Produksi Susu Lokal Digenjot, Pemerintah Siap Rem Impor Skim

AKURAT.CO Pemerintah menegaskan komitmennya melindungi peternak sapi perah nasional dengan mendorong koperasi masuk ke industri pengolahan susu dan membatasi impor susu bubuk skim. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan usaha peternak lokal.
Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono mengatakan, selama ini industri pengolahan susu di Indonesia masih banyak bergantung pada bahan baku impor berupa susu bubuk skim. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar dari peternak sapi perah dalam negeri.
“Kalau koperasi mampu membangun industri pengolahan susu sendiri, maka produk susu peternak kita akan terserap. Impor susu bubuk skim akan kita larang karena itu mematikan peternak sapi perah,” kata Ferry.
Baca Juga: Menkop Ferry: Milad 120 Tahun Syarikat Islam Momentum Perkuat Ekonomi Umat
Ia menambahkan, regulasi yang sebelumnya membuka keran impor susu bubuk skim kini sudah tidak berlaku. Pemerintah akan mengarahkan kebijakan agar industri lebih memprioritaskan bahan baku susu segar dari peternak lokal.
Selain itu, Menkop juga mendorong peningkatan populasi sapi perah nasional untuk menjamin pasokan susu dalam negeri. Dukungan pemerintah akan diberikan mulai dari pembiayaan, advokasi kebijakan, hingga penguatan koperasi produsen.
“Kita tidak boleh kalah dengan industri swasta. Koperasi harus bisa memproduksi susu bubuk sendiri agar manfaat ekonominya langsung dirasakan peternak,” ujarnya.
Direktur Utama LPDB Koperasi Krisdianto menambahkan, KPBS Pangalengan merupakan salah satu koperasi mitra LPDB dengan kinerja baik. Koperasi ini sebelumnya telah menerima pembiayaan dana bergulir sebesar Rp15 miliar dan telah melunasinya.
“KPBS juga sudah memiliki mitra offtaker besar seperti Ultra Jaya dan Frisian Flag, serta menjadi pemasok untuk sejumlah SPPG dalam program MBG,” kata Krisdianto.
Baca Juga: Menkop Ferry: Percepatan Operasionalisasi Kopdes Bakal Bantu Pengendalian Inflasi
KPBS Pangalengan yang berdiri sejak 1969 kini memiliki lebih dari 4.500 anggota, dengan populasi sapi perah mencapai 16 ribu ekor. Produksi susu harian koperasi ini mencapai 80 ton per hari, didukung oleh 28 Tempat Pelayanan Koperasi (TPK) berbasis sistem ERP.
Ketua KPBS Pangalengan Aun Gunawan menegaskan, kesiapan infrastruktur dan tata kelola menjadi modal penting koperasi untuk naik kelas. “Kami terus berbenah agar kualitas, keamanan, dan ketelusuran produk susu memenuhi standar nasional,” ujarnya.
Pemerintah berharap, penguatan koperasi susu seperti KPBS Pangalengan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah di dalam negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








