Konflik Timur Tengah Buka Peluang LNG AS Masuk ke China

AKURAT.CO Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mengubah peta perdagangan energi global, termasuk membuka peluang bagi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) Amerika Serikat kembali masuk ke pasar China.
Sebelumnya, hubungan dagang energi kedua negara memburuk setelah Presiden AS, Donald Trump memberlakukan tarif besar terhadap produk China pada Februari tahun lalu.
Beijing kemudian membalas dengan mengenakan tarif 15% untuk LNG AS dan 10% untuk minyak mentah AS.
Baca Juga: Usai 17 Pengangkutan LNG, PIS dan PGN Perluas Kerja Sama Strategis
Kebijakan tersebut membuat impor energi asal AS ke China nyaris berhenti dalam waktu singkat.
Padahal, secara struktur pasar, kedua negara memiliki hubungan yang saling membutuhkan.
Amerika Serikat merupakan eksportir LNG terbesar di dunia sekaligus produsen minyak utama, sementara China menjadi importir energi terbesar secara global.
Situasi mulai berubah setelah gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz yang menghambat sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas laut dunia.
Kondisi tersebut mendorong harga energi global naik dan menekan pasokan LNG China, terutama dari Qatar yang menyumbang sekitar 30% impor LNG Negeri Tirai Bambu pada tahun lalu.
Baca Juga: Petrosea Cs Kantongi Proyek LNG Masela Senilai Rp989 Miliar
Di tengah gangguan pasokan tersebut, LNG AS dinilai berpotensi mengisi sebagian kekurangan kebutuhan energi China.
“China menawarkan pertumbuhan permintaan yang paling dapat diprediksi di dunia,” kata Kepala Ahli Institute of Economics and Technology CNPC, Liu Jia, dikutip dari laman China Daily.
Menurutnya, skala permintaan China menjadi faktor penting untuk menopang investasi proyek LNG Amerika Serikat dalam jangka panjang.
Data menunjukkan perusahaan-perusahaan China telah mengamankan kontrak sekitar 28 juta ton LNG per tahun dari proyek-proyek AS, baik yang sudah berjalan maupun yang masih dikembangkan.
Namun, sejak perang dagang dimulai, perusahaan China menghentikan penandatanganan kontrak baru dengan fasilitas LNG AS.
Di sisi lain, kapasitas ekspor LNG Amerika Serikat diperkirakan meningkat dua kali lipat hingga 2030.
Kondisi tersebut membuat pasar China menjadi sangat penting bagi pengembang energi AS untuk menjaga keberlanjutan proyek ekspor mereka.
Meski demikian, peluang normalisasi perdagangan energi kedua negara masih dipenuhi ketidakpastian.
Beijing disebut akan mempertimbangkan pencabutan tarif berdasarkan konsesi yang ditawarkan Washington dalam negosiasi perdagangan yang lebih luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








