Ekonom: Kenaikan Pertamax Sulit Dihindari, Pertamina Tak Bisa Terus Menahan Harga

AKURAT.CO Sejumlah ekonom menilai keputusan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax menjadi Rp16.250 per liter merupakan langkah yang sulit dihindari di tengah tekanan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, mengatakan, selama beberapa bulan terakhir Pertamina masih menahan harga Pertamax di bawah harga keekonomian melalui dana talangan perusahaan.
Namun, kebijakan tersebut tidak dapat berlangsung terus-menerus.
“Setelah beberapa waktu ditahan, BBM nonsubsidi tidak bisa lagi dipertahankan sehingga harus mengikuti mekanisme pasar. Karena itu kenaikan yang terjadi saat ini cukup tinggi,” kata Hendry, Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, dana talangan Pertamina hanya bersifat sementara untuk meredam gejolak harga agar tidak langsung dirasakan masyarakat.
Namun ketika harga minyak global dan kurs rupiah terus mengalami tekanan, ruang untuk mempertahankan kebijakan tersebut semakin terbatas.
“Pertamax adalah BBM nonsubsidi, sehingga tidak mendapat subsidi dari APBN dan pada dasarnya mengikuti harga pasar,” ujarnya.
Hendry menilai, jika Pertamina terus menanggung selisih harga tanpa penyesuaian, kondisi itu dapat menggerus kinerja keuangan perusahaan dan memengaruhi kepercayaan investor.
“Investor melihat profitabilitas dan kesehatan keuangan perusahaan. Jika terus menanggung kerugian, tentu akan berdampak pada minat investasi,” katanya.
Baca Juga: Demo Aliansi Mahasiswa
Senada, pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, mengatakan kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah membuat biaya penyediaan BBM terus meningkat.
Ia menjelaskan, formula harga BBM mengacu pada harga rata-rata produk BBM di pasar Singapura (MOPS) serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebagaimana diatur dalam Kepmen ESDM Nomor 19 Tahun 2019.
“Perhitungan harga BBM sangat bergantung pada MOPS dan kurs rupiah terhadap dolar AS,” ujar Yayan.
Berdasarkan simulasi yang dilakukan, harga keekonomian Pertamax saat ini berada pada kisaran Rp14.150 hingga Rp16.650 per liter.
Karena itu, harga baru Pertamax sebesar Rp16.250 per liter masih berada dalam rentang formula yang berlaku.
“Kalau menggunakan rumus yang ada, harga Pertamax memang berada di kisaran tersebut,” katanya.
Yayan menambahkan, dana talangan yang digunakan untuk menahan harga tidak menghilangkan beban biaya, melainkan hanya menundanya.
Pada akhirnya, selisih harga tersebut tetap harus diperhitungkan dalam mekanisme kompensasi pemerintah.
“Jika Pertamina memiliki klaim kompensasi, pada akhirnya itu akan menjadi beban yang harus diperhitungkan pemerintah,” ujarnya.
Karena itu, mempertahankan harga Pertamax jauh di bawah harga keekonomian dinilai berisiko terhadap penerimaan negara maupun kesehatan keuangan Pertamina.
“Keuangan Pertamina harus tetap sehat agar mampu menjaga kepercayaan investor dan mendukung investasi di sektor migas,” tegas Yayan.
Baca Juga: Pengertian Cut Loss dan Take Profit dalam Investasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









