syafitri (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 3Drone Buatan Inggris Dipakai Ukraina, Rusia Mengancam: Semakin Terlibat, Semakin Tinggi Harga yang Harus Dibayar!
- 4Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Prabowo dan Jokowi Kompak di Peringatan HUT RI, Gerindra: Hal yang Wajar
- 10Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk








