Lion Parcel Beberkan Alasan Industri Logistik Perang Promo Jelang Ramadan 2026
Hefriday | 3 Februari 2026, 18:17 WIB

AKURAT.CO Menjelang Ramadan 2026, industri logistik nasional tak hanya bersiap menghadapi lonjakan volume kiriman, tetapi juga memanasnya persaingan promo antar perusahaan.
Diskon ongkir dan insentif transaksi digital kembali menjadi senjata utama untuk merebut permintaan pasar, di tengah tekanan efisiensi yang belum sepenuhnya mereda.
Pola ini berulang setiap periode puncak, namun skala kompetisi dinilai semakin agresif. Pelaku industri berupaya mendorong volume pengiriman setinggi mungkin, sembari menjaga loyalitas pelanggan yang kian sensitif terhadap harga.
Merespon hal tersebut, Chief Marketing Officer Lion Parcel, Kenny Kwanto menegaskan bahwa promosi tidak hanya dimaksudkan sebagai insentif harga, tetapi juga bagian dari strategi efisiensi jangka panjang.
Baca Juga: Lion Parcel Bidik Pertumbuhan Double Digit di Semester I-2026
“Promo ini merupakan bentuk apresiasi kepada pelanggan sekaligus upaya mendorong efisiensi dan pemanfaatan kanal digital dalam ekosistem logistik,” ujar Kenny di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Namun di sisi lain, tambah Kenny, strategi diskon memunculkan tantangan terhadap keberlanjutan margin industri. Biaya operasional logistik relatif tinggi, mencakup transportasi, pergudangan, teknologi, hingga tenaga kerja. Ketika harga ditekan melalui promo, ruang keuntungan berpotensi menyempit jika tidak diimbangi efisiensi.
"Persaingan harga juga terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi layanan cepat dan transparan. Artinya, perusahaan tidak bisa sekadar memangkas tarif tanpa memperkuat sistem operasional dan teknologi pendukung," katanya.
Senada dengan Kenny, Chief Experience Officer Lion Parcel, Budi Santoso menyebut perusahaan telah melakukan penguatan infrastruktur dan teknologi sepanjang 2025, termasuk ekspansi fasilitas hub, optimalisasi armada, serta pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk proses penyortiran dan validasi pengiriman.
“Optimalisasi teknologi dan infrastruktur merupakan investasi penting untuk menjaga efisiensi operasional dan kualitas layanan, terutama saat volume pengiriman meningkat,” kata Budi.
Pendekatan ini mencerminkan tren industri, di mana promo diposisikan sebagai pintu masuk peningkatan volume, sementara efisiensi digital menjadi penopang profitabilitas. Tanpa dukungan sistem yang kuat, lonjakan kiriman justru dapat memicu keterlambatan, komplain, hingga biaya tambahan.
“Promo ini merupakan bentuk apresiasi kepada pelanggan sekaligus upaya mendorong efisiensi dan pemanfaatan kanal digital dalam ekosistem logistik,” ujar Kenny di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Namun di sisi lain, tambah Kenny, strategi diskon memunculkan tantangan terhadap keberlanjutan margin industri. Biaya operasional logistik relatif tinggi, mencakup transportasi, pergudangan, teknologi, hingga tenaga kerja. Ketika harga ditekan melalui promo, ruang keuntungan berpotensi menyempit jika tidak diimbangi efisiensi.
"Persaingan harga juga terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi layanan cepat dan transparan. Artinya, perusahaan tidak bisa sekadar memangkas tarif tanpa memperkuat sistem operasional dan teknologi pendukung," katanya.
Senada dengan Kenny, Chief Experience Officer Lion Parcel, Budi Santoso menyebut perusahaan telah melakukan penguatan infrastruktur dan teknologi sepanjang 2025, termasuk ekspansi fasilitas hub, optimalisasi armada, serta pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk proses penyortiran dan validasi pengiriman.
“Optimalisasi teknologi dan infrastruktur merupakan investasi penting untuk menjaga efisiensi operasional dan kualitas layanan, terutama saat volume pengiriman meningkat,” kata Budi.
Pendekatan ini mencerminkan tren industri, di mana promo diposisikan sebagai pintu masuk peningkatan volume, sementara efisiensi digital menjadi penopang profitabilitas. Tanpa dukungan sistem yang kuat, lonjakan kiriman justru dapat memicu keterlambatan, komplain, hingga biaya tambahan.
Meskipun begitu, Budi mengakui strategi promo memang efektif mendongkrak permintaan, akan tetapi dalam jangka panjang, ketahanan model bisnis akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengendalikan biaya di balik diskon yang ditawarkan.
"Nah, di titik inilah, perang promo berubah menjadi ujian ketahanan industri logistik itu sendiri," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








