Pengusaha Angkutan Patuh ODOL Diminta Dapat Insentif Nyata dari Pemerintah

AKURAT.CO Pemerintah diminta untuk lebih menghargai serta mengapresiasi pengusaha angkutan yang telah bersusah payah menyesuaikan armada mereka agar tidak lagi mengalami kelebihan dimensi dan kelebihan muatan (Over Dimension dan Over Load/ODOL).
Demikian diungkapkan oleh Pemerhati Transportasi, Muhammad Akbar, seraya menilai bahwa hingga saat ini kepatuhan yang dilakukan oleh banyak pengusaha tersebut belum dihargai secara nyata dan layak oleh pemerintah.
"Sejauh ini apresiasi yang diberikan masih bersifat verbal dan belum disertai insentif konkret yang dapat meringankan beban atau mendukung kelangsungan usaha mereka," terang Akbar dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/10/2025).
Baca Juga: ODOL Masih Jadi Masalah, Perlu Penindakan Tegas dan Insentif yang Adil
Akbar menekankan, insentif nyata bisa menjadi motor penggerak kepatuhan yang berkelanjutan.
"Bentuknya bisa berupa kebijakan fiskal maupun non fiskal yang memberi nilai tambah bagi pelaku usaha yang mematuhi aturan," tuturnya.
Akbar pun merincikan, beberapa bentuk insentif yang layak dipertimbangkan antara lain, pertama, diperlukannya diskon tarif tol bagi kendaraan non-ODOL pada ruas-ruas tertentu.
Kedua, subsidi atau potongan harga BBM bersubsidi untuk armada yang sesuai standar dimensi dan muatan.
Ketiga, diskon biaya servis di bengkel resmi yang bekerja sama dengan pemerintah, untuk mendorong pemeliharaan kendaraan secara rutin dan berkala.
Baca Juga: Gandeng Kementerian dan Lembaga, Polri Akan Tertibkan Kendaraan ODOL
Keempat, kemudahan pembiayaan berbunga rendah, agar pengusaha bisa mengganti armada ODOL dengan kendaraan yang sesuai regulasi tanpa tekanan modal yang besar.
Skema ini tidak hanya mengurangi hambatan modal, tetapi juga mendorong percepatan transformasi menuju sistem transportasi yang lebih aman dan tertib.
"Insentif semacam ini akan menciptakan keseimbangan. Kepatuhan tidak lagi terasa sebagai beban berat yang tidak sebanding, melainkan sebagai investasi yang masuk akal. Selama pelanggaran lebih menguntungkan secara ekonomi, kendaraan ODOL akan tetap menjadi pilihan pragmatism," pungkas Akbar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








