Akurat Logo

Kenapa Gunung Bisa Meletus Meski Terlihat Tenang? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Redaksi Akurat | 5 Juni 2026, 23:25 WIB
Kenapa Gunung Bisa Meletus Meski Terlihat Tenang? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Gunung Merapi.

AKURAT.CO Meskipun tampak tenang dari permukaan, gunung api sebenarnya tetap mengalami berbagai proses vulkanik yang berlangsung di bawah tanah dan tidak dapat dilihat secara langsung oleh manusia.

Tekanan magma dan gas di dalam gunung terus bergerak, sehingga gunung yang terlihat tenang sekalipun tetap memiliki potensi untuk meletus.

Indonesia sendiri dikenal sebagai negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), terdapat sekitar 127 gunung api aktif di Indonesia.

Karena itu, gunung yang tampak tenang bukan berarti sudah tidak aktif. Dalam ilmu vulkanologi, fase tenang justru merupakan bagian dari siklus alami gunung api.

Berikut beberapa alasan mengapa gunung dapat meletus meski terlihat tenang.

1. Magma Bergerak di Bawah Permukaan Bumi

Di bawah gunung terdapat kantong magma yang terbentuk akibat panas dari pergerakan lempeng tektonik. Panas tersebut menyebabkan batuan meleleh sehingga menghasilkan magma.

Magma dapat bergerak secara perlahan menuju permukaan, tetapi pergerakan ini tidak selalu menimbulkan getaran atau tanda-tanda yang dapat dirasakan manusia. Akibatnya, gunung tampak tenang, padahal aktivitas vulkanik tetap berlangsung di dalamnya.

2. Tekanan Gas Terus Meningkat

Magma terdiri atas batuan cair panas yang mengandung berbagai gas, seperti:

  • Uap air (H₂O);

  • Karbon dioksida (CO₂);

  • Sulfur dioksida (SO₂);

  • Hidrogen sulfida (H₂S).

Ketika magma bergerak ke atas, tekanan di sekitarnya berkurang sehingga gas-gas tersebut mulai mengembang. Jika gas tidak dapat keluar, tekanan akan terus meningkat.

Proses ini dapat diibaratkan seperti botol minuman bersoda yang dikocok. Saat tutupnya dibuka, tekanan yang terkumpul akan dilepaskan secara tiba-tiba. Hal serupa dapat terjadi pada gunung api hingga memicu letusan.

Baca Juga: Bagaimana KPU Menetapkan Peserta Pemilu? Ini Tahapan yang Harus Dilalui Partai Politik

3. Tidak Selalu Menunjukkan Tanda yang Terlihat

Banyak aktivitas vulkanik tidak dapat diamati secara langsung oleh manusia dan hanya dapat dideteksi menggunakan peralatan khusus.

a. Gempa Vulkanik Dalam

Gempa vulkanik dalam umumnya tidak dapat dirasakan manusia. Aktivitas ini hanya dapat dideteksi menggunakan seismometer yang dimiliki PVMBG.

b. Perubahan Bentuk Gunung

Gunung api dapat mengalami deformasi atau perubahan bentuk akibat tekanan magma dari dalam. Perubahan tersebut biasanya sangat kecil sehingga hanya dapat diketahui melalui alat pemantauan khusus.

c. Perubahan Suhu Tanah

Naiknya magma mendekati permukaan dapat meningkatkan suhu tanah dan sumber air di sekitarnya. Akibatnya, vegetasi dapat mengering dan suhu lingkungan menjadi lebih panas.

d. Perubahan Emisi Gas

Meningkatnya aktivitas magma juga dapat mengubah jumlah dan komposisi gas vulkanik yang keluar dari gunung. Perubahan ini hanya dapat dideteksi melalui instrumen khusus.

4. Saluran Erupsi Dapat Tersumbat

Gunung api memiliki saluran yang menjadi jalur keluarnya magma ke permukaan. Namun, saluran tersebut dapat tersumbat oleh lava yang telah membeku atau material hasil letusan sebelumnya.

Akibatnya, gas dan magma terperangkap di dalam gunung sehingga tekanan terus meningkat. Dari luar gunung terlihat tenang, tetapi di dalamnya terjadi akumulasi tekanan yang dapat memicu letusan mendadak.

5. Fase Tenang Merupakan Siklus Alami

Gunung api memiliki siklus aktivitas yang terdiri atas fase tenang, peningkatan aktivitas magma, erupsi, dan kembali memasuki fase tenang.

Masa tenang dapat berlangsung selama beberapa bulan, puluhan tahun, bahkan ratusan tahun.

Salah satu contohnya adalah Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Gunung ini sempat dianggap tidak aktif karena tidak mengalami erupsi selama sekitar 400 tahun. Namun, Gunung Sinabung kembali meletus pada 2010.

Baca Juga: Tips Agar Artikel Cepat Muncul di Pencarian Google

Hal tersebut menunjukkan bahwa gunung yang tenang bukan berarti sudah tidak berbahaya.

6. Pengaruh Pergerakan Lempeng Tektonik

Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia, yakni Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.

Pergerakan dan tumbukan antar-lempeng tersebut menghasilkan panas yang memicu terbentuknya magma baru. Proses ini berlangsung terus-menerus dan menyebabkan gunung api di Indonesia tetap memiliki potensi erupsi.

Gunung api yang tampak tenang sebenarnya tetap mengalami aktivitas vulkanik di bawah permukaan bumi.

Pergerakan magma, peningkatan tekanan gas, tersumbatnya saluran erupsi, hingga pengaruh lempeng tektonik dapat menyebabkan letusan terjadi sewaktu-waktu.

Karena itu, status normal yang dikeluarkan PVMBG tidak berarti sebuah gunung telah berhenti aktif. Fase tenang merupakan bagian dari siklus alami gunung api dan tetap menyimpan potensi erupsi di masa mendatang.

Dengan kata lain, gunung yang terlihat tenang bukan berarti benar-benar "tertidur", melainkan hanya sedang berada dalam fase istirahat sebelum memasuki siklus aktivitas berikutnya.

Laporan: Fikhra Azmi/magang

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.