Kementan Gelontorkan Rp336 Miliar Untuk Rehabilitasi Sawah Banjir

AKURAT.CO Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan anggaran sekitar Rp336 miliar untuk mempercepat rehabilitasi lahan sawah terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan pasokan pangan daerah tetap terjaga di tengah potensi curah hujan tinggi pada awal 2026.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Hermanto, mengatakan anggaran tersebut difokuskan untuk memulihkan sawah dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang agar segera kembali berproduksi.
Baca Juga: Kementan Buka Peluang Kerja Sama Kesehatan Hewan dengan USDA
“Anggaran tersebut digunakan untuk memulihkan sawah dengan tingkat kerusakan ringan hingga sedang agar dapat segera kembali berproduksi dan menjaga pasokan pangan daerah,” kata Hermanto dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (16/2/2026).
Program ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan groundbreaking rehabilitasi yang dilaksanakan serentak pada 15 Januari 2026. Percepatan rehabilitasi menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Namun demikian, pelaksanaan di lapangan menghadapi tantangan cuaca. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), intensitas curah hujan pada periode Januari hingga Maret 2026 masih berada pada level menengah hingga tinggi.
Hermanto mengakui kondisi tersebut berdampak pada proses teknis rehabilitasi, khususnya dalam pengangkatan sedimen dan lumpur yang menutup lahan sawah serta saluran irigasi.
“Saat ini kita akan melakukan survei ulang di lapangan untuk mengidentifikasi sedimen atau endapan lumpur baru yang ke depan akan mempengaruhi biaya penanganannya, seperti pembuangan sedimen di lahan dan saluran irigasi,” ujarnya.
Baca Juga: Dukung Program MBG, Kementan Percepat Hilirisasi Ayam di 6 Daerah
Secara teknis, intervensi dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan. Untuk sawah dengan kerusakan ringan, Kementan menjalankan program optimasi lahan. Sementara kerusakan sedang hingga berat ditangani melalui rehabilitasi khusus dengan prioritas pembersihan lahan sesuai dokumen rencana teknis dan pagu anggaran.
Arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan optimasi lahan sawah terdampak bencana seluas 32 ribu hektare. Kegiatan konstruksi meliputi pembersihan dan penataan lahan, perbaikan infrastruktur, pengolahan tanah hingga pemanfaatan kembali lahan.
Adapun rehabilitasi lahan sawah terdampak banjir dialokasikan seluas 9,9 ribu hektare dengan fokus pada pembersihan lahan, perataan tanah, galian saluran irigasi, pembangunan pematang, hingga perbaikan drainase dan infrastruktur pendukung tingkat usaha tani.
Program ini dibagi dalam tiga tahap, yakni penyusunan rancangan teknis, konstruksi, dan olah lahan. Saat ini, ketiga provinsi masih dalam tahap kontraktual penyusunan dokumen teknis yang bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, disertai penyesuaian anggaran berdasarkan kebutuhan aktual di lapangan.
Kementan menegaskan bahwa intervensi tidak hanya berfokus pada pekerjaan fisik, tetapi juga mencakup penguatan tata kelola, pendampingan teknis, serta monitoring dan evaluasi berkala. Pelaksanaan dilakukan secara kolaboratif dengan pemerintah daerah dan petani setempat agar penanganan sesuai kondisi riil.
“Pendekatan ini diharapkan mampu mengembalikan fungsi lahan sawah secara optimal, memperluas areal tanam, serta meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Hermanto.
Melalui langkah ini, pemerintah menargetkan rehabilitasi berjalan tepat waktu, tepat mutu, dan tepat sasaran demi menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah tantangan iklim yang belum sepenuhnya mereda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










