AKURAT.CO Penguatan demokrasi yang menjadi salah satu tema dalam gelaran debat capres perdana, tidak menyinggung upaya pembenahan partai politik (parpol) sebagai pilar demokrasi. Komitmen tiga capres yakni Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo terhadap penguatan parpol dianggap rendah.
Anggota Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini malah menyayangkan sikap ketiga capres yang seolah tidak berani mengeritik parpol pada sesi debat perdana. Pertanyaan yang dirumuskan panelis juga kurang tajam, tidak menyinggung bagaimana memperbaiki parpol yang dikuasai segelintir elite dan apa upaya capres untuk mendobrak itu.
“Seharusnya dibahas bagaimana cara menumbuhkan demokrasi di dalam partai, bagaimana partai politik agar tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang, bagaimana mendobrak hegemoni elite dalam tubuh partai,” kata Titi, di Jakarta, Rabu (13/12/2023).
Baca Juga: Debat Perdana Gagal Jadi Forum Capres Sampaikan Konsep Penguatan Demokrasi
Titi membagi ada tiga komponen yang perlu disorot untuk memperkuat demokrasi yakni parlemen efektif, kekuasaan kehakiman yang independen dan media yang berintegritas. Namun hanya isu menyangkut parlemen yang muncul ketika debat, karena capres dan panelis tidak bisa meramu ketiga isu itu dalam satu konsep penguatan demokrasi.
“Pertanyaan soal bagaimana membangun kepecayaan masyarakat terhadap partai masih terlalu luas,“ ujarnya.
Titi mencatat hanya capres nomor urut 1 Anies Baswedan dan capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo yang menyinggung soal parpol, sekalipun tidak memberi jawaban secara spesifik. Anies mengingatkan konsep pendanaan parpol yang harus independen, sedangkan Ganjar menyebut gagasan itu sudah diatur dalam UU Parpol.
Baca Juga: Nawawi Pomolango Menyesal Nonton Debat Capres
Selebihnya, kandidat tidak berkreasi dengan mengelaborasi segudang persoalan demokrasi, dalam gagasan yang komprehensif, memanfaatkan pertanyaan dari panelis. “Masukan untuk KPU ke depannya debat dapat mengundang panelis dari kalangan praktisi,” katanya.
Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Brawijaya, Muchamad Ali Safaat menyebutkan, semangat melanjutkan reformasi hukum juga tidak terlihat oleh para capres. Adanya isu menguatkan independensi kekuasaan kehakiman sebatas untuk kepentingan elektoral karena tidak diiringi dengan konsep mereformasi kepolisian dan kejaksaan.
“Tidak ada yang menyinggung soal reformasi kepolisian dan kejaksaan padahal ini isu yang penting karena kita kenal hukum di Indonesia seringkali tumpul ke atas tajam ke bawah. Terkait independensi peradilan, hanya dilakukan untuk memberikan keuntungan elektoral bagi paslon, tidak ada yang membahas strategi untuk meningkatkan independensi peradilan,” keluhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








