Apa Itu Budaya Matriarki? Pengertian, Ciri, dan Contohnya
Eko Krisyanto | 11 Desember 2025, 19:47 WIB

AKURAT.CO Budaya di dunia terbentuk dari berbagai sistem sosial yang unik dan menarik untuk dikaji. Salah satu di antaranya adalah budaya matriarki, yang menempatkan perempuan sebagai pusat kekuasaan dalam keluarga maupun masyarakat.
Di tengah dominasi sistem patriarki yang lebih umum dijumpai, budaya matriarki menjadi cerminan keseimbangan dan penghargaan terhadap peran perempuan dalam membangun tatanan sosial.
Dilansir dari Encyclopaedia Britannica, budaya matriarki adalah sistem sosial di mana ibu atau perempuan tertua dalam keluarga memiliki otoritas utama dalam mengatur kehidupan kelompok. Sistem ini memungkinkan satu atau beberapa perempuan memiliki pengaruh besar terhadap komunitas secara keseluruhan.
Budaya matriarki muncul di beberapa masyarakat tradisional sebagai hasil dari struktur sosial yang menekankan garis keturunan melalui pihak ibu.
Di beberapa tempat, posisi perempuan sangat dihormati karena dianggap sebagai sumber kehidupan, penjaga nilai-nilai, serta pengatur kesejahteraan keluarga dan masyarakat.
Sistem sosial ini berkembang di berbagai wilayah dunia dengan cara yang berbeda-beda.
Masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, Indonesia, misalnya, menjadikan perempuan sebagai pewaris nama keluarga dan kepemilikan rumah.
Di Tiongkok, suku Mosuo dikenal dengan sistem matriarkalnya yang memusatkan garis keturunan pada perempuan.
Konsep matriarki juga ditemukan pada suku Khasi di India Timur Laut yang menerapkan pewarisan melalui garis ibu. Beragamnya budaya matriarki menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam mempertahankan identitas sosial dan budaya suatu komunitas.
Ciri-Ciri Budaya Matriarki
1. Perempuan sebagai pemimpin keluarga atau klan
Dalam sistem matriarki, keputusan penting diambil oleh ibu atau perempuan tertua dalam keluarga. Otoritas perempuan menjadi pusat dalam setiap aspek kehidupan sosial dan budaya.
2. Pewarisan melalui garis keturunan perempuan (matrilineal)
Nama keluarga, harta benda, serta tanggung jawab sosial diwariskan kepada anak perempuan, bukan laki-laki.
3. Tinggal di sisi keluarga perempuan (matrilokal)
Setelah menikah, pasangan biasanya tinggal di rumah pihak perempuan, menandakan pentingnya posisi perempuan dalam menjaga kesinambungan keluarga.
4. Perempuan sebagai pemilik aset dan pengatur sumber daya
Dalam beberapa masyarakat, perempuan memiliki hak kepemilikan tanah, rumah, serta tanggung jawab ekonomi keluarga.
5. Nilai sosial yang menekankan keseimbangan dan kebersamaan
Budaya matriarki tidak selalu berarti perempuan menguasai laki-laki, tetapi lebih menonjolkan keharmonisan dan kolaborasi dalam struktur sosial.
Contoh Budaya Matriarki di Dunia
1. Masyarakat Minangkabau (Indonesia)
Disebut sebagai masyarakat matriarkal terbesar di dunia dengan lebih dari empat juta penduduk. Perempuan Minangkabau memiliki hak atas tanah dan rumah, serta menjadi penjaga garis keturunan keluarga.
2. Suku Khasi (India Timur Laut)
Pewarisan nama keluarga dan harta dilakukan melalui anak perempuan bungsu. Laki-laki tetap berperan sosial, namun tidak menjadi pewaris utama.
3. Suku Mosuo (Tiongkok)
Suku ini memiliki sistem sosial di mana perempuan memegang kendali atas rumah tangga dan properti. Anak-anak mengambil nama keluarga dari ibu, dan tidak ada konsep pernikahan formal seperti di budaya patriarki.
4. Suku Akan (Ghana)
Dalam suku ini, garis keturunan ditarik dari pihak ibu, dan perempuan memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan serta kepemilikan sumber daya komunitas.
Budaya matriarki memperlihatkan bahwa sistem sosial yang menempatkan perempuan di pusat kekuasaan tidak semata-mata soal dominasi, tetapi juga keseimbangan dan penghargaan terhadap peran gender.
Melalui contohnya dari berbagai negara, kita dapat memahami bahwa struktur masyarakat bisa beragam dan tetap harmonis ketika berbasis pada nilai-nilai kebersamaan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial.
Salsabilla Nur Wahdah (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







