Akurat Logo

Mengenal ANDAL, Program Citi Foundation dan YCAB Foundation untuk Membantu Anak Muda yang Kehilangan Arah di Dunia Kerja

Idham Nur Indrajaya | 29 Mei 2026, 13:40 WIB
Mengenal ANDAL, Program Citi Foundation dan YCAB Foundation untuk Membantu Anak Muda yang Kehilangan Arah di Dunia Kerja
Program ANDAL dari YCAB Foundation dan Citi Foundation bantu anak muda siap menghadapi dunia kerja digital Indonesia. dok. Citi Foundation

AKURAT.CO Banyak anak muda Indonesia hari ini sebenarnya tidak kekurangan mimpi. Yang sering hilang justru arah. Mereka punya akun media sosial aktif, bisa editing video, memahami tren digital, bahkan terbiasa menggunakan AI dan platform online. Namun ketika masuk ke dunia kerja, banyak yang mendadak bingung: skill apa yang benar-benar dibutuhkan industri?

Di tengah kondisi itu, istilah seperti “fresh graduate menganggur”, “job mismatch”, hingga “Gen Z sulit dapat kerja” makin sering muncul dalam pencarian Google dan media sosial. Tidak sedikit pula anak muda yang akhirnya mencoba bertahan lewat pekerjaan freelance, menjadi afiliator, content creator, atau berjualan online karena merasa jalur kerja formal semakin kompetitif.

Dalam konteks itulah, program ANDAL yang diluncurkan YCAB Foundation bersama Citi Foundation menjadi menarik untuk diperhatikan. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan upaya membangun kesiapan kerja generasi muda Indonesia di era ekonomi digital yang berubah sangat cepat.

Apa Itu Program ANDAL?

Program ANDAL adalah singkatan dari Anak Muda untuk Dunia Kerja dan Wirausaha Digital yang Inklusif, sebuah inisiatif dari YCAB Foundation dengan dukungan hibah Global Innovation Challenge 2025 dari Citi Foundation.

Program ini bertujuan:

  • meningkatkan kesiapan kerja generasi muda,

  • memperluas peluang ekonomi digital,

  • memperkuat soft skills dan keterampilan digital,

  • membuka akses kerja yang lebih inklusif bagi perempuan dan penyandang disabilitas.

Target program:

  • menjangkau 2.500 generasi muda,

  • berlangsung hingga Januari 2028,

  • fokus di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah,

  • sekitar 75 persen peserta perempuan,

  • sekitar 2 persen peserta penyandang disabilitas.

Pelatihan dilakukan secara hybrid dengan fokus pada:

  • pelatihan vokasi berbasis kompetensi,

  • soft skills,

  • literasi finansial,

  • edukasi Prevention of Sexual Harassment, Exploitation and Abuse (PSHEA),

  • pelatihan afiliator digital,

  • integrasi peserta ke platform ekonomi digital.

Mengapa Banyak Anak Muda Indonesia Belum Siap Masuk Dunia Kerja?

Inilah bagian yang sering luput dibahas.

Masalah utama generasi muda Indonesia sebenarnya bukan hanya kurangnya lapangan kerja. Banyak anak muda justru mengalami kebingungan identitas karier. Mereka tumbuh di era digital yang bergerak jauh lebih cepat dibanding sistem pendidikan maupun pelatihan kerja formal.

Akibatnya muncul paradoks:

  • anak muda sangat akrab dengan teknologi,

  • tetapi tidak tahu cara mengubah kemampuan digital menjadi nilai ekonomi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 yang disebut dalam peluncuran program ANDAL menunjukkan sekitar 9,58 juta generasi muda Indonesia atau 21,46 persen masuk kategori NEET (Not in Education, Employment, and Training).

Angka ini bukan sekadar statistik pengangguran biasa. Ini menunjukkan banyak anak muda berada di “ruang kosong”: tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan.

Yang menarik, kondisi ini justru muncul ketika ekonomi digital Indonesia sedang tumbuh sangat besar.

Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, ekonomi digital Indonesia diperkirakan hampir mencapai US$100 miliar pada 2025 dan tetap menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Artinya, peluang ekonomi sebenarnya tersedia. Masalahnya ada pada kesiapan SDM.

Program ANDAL Tidak Hanya Mengajarkan Skill Teknis

Banyak program pelatihan kerja gagal karena terlalu fokus pada hard skills.

Padahal realita di lapangan menunjukkan perusahaan kini mencari kombinasi:

  • kemampuan teknis,

  • komunikasi,

  • adaptasi,

  • disiplin,

  • kemampuan bekerja dalam tim,

  • serta literasi digital.

Hal ini juga disinggung Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI, Afriansyah Noor.

“Transformasi ekonomi digital harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia yang adaptif, kompeten, dan inklusif,” ujar Afriansyah Noor dalam acara peluncuran ANDAL di Jakarta, Selasa, 26 Mei 2026.

Ia menegaskan bahwa generasi muda membutuhkan akses lebih luas terhadap pelatihan dan peluang kerja agar mampu berkembang di dunia kerja yang terus berubah.

Pernyataan itu penting karena banyak anak muda hari ini sebenarnya bukan tidak pintar. Mereka hanya tidak pernah benar-benar dipersiapkan menghadapi dinamika industri digital.

Contohnya sederhana.

Banyak lulusan muda:

  • bisa membuat konten TikTok,

  • memahami tren media sosial,

  • mahir editing video,

  • aktif menggunakan AI tools,

tetapi tidak memahami:

  • cara membangun portofolio profesional,

  • etika komunikasi kerja,

  • manajemen waktu,

  • hingga strategi monetisasi skill.

Di sinilah program seperti ANDAL mencoba masuk.

Baca Juga: Tekanan Finansial Karyawan di Indonesia: Risiko Tersembunyi yang Menggerus Produktivitas di Dunia Kerja

Baca Juga: Prabowo Pilih Ciptakan Lapangan Kerja Ketimbang Bangun Kantor Megah: Rakyat Butuh Pekerjaan

Kenapa Perempuan dan Penyandang Disabilitas Jadi Fokus?

Ini juga salah satu sisi paling penting dari program ANDAL.

Dalam banyak diskusi tentang ekonomi digital, kelompok perempuan muda dan penyandang disabilitas sering dianggap otomatis akan ikut menikmati perkembangan teknologi. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di lapangan, perempuan muda masih menghadapi:

  • kesenjangan akses pelatihan,

  • stereotip pekerjaan,

  • tekanan sosial,

  • keterbatasan akses jaringan profesional.

Sementara penyandang disabilitas masih menghadapi hambatan:

  • akses pelatihan,

  • fasilitas,

  • peluang kerja formal,

  • hingga diskriminasi tersembunyi dalam proses rekrutmen.

Karena itu, langkah ANDAL yang menargetkan partisipasi perempuan hingga 75 persen menjadi cukup signifikan.

Chief Operating Officer YCAB Foundation, Linda Sukandar, mengatakan program ini dirancang agar generasi muda memiliki kesiapan kerja yang lebih relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

“Melalui Program ANDAL, YCAB Foundation berupaya untuk membantu generasi muda membangun kesiapan kerja melalui pelatihan keterampilan, penguatan soft skills, dan pendampingan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini,” ujar Linda Sukandar.

Ia juga menambahkan bahwa program ini diharapkan membuka akses kerja yang lebih inklusif bagi perempuan dan penyandang disabilitas.

Dunia Kerja Digital Kini Tidak Lagi Sama

Ada perubahan besar yang sering tidak disadari.

Dulu, definisi “siap kerja” identik dengan:

  • ijazah,

  • IPK tinggi,

  • pekerjaan kantoran,

  • jalur karier linear.

Kini semuanya berubah.

Ekonomi digital melahirkan banyak model kerja baru:

  • afiliator,

  • content creator,

  • freelance digital,

  • social commerce,

  • remote worker,

  • seller berbasis platform.

Masalahnya, perubahan ini juga menciptakan tekanan baru.

Anak muda dituntut:

  • terus belajar,

  • membangun personal branding,

  • memahami algoritma,

  • menguasai AI,

  • dan tetap adaptif terhadap perubahan tren industri.

Tidak semua siap menghadapi tekanan itu.

Banyak yang akhirnya merasa tertinggal sebelum benar-benar memulai karier.

Simulasi Nyata: Kenapa Banyak Fresh Graduate Kehilangan Arah?

Bayangkan seorang lulusan baru berusia 22 tahun.

Ia aktif membuat video TikTok, cukup mahir Canva dan CapCut, bahkan pernah membantu UMKM keluarga berjualan online. Namun ketika melamar kerja, ia bingung menjelaskan skill yang dimiliki dalam format profesional.

Portofolio tidak rapi. CV terlalu umum. Tidak memahami kebutuhan industri.

Akhirnya:

  • lamaran kerja tidak dibalas,

  • rasa percaya diri turun,

  • mulai merasa “tidak kompeten”.

Kasus seperti ini sangat umum terjadi.

Di sisi lain, industri sebenarnya membutuhkan banyak talenta digital tingkat dasar hingga menengah. Gap terbesar justru ada pada proses transisi dari “terbiasa menggunakan teknologi” menjadi “siap bekerja secara profesional”.

Program seperti ANDAL mencoba menjembatani celah itu.

Baca Juga: Fungsi BPJS Ketenagakerjaan bagi Pekerja Indonesia saat Risiko Kerja Terjadi

Baca Juga: Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Indonesia-Prancis Sepakat Bentuk Forum Bisnis Tingkat Tinggi

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci

Salah satu insight paling penting dari peluncuran program ini adalah kesadaran bahwa masalah ketenagakerjaan tidak bisa diselesaikan satu pihak saja.

Pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, komunitas, dan sektor swasta perlu bergerak bersama.

Country Head of Public Affairs Citi Indonesia, Hario Widyananto, mengatakan pemberdayaan generasi muda menjadi fondasi penting pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

“Melalui dukungan Citi Foundation terhadap program ANDAL yang dilaksanakan oleh YCAB Foundation, kami ingin membantu membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan, membangun kesiapan kerja, serta menangkap peluang ekonomi di tengah perkembangan dunia yang terus berubah,” ujar Hario Widyananto.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa isu kesiapan kerja kini bukan lagi sekadar isu pendidikan, tetapi juga isu ekonomi nasional.

Program ANDAL dan Masa Depan Dunia Kerja Indonesia

Ada satu hal yang menarik dari program ini.

ANDAL tidak hanya berbicara tentang “mencari pekerjaan”. Program ini mulai mengakui bahwa masa depan kerja anak muda Indonesia akan semakin fleksibel, digital, dan berbasis platform.

Ini penting karena generasi muda hari ini tidak lagi melihat karier secara linear.

Mereka bisa:

  • bekerja remote,

  • menjadi freelancer,

  • membangun bisnis digital,

  • menjadi afiliator,

  • atau menggabungkan beberapa sumber penghasilan sekaligus.

Namun tanpa pelatihan yang tepat, fleksibilitas itu juga bisa berubah menjadi ketidakpastian.

Karena itu, program seperti ANDAL berpotensi menjadi model penting dalam menyiapkan SDM Indonesia menghadapi ekonomi digital yang semakin kompetitif.

Pada akhirnya, tantangan terbesar generasi muda Indonesia mungkin bukan soal kurangnya teknologi. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengubah akses digital menjadi kesiapan hidup yang nyata.

Dan di tengah cepatnya perubahan dunia kerja akibat AI, otomatisasi, dan ekonomi platform, pertanyaan paling penting bukan lagi “apakah pekerjaan tersedia?”, melainkan:

“Apakah generasi muda sudah benar-benar siap menghadapi cara kerja yang baru?”

Pantau terus perkembangan program ANDAL dan perubahan dunia kerja digital Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Riset CORE: 15-20 Ribu Pekerja Terancam PHK di Tengah Melemahnya Rupiah, Jawa Barat Paling Rentan

Baca Juga: Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Libatkan 142 Ribu Pemasok Lokal

FAQ

Apa itu program ANDAL dari YCAB Foundation dan Citi Foundation?

Program ANDAL adalah singkatan dari Anak Muda untuk Dunia Kerja dan Wirausaha Digital yang Inklusif, yaitu program pelatihan kerja dan pengembangan keterampilan digital yang diluncurkan YCAB Foundation bersama Citi Foundation. Program ini bertujuan meningkatkan kesiapan kerja generasi muda Indonesia melalui pelatihan vokasi, penguatan soft skills, literasi finansial, hingga peluang ekonomi digital seperti afiliator dan kewirausahaan berbasis platform digital.

Mengapa program ANDAL penting bagi generasi muda Indonesia?

Program ANDAL menjadi penting karena banyak anak muda Indonesia masih mengalami kesulitan memasuki dunia kerja meski ekonomi digital terus berkembang. Data BPS 2024 menunjukkan jutaan generasi muda masuk kategori NEET atau tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Di tengah perubahan dunia kerja akibat teknologi dan AI, program seperti ANDAL membantu anak muda membangun skill yang lebih relevan dengan kebutuhan industri digital saat ini.

Siapa saja yang bisa mengikuti program ANDAL?

Program ANDAL menargetkan generasi muda di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, khususnya perempuan muda serta penyandang disabilitas. Hingga 2028, program ini ditargetkan menjangkau sekitar 2.500 peserta dengan fokus menciptakan akses kerja yang lebih inklusif. Peserta akan mendapatkan pelatihan kerja digital, pengembangan soft skills, serta pendampingan yang relevan dengan tren pekerjaan masa depan.

Apa hubungan program ANDAL dengan ekonomi digital Indonesia?

Program ANDAL hadir di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai hampir US$100 miliar berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025. Pertumbuhan ini membuka peluang kerja baru seperti content creator, afiliator, freelance digital, dan bisnis online berbasis platform. Namun banyak anak muda belum siap memanfaatkan peluang tersebut karena keterbatasan keterampilan kerja dan minimnya pendampingan karier digital.

Kenapa soft skills menjadi fokus dalam program ANDAL?

Soft skills kini menjadi salah satu faktor utama yang dicari perusahaan di era kerja digital. Banyak lulusan muda sebenarnya sudah cukup akrab dengan teknologi, tetapi masih lemah dalam komunikasi, disiplin kerja, adaptasi, hingga kerja tim. Program ANDAL tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membantu peserta membangun kesiapan mental dan profesional agar lebih siap menghadapi dunia kerja yang terus berubah.

Apa saja pelatihan yang diberikan dalam program ANDAL?

Program ANDAL menyediakan berbagai pelatihan berbasis kebutuhan industri digital, mulai dari pelatihan vokasi, literasi finansial, edukasi Prevention of Sexual Harassment, Exploitation and Abuse (PSHEA), hingga pelatihan afiliator digital. Selain itu, peserta juga akan mendapatkan penguatan keterampilan interpersonal dan integrasi ke berbagai platform ekonomi digital agar memiliki peluang kerja dan usaha yang lebih luas.

Bagaimana program ANDAL membantu perempuan dan penyandang disabilitas?

Program ANDAL dirancang untuk menciptakan peluang kerja yang lebih inklusif bagi perempuan dan penyandang disabilitas yang selama ini masih menghadapi banyak hambatan dalam akses pelatihan dan pekerjaan. Dengan pendekatan hybrid dan pendampingan berbasis kebutuhan industri, program ini berupaya membantu peserta membangun keterampilan digital, meningkatkan rasa percaya diri, serta membuka akses terhadap peluang ekonomi digital yang lebih setara.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.