AKURAT.CO Di tengah ketegangan geopolitik dan perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk memperluas pasar ekspor.
Hal ini disampaikan oleh Market Intelligence & Leads Management Chief Specialist Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, Rini Satriani.
Menurut Rini, ketidakpastian global akibat kebijakan proteksionisme dan tarif baru justru dapat menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk mengalihkan fokus ekspor ke negara-negara mitra lain seperti BRICS dan anggota Trans-Pacific Partnership (TPP).
“Potensi perdagangan belum tergarap (unrealized potential) di negara-negara BRICS dan TPP masih sangat besar. Komoditas seperti minyak sawit, ikan sarden, gula, hingga produk rumah tangga seperti sampo memiliki ruang pasar yang menjanjikan,” ujar Rini dalam keterangannya, Kamis (1/5/2025).
Data LPEI mencatat, potensi ekspor minyak sawit dan turunannya mencapai USD9,8 juta, ikan sarden USD23 juta, gula USD5,4 juta, dan produk rumah tangga seperti sampo hingga USD32,9 juta di kawasan tersebut.
Rini menekankan bahwa untuk merebut pasar ekspor baru, eksportir Indonesia dituntut untuk lebih inovatif, proaktif, dan meningkatkan daya saing produk. Diversifikasi pasar menjadi salah satu kunci utama agar Indonesia tidak bergantung pada pasar tradisional semata.
“Diversifikasi memang tidak mudah, namun bukan tidak mungkin. Selama kualitas produk dijaga dan buyer yang kredibel berhasil diidentifikasi, maka pasar baru bisa digarap dengan lebih sustain,” tambahnya.
Sebagai bentuk dukungan, LPEI akan terus mendampingi pelaku ekspor nasional melalui penyediaan informasi pasar, pemetaan buyer, hingga pendampingan strategis. Tidak hanya dalam aspek finansial, tetapi juga pemberdayaan pengetahuan pasar bagi eksportir.
Di tengah dinamika geopolitik dan volatilitas rantai pasok global, Rini mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko dampak langsung maupun tidak langsung dari rivalitas AS-China terhadap ekspor Indonesia.
Sekitar 10% ekspor Indonesia ke AS disebut akan terdampak langsung oleh kebijakan tarif resiprokal. Sementara itu, dampak tidak langsung muncul dari ketatnya persaingan pasar akibat pengalihan pasokan dari China ke negara lain.
Meski demikian, Indonesia tetap menatap optimis prospek ekspor jangka menengah dan panjang. Dukungan program strategis seperti Penugasan Khusus Ekspor (PKE) Kawasan dari LPEI diharapkan dapat mendorong pembukaan pasar di kawasan Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah.
“Dengan menggarap peluang ini secara serius dan kolaboratif, Indonesia berpeluang memperkuat eksistensi produknya di pasar global,” tukas Rini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










