Gelar Diskusi Buku, Yapsekarta Ajak Generasi Muda Teladani Sultan Hamengku Buwono II

AKURAT.CO Yayasan Pencinta Sejarah Kasultanan Ngayogyakarta (Yapsekarta) menyelenggarakan diskusi buku "Sultan Hamengku Buwono II: Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa" di Omah Joglo, Jakarta, pada Jumat (26/6/2026).
Acara yang berlangsung secara hybrid ini dihadiri peserta dari lima daerah, yakni Jakarta, Yogyakarta, Solo, Ponorogo, dan Temanggung. Serta menghasilkan sejumlah catatan historis yang memperkaya pemahaman atas sejarah Kesultanan Yogyakarta.
Diskusi yang dipandu Dr. R.F. Suryo Susilo, MBA, selaku Ketua Umum Yapsekarta, berlangsung produktif, mempertemukan perspektif akademik dengan tradisi lisan dan penelusuran genealogis yang dimiliki para peserta.
Prof. Dr. Djoko Marihandono, salah satu penulis buku yang juga Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Yapsekarta atas dukungan pembiayaan penelitian yang memungkinkan terbitan kedua buku terwujud.
"Dukungan Yapsekarta dalam pembiayaan penelitian lanjutan memungkinkan terbitan kedua ini hadir dengan materi yang lebih komprehensif. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan dan komitmen tersebut," katanya.
Ketua Umum Yapsekarta, Dr. R.F. Suryo Susilo, MBA, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus mengangkat dan mendokumentasikan peran para pemimpin Keraton Yogyakarta dalam perlawanan melawan kolonialisme.
"Kami meyakini bahwa tokoh-tokoh besar dalam sejarah Indonesia perlu terus dikaji dan diperkenalkan kepada masyarakat berdasarkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Dukungan Yapsekarta terhadap penerbitan buku ini merupakan bagian dari upaya tersebut, dengan harapan semakin banyak generasi muda mengenal perjuangan dan keteladanan Sultan Hamengku Buwono II," jelasnya.
Terdapat sejumlah poin penting yang menjadi sorotan dalam diskusi buku "Sultan Hamengku Buwono II: Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa." Antara lain:
1. Biografi dan Kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono II
Pembahasan diawali dengan mengulas perjalanan hidup Sultan Hamengku Buwono II sebagai salah satu sultan terpenting dalam sejarah Kasultanan Ngayogyakarta.
Buku ini menggambarkan kepemimpinan HB II sebagai seorang negarawan yang selama lebih dari tiga dekade mempertahankan martabat, kedaulatan, dan legitimasi Kasultanan di tengah meningkatnya tekanan kolonial di Jawa.
2. Perjuangan Melawan Tiga Kekuatan Kolonial
Pokok bahasan utama diskusi adalah konsistensi Sultan Hamengku Buwono II dalam menghadapi tiga kekuatan kolonial secara berturut-turut: VOC Belanda, pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, dan pendudukan Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles.
Para pembicara menjelaskan bahwa keteguhan HB II mempertahankan kedaulatan Kasultanan membuat beliau berulang kali mengalami pelengseran, pengasingan, dan berbagai tekanan politik, namun tidak pernah meninggalkan prinsip perjuangannya.
3. Pengasingan yang Tidak Menghapus Legitimasi
Diskusi juga mengulas masa pengasingan HB II di Penang dan Ambon. Salah satu fakta historis yang mendapat perhatian peserta adalah tetap ditanggungnya kebutuhan hidup Sultan oleh Keraton Yogyakarta selama masa pengasingan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa legitimasi HB II sebagai Sultan tetap diakui oleh lingkungan Keraton meskipun secara fisik beliau dipisahkan oleh pemerintah kolonial.
4. Warisan Sejarah Sultan Hamengku Buwono II
Para pembicara menegaskan bahwa kepemimpinan dan perjuangan HB II memberikan pengaruh besar terhadap dinamika politik Jawa pada awal abad ke-19.
Peristiwa-peristiwa pada masa pemerintahannya menjadi bagian penting dalam memahami lahirnya berbagai gerakan perlawanan terhadap kolonialisme, termasuk konteks sejarah yang kemudian melatarbelakangi Perang Jawa.
5. Pembahasan Lanjutan
Selain membahas substansi utama buku, diskusi berkembang ke berbagai tema yang berkaitan dengan masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II. Antara lain hubungan politik HB II dengan Pangeran Diponegoro, peran Raden Ronggo Prawirodirjo dalam dinamika politik Keraton, posisi Patih Danurejo II, arti penting Perjanjian Ponorogo, serta hubungan genealogis antara Sultan Hamengku Buwono II dan Kesultanan Kedah di Malaysia.
6. Antusiasme Peserta Membuka Agenda Riset Baru
Salah satu sesi yang paling menarik terjadi ketika peserta mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan menelusuri asal-usul leluhur yang diduga mengikuti Sultan Hamengku Buwono II selama masa pengasingannya di Penang.
Pertanyaan tersebut berkembang menjadi diskusi mengenai peluang penelitian sejarah dan silsilah untuk mengidentifikasi jejak para pengikut HB II di Penang serta kemungkinan keterkaitan mereka dengan keturunan yang kini tersebar di Indonesia maupun Malaysia.
Buku "Sultan Hamengku Buwono II: Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa" merupakan pemenang kompetisi penulisan buku di Universitas Indonesia dan merupakan kajian historis komprehensif tentang Sultan Hamengku Buwono II (1750-1828), sultan kedua Kasultanan Ngayogyakarta yang memerintah selama 36 tahun.
Terbitan pertama diterbitkan pada 2008, dibiayai oleh Universitas Indonesia, dan disertai sambutan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sementara, terbitan kedua hadir atas dukungan penelitian dari Yapsekarta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026




