Istana Bantah Narasi Presiden Prabowo Pernah Ditolak Negara Tujuan Kunjungan

AKURAT.CO Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Dudung Abdurachman, membantah narasi yang menyebut Presiden Prabowo Subianto pernah ditolak oleh negara tujuan dalam agenda kunjungan luar negeri.
Menurut Dudung, seluruh lawatan Presiden ke luar negeri telah melalui proses diplomatik dan perencanaan yang matang sehingga tidak mungkin dilakukan secara mendadak.
"Ah tidak ada, saya tidak mendengar itu," kata Dudung kepada wartawan usai rapat bersama Komisi XIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Ia menjelaskan, setiap kunjungan Presiden telah dipersiapkan jauh hari melalui komunikasi antarpemerintah. Karena itu, tidak ada istilah penolakan terhadap Presiden Indonesia.
"Kalau Presiden ke negara-negara itu sudah direncanakan jauh sebelumnya. Tidak mungkin tiba-tiba bilang, 'Eh kita ke sini'. Tidak seperti itu," ujarnya.
Dudung menegaskan hubungan bilateral Indonesia dengan berbagai negara berjalan baik dan Presiden Prabowo selalu diterima dengan baik oleh negara-negara mitra.
"Enggak ada istilah ditolak. Presiden kita sangat baik hubungan bilateralnya dengan beberapa negara luar dan sangat diterima," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Dudung juga menanggapi kritik terkait tingginya intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo.
Baca Juga: Temuan Ketimpangan Program MBG Jadi Faktor Evaluasi Kepala BGN
Menurutnya, kritik merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi dan dijamin oleh undang-undang.
"Ya, kritikan itu boleh-boleh saja dan diatur oleh undang-undang. Saya menghormati dan menghargai apa yang disampaikan Pak Dino Patti Djalal, dan bahkan Pak Teddy juga sudah menjawab," katanya.
Meski demikian, Dudung menilai kunjungan luar negeri Presiden tidak bisa dilihat hanya dari frekuensinya. Setiap lawatan memiliki tujuan strategis yang berkaitan dengan kepentingan nasional.
"Setahu saya, Presiden ke luar negeri pasti ada tujuan strategis yang lebih tinggi yang tidak cukup dilakukan dengan Zoom," ujarnya.
Menurut Dudung, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, komunikasi langsung dengan para pemimpin negara lain menjadi penting untuk menjaga kepentingan Indonesia di bidang ekonomi, politik, pertahanan, dan keamanan.
"Kita tidak bisa berdiri sendiri. Kita masih membutuhkan impor, negosiasi, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang tidak bisa dibicarakan secara online. Ada hal-hal khusus yang memang harus disampaikan secara empat mata," tuturnya.
Karena itu, ia meminta publik melihat kunjungan luar negeri Presiden dalam konteks diplomasi dan kepentingan strategis negara, bukan sekadar menghitung jumlah perjalanan yang dilakukan.
"Saya yakin beliau memiliki banyak program-program positif yang harus segera dituntaskan," pungkas Dudung.
Baca Juga: Dua Bulan Beroperasi, Pegadaian Timor Leste Tumbuh Pesat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









