Hilirisasi Tembaga Jadi Kunci Kemandirian Industri Pertahanan RI

AKURAT.CO Indonesia menghadapi sebuah paradoks, menguasai 3% cadangan tembaga dunia, tetapi masih mengimpor bahan baku amunisi dari luar negeri.
Kondisi itu kini mendorong sinergi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan untuk membangun kemandirian dari hulu ke hilir.
Data Kementerian Investasi/BKPM menempatkan Indonesia di urutan ketujuh cadangan tembaga dunia dan ke-11 dalam produksi tambang.
Namun, industri hilir tembaga Indonesia hanya berada di peringkat ke-18, berada di bawah Jepang, India, Korea, bahkan Bulgaria, yang tidak memiliki sumber daya mineral tembaga sama sekali.
Salah satu produk hilir strategis yang kini menjadi sorotan adalah brass cup, bahan baku selongsong amunisi yang selama ini masih dipasok dari impor.
Hilirisasi Tembaga untuk Perkuat Industri Pertahanan
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai hilirisasi tembaga memiliki posisi strategis dalam mendukung kemandirian industri pertahanan nasional.
Pengolahan tembaga secara terintegrasi, kata dia, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alat utama sistem persenjataan (alutsista), amunisi, hingga teknologi pertahanan strategis.
"Dengan adanya integrasi antara sektor pertambangan dan industri pertahanan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku, tetapi juga memperkuat posisi dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional," ujar Dave melalui keterangan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Senin, 18 Mei 2026.
Urgensi hilirisasi ini tercermin dari tren impor yang terus menanjak. Berdasarkan data Perkembangan Impor Non-Migas Kementerian Perdagangan, nilai impor tembaga dan produk turunannya tumbuh rata-rata 5,11% per tahun dalam periode 2021–2025, dari US 1,90 miliar — naik 15,27% secara kumulatif.
Dave optimistis hilirisasi yang dijalankan secara konsisten dapat membangun ekosistem pertahanan yang lebih mandiri dan berdaya saing, sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif serta komitmen menjadikan sektor pertahanan sebagai pilar stabilitas nasional.
"Komisi I DPR RI akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta agar hilirisasi tembaga benar-benar memberikan manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan," tambahnya.
Baca Juga: MIND ID Bidik Investasi dan Transfer Teknologi Mineral dari Kazakhstan
Baca Juga: Tembaga Jadi Komoditas Strategis, Ini 3 Sektor Utama Pendorong Permintaan Global
Kolaborasi MIND ID dan Pindad Produksi Brass Cup
Di sisi produksi, langkah konkret mulai bergulir.
MIND ID melalui PT Freeport Indonesia bekerja sama dengan DEFEND ID melalui PT Pindad untuk memproduksi brass cup di Gresik, dengan kapasitas 10.000 ton per tahun guna memenuhi kebutuhan komponen amunisi dalam negeri.
Ke depan, MIND ID juga berencana mengembangkan fasilitas hilirisasi untuk memproduksi batang tembaga dan kawat tembaga berkapasitas 300.000 ton per tahun, serta pipa tembaga berkapasitas 100.000 ton per tahun, yang semuanya berbasis katoda tembaga hasil produksi Freeport Indonesia.
Hilirisasi Mineral Tingkatkan Nilai Tambah Nasional
Produk hilirisasi tembaga ini juga dapat menjadi bahan baku bagi berbagai industri pertahanan yang sarat dengan tembaga. Langkah ini adalah kontribusi nyata MIND ID sebagai perusahaan milik negara dalam menjalankan hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah komoditas mineral di dalam negeri.
Pengembangan industri hilir berbasis tembaga dinilai tidak hanya penting untuk menekan impor, tetapi juga membuka peluang terciptanya rantai pasok industri strategis nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Baca Juga: Freeport Tambah Setoran Rp4,8 Triliun, Total ke Negara Capai Rp75 T
Baca Juga: Freeport Indonesia Perkuat Peran sebagai Pilar Ekonomi Papua dan Nasional
FAQ
Apa itu brass cup dalam industri pertahanan?
Brass cup adalah bahan baku utama untuk pembuatan selongsong amunisi. Produk ini berbahan dasar tembaga dan kuningan yang digunakan dalam industri pertahanan untuk mendukung produksi peluru dan komponen amunisi.
Mengapa hilirisasi tembaga penting bagi Indonesia?
Hilirisasi tembaga penting karena dapat meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor, serta memperkuat industri strategis nasional seperti pertahanan dan manufaktur.
Mengapa Indonesia masih mengimpor bahan baku amunisi?
Meskipun memiliki cadangan tembaga besar, kapasitas industri hilir Indonesia masih terbatas. Akibatnya, bahan baku seperti brass cup masih harus dipenuhi melalui impor dari luar negeri.
Siapa saja yang terlibat dalam proyek produksi brass cup di Indonesia?
Produksi brass cup melibatkan MIND ID melalui PT Freeport Indonesia dan DEFEND ID melalui PT Pindad untuk memenuhi kebutuhan komponen amunisi dalam negeri.
Berapa kapasitas produksi brass cup yang direncanakan?
Fasilitas produksi brass cup di Gresik ditargetkan memiliki kapasitas hingga 10.000 ton per tahun untuk mendukung kebutuhan industri pertahanan nasional.
Apa manfaat hilirisasi tembaga bagi industri pertahanan?
Hilirisasi tembaga dapat memperkuat rantai pasok industri pertahanan, meningkatkan kemandirian produksi alutsista, serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Apa rencana pengembangan hilirisasi tembaga selanjutnya?
MIND ID berencana mengembangkan produksi batang tembaga, kawat tembaga, dan pipa tembaga berbasis katoda tembaga hasil produksi Freeport Indonesia guna memperluas ekosistem industri hilir nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







