Harga Minyak Naik Tajam, DPR Desak Pemerintah Percepat Kemandirian Energi

AKURAT.CO Kenaikan tajam harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang menembus US$69,33 per barel akibat memanasnya situasi di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas energi nasional.
Menanggapi hal ini, Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Jalal Abdul Nasir, mendesak pemerintah memperkuat kebijakan strategis dan segera bertransformasi menuju kemandirian energi.
“Fluktuasi tajam harga minyak akibat konflik di Timur Tengah menegaskan betapa rapuhnya ketahanan energi kita jika terus bergantung pada dinamika global. Ini harus menjadi peringatan sekaligus momentum untuk mempercepat transformasi energi nasional,” ujar Jalal dalam keterangannya, Sabtu (12/7/2025).
Ia menekankan pentingnya percepatan peningkatan lifting minyak dan gas nasional sebagai solusi jangka pendek untuk menekan impor dan memperkuat pasokan dalam negeri.
Jalal mendorong SKK Migas dan para kontraktor energi untuk lebih agresif meningkatkan target produksi, terlebih menjelang pembahasan RAPBN 2026.
Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur energi, termasuk pembangunan kilang dalam negeri dan optimalisasi distribusi BBM.
Ia menyebut hasil kunjungannya ke Fuel Terminal Cikampek memperlihatkan kebutuhan perluasan teknologi seperti Terminal Automation System (TAS) ke wilayah-wilayah strategis lainnya.
Baca Juga: Duta Pariwisata Riau
Selain itu, Jalal mengapresiasi program transisi energi berbasis komunitas seperti Desa Energi Berdikari (DEB) yang dinilainya berhasil menjawab tantangan energi sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat desa.
“Program seperti DEB harus diarusutamakan sebagai bagian dari peta jalan transisi energi nasional yang berkelanjutan dan berkeadilan,” tambahnya.
Terkait beban subsidi energi, ia mengingatkan pemerintah agar mewaspadai potensi lonjakan akibat kenaikan harga minyak dunia.
Evaluasi terhadap skema subsidi dinilai penting untuk menjaga keseimbangan APBN tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.
“Pemerintah dan DPR harus duduk bersama merumuskan langkah konkret. Kita tidak bisa lagi bersikap reaktif. Harus ada strategi jangka panjang untuk mewujudkan kemandirian dan keadilan energi,” tegasnya.
Jalal menegaskan, krisis harga minyak ini bukan sekadar soal angka di pasar global, melainkan soal kedaulatan energi bangsa.
“Saatnya Indonesia menata ulang orientasi energinya, dari bergantung pada pasar global menjadi negara yang kuat secara produksi, adil dalam distribusi, dan tangguh menghadapi krisis,” pungkasnya.
Baca Juga: AJAIB Gelar Aksi Damai Desak Reformasi di Kemenag
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









