Akurat Logo

Pembubaran Diskusi di UGM Dinilai Bertentangan dengan Tradisi Akademik

Ayu Rachmaningtyas | 16 Juni 2026, 22:13 WIB
Pembubaran Diskusi di UGM Dinilai Bertentangan dengan Tradisi Akademik
Pembubaran diskusi yang berlangsung di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

AKURAT.CO Pembubaran diskusi yang berlangsung di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, mendapat sorotan dari bebagai pihak.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai, tindakan tersebut tidak mencerminkan karakter dan tradisi akademik yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan kampus.

Ia pun menyayangkan adanya aksi pembubaran terhadap forum diskusi yang seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan.

Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi.

Namun, perbedaan itu seharusnya disikapi melalui dialog, argumentasi, dan diskusi yang sehat, bukan dengan tindakan yang mengarah pada intimidasi atau pembungkaman.

"Memaksakan pendapat, merasa paling benar, dan bertindak anarkis bukanlah sifat seorang mahasiswa. Kampus adalah ruang intelektual yang dibangun di atas kebebasan berpikir dan kebebasan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab," kata Iwan dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).

Baca Juga: BEM Bersatu Soroti Keterkaitan Tiyo Ardianto dengan Purnawirawan Jenderal TNI dan Tokoh PDIP dalam Aksi Mahasiswa

Ia menegaskan mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok intelektual yang dituntut mengedepankan rasionalitas dalam menyikapi setiap perbedaan pendapat.

Karena itu, gagasan yang dianggap keliru seharusnya dilawan dengan argumentasi dan pemikiran yang lebih kuat, bukan dengan upaya membungkam pihak lain.

"Mahasiswa itu mengedepankan intelektualitas, rasionalitas, dan nilai-nilai demokrasi. Jika ada pandangan yang tidak disetujui, maka jawabannya adalah diskusi, debat, dan argumentasi yang sehat, bukan tindakan yang menghalangi kebebasan akademik," ujarnya.

Iwan juga mengingatkan pentingnya menjaga tradisi intelektual di kampus sebagai bagian dari proses pembelajaran demokrasi.

Menurutnya, ruang akademik yang terbuka akan mendorong lahirnya budaya berpikir kritis sekaligus memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia.

"Perbedaan pendapat tidak boleh menjadi alasan untuk menutup ruang dialog. Justru dalam perbedaan itulah mahasiswa belajar menghargai demokrasi, menguji gagasan, dan mencari kebenaran secara ilmiah," tegasnya.

Baca Juga: Ogah Hadap Kamera di Sesi Foto Piala Dunia 2026, Marcelo Bielsa: Saya Bukan Model!

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.