Akurat Logo

Kurangi Ketergantungan Impor BBM, Subsidi EV Berbasis Nikel Dinilai Jadi Kunci Kedaulatan Energi

Idham Nur Indrajaya | 20 Mei 2026, 13:13 WIB
Kurangi Ketergantungan Impor BBM, Subsidi EV Berbasis Nikel Dinilai Jadi Kunci Kedaulatan Energi
Subsidi kendaraan listrik berbasis nikel dinilai menjadi kunci mengurangi impor BBM sekaligus memperkuat hilirisasi nikel dan industri baterai nasional Indonesia. dok. MIND ID

AKURAT.CO Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai mengarahkan kebijakan subsidi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC).

Kebijakan tersebut dinilai penting bukan hanya untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini terus membebani neraca perdagangan dan fiskal negara, tetapi memperkuat ekosistem baterai nasional.

Adapun pemerintah memiliki rencana pemberian subsidi kendaraan listrik dengan alokasi 200 ribu unit untuk motor dan mobil listrik. Subsidi kendaraan listrik yang rencananya bergulir mulai Juni 2026 ini, bertujuan untuk mengurangi impor serta konsumsi BBM dalam jangan panjang.

Berdasarkan skema yang sedang disiapkan, pemerintah akan memberikan insentif antara lain PPN DTP sebesar 100% untuk mobil listrik berbasis baterai nikel atau nickel manganese cobalt (NMC), PPN DTP sebesar 40% untuk mobil listrik dengan baterai selain nikel, dan Subsidi pembelian motor listrik sebesar Rp5 juta per unit.

Subsidi EV Berbasis Nikel Dinilai Strategis

Fahmi menilai pengembangan kendaraan listrik berbasis NMC menjadi strategis karena Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang dapat diintegrasikan langsung dengan industri baterai nasional.

Berbeda dengan teknologi lithium iron phosphate (LFP) yang bahan bakunya belum diproduksi di Indonesia, teknologi NMC dinilai lebih relevan untuk mendorong hilirisasi mineral domestik dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

“Kalau dilihat sekarang pemerintah lebih selektif. Untuk pemberian insentif pada kendaraan berbasis nikel saya kira bagus, karena kita punya produksi nikel sehingga bisa mendorong hilirisasi menjadi bagian dari ekosistem kendaraan listrik nasional,” kata Fahmi.

Menurut dia, kebijakan terbaru pemerintah juga lebih baik dibanding skema sebelumnya karena mulai mengurangi insentif terhadap kendaraan listrik impor utuh atau completely built up (CBU). Langkah tersebut dinilai dapat memperbesar peluang tumbuhnya industri kendaraan listrik dan baterai di dalam negeri.

Baca Juga: Kebut Proyek Hilirisasi, Kementerian ESDM Intensifkan Koordinasi dengan Danantara

Baca Juga: Hilirisasi Tembaga dan Emas Terintegrasi di Gresik Serap Hingga 7.500 Tenaga Kerja

Pasar EV Nasional Masih Didominasi Baterai LFP

Pasar kendaraan listrik Indonesia sendiri terus menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, total penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) mencapai 56.204 unit pada 2024 dan melonjak menjadi 114.413 unit sepanjang 2025.

Namun, pertumbuhan tersebut masih didominasi kendaraan listrik dengan baterai lithium iron phosphate (LFP). Berdasarkan pengolahan data wholesales GAIKINDO yang mengklasifikasikan model kendaraan berdasarkan jenis baterai, penjualan EV berbasis LFP mencapai 46.814 unit atau 83,3 persen dari total pasar pada 2024. Sementara kendaraan berbasis nickel manganese cobalt (NMC/NCMA) hanya mencapai 9.390 unit atau 16,7 persen.

Pada 2025, dominasi LFP memang mulai sedikit menurun, tetapi masih menguasai pasar dengan penjualan 88.344 unit atau 77,2 persen. Sementara kendaraan berbasis NMC meningkat menjadi 26.069 unit atau 22,8 persen dari total penjualan EV nasional.

Data tersebut menunjukkan kendaraan berbasis NMC mulai tumbuh lebih cepat. Penjualan EV berbasis NMC tercatat melonjak 177,6 persen sepanjang 2025, lebih tinggi dibanding pertumbuhan LFP sebesar 88,7 persen.

Secara global, tren industri kendaraan listrik memang mulai bergeser ke penggunaan baterai LFP karena biaya produksinya lebih murah.

Laporan International Energy Agency mencatat baterai LFP telah menguasai hampir separuh pasar baterai kendaraan listrik dunia pada 2024 dan terus tumbuh pesat, terutama di pasar China dan Asia.

Hilirisasi Nikel Jadi Penentu Kemandirian Industri EV

Di sisi lain, Indonesia justru memiliki keunggulan besar pada rantai pasok nikel yang menjadi bahan utama baterai NMC.

Oleh karena itu, Fahmi menilai pertumbuhan pasar EV nasional harus dimanfaatkan untuk memperkuat hilirisasi mineral domestik dan industri baterai nasional.

Ia mengingatkan, jika pasar kendaraan listrik Indonesia terus tumbuh tetapi lebih banyak didominasi teknologi LFP, maka potensi nilai tambah industri justru berisiko mengalir ke luar negeri. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang yang sayang jika tidak dioptimalkan melalui kebijakan yang mendukung pengembangan kendaraan listrik berbasis nikel.

“Yang paling penting justru bagaimana ini menjadi kesempatan bagi Indonesia menciptakan ekosistem industrialisasi kendaraan listrik dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

Fahmi menilai pengembangan industri kendaraan listrik tidak cukup hanya mengandalkan subsidi. Pemerintah juga perlu memastikan adanya pembangunan fasilitas produksi di Indonesia, peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta transfer teknologi dari investor asing agar Indonesia dapat membangun industri kendaraan listrik yang mandiri.

Ia menambahkan, konsistensi roadmap hilirisasi menjadi faktor penting agar pengembangan kendaraan listrik benar-benar memberikan dampak ekonomi nasional.

Dengan pasar domestik yang besar dan dukungan sumber daya mineral strategis, Indonesia dinilai memiliki posisi tawar kuat untuk menarik investasi industri baterai dan kendaraan listrik global.

Fahmi juga menilai BUMN pertambangan seperti MIND ID dapat memainkan peran strategis dalam memperkuat hilirisasi nikel dan pengembangan industri baterai nasional.

Menurut dia, konsistensi kebijakan subsidi berbasis nikel akan menjadi kunci agar pertumbuhan pasar kendaraan listrik tidak hanya menguntungkan produsen asing, tetapi juga memperkuat industri berbasis sumber daya alam mineral batu bara nasional.

Baca Juga: Hilirisasi Nikel Tumbuh, Struktur Industri Masih Rapuh

Baca Juga: Hilirisasi Tembaga Jadi Kunci Kemandirian Industri Pertahanan RI

FAQ

Apa tujuan pemerintah memberikan subsidi kendaraan listrik berbasis nikel?

Pemerintah ingin mengurangi ketergantungan impor BBM sekaligus memperkuat hilirisasi nikel dan industri baterai nasional melalui pengembangan kendaraan listrik berbasis NMC.

Apa perbedaan baterai NMC dan LFP?

Baterai NMC menggunakan bahan baku nikel, mangan, dan kobalt yang tersedia di Indonesia, sedangkan baterai LFP menggunakan lithium iron phosphate yang bahan bakunya belum diproduksi di dalam negeri.

Mengapa Indonesia dinilai unggul dalam pengembangan baterai NMC?

Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia sehingga memiliki keunggulan rantai pasok untuk mendukung industri baterai berbasis NMC.

Berapa rencana subsidi kendaraan listrik dari pemerintah?

Pemerintah menyiapkan subsidi untuk 200 ribu unit motor dan mobil listrik, termasuk PPN DTP 100% untuk mobil listrik berbasis baterai nikel dan subsidi motor listrik Rp5 juta per unit.

Mengapa kendaraan listrik berbasis LFP masih mendominasi pasar?

Baterai LFP memiliki biaya produksi lebih murah sehingga banyak digunakan produsen kendaraan listrik global, terutama dari China dan Asia.

Apa dampak hilirisasi nikel terhadap ekonomi Indonesia?

Hilirisasi nikel dapat menciptakan nilai tambah industri di dalam negeri, menarik investasi, memperkuat industri baterai nasional, dan membuka lapangan kerja baru.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.