Akurat Logo

Ekonom: Kenaikan Pertamax Sulit Dihindari, Pertamina Tak Bisa Terus Menahan Harga

Saeful Anwar | 12 Juni 2026, 21:34 WIB
Ekonom: Kenaikan Pertamax Sulit Dihindari, Pertamina Tak Bisa Terus Menahan Harga
Ilustrasi Pertamax.

AKURAT.CO Sejumlah ekonom menilai keputusan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax menjadi Rp16.250 per liter merupakan langkah yang sulit dihindari di tengah tekanan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, mengatakan, selama beberapa bulan terakhir Pertamina masih menahan harga Pertamax di bawah harga keekonomian melalui dana talangan perusahaan.

Namun, kebijakan tersebut tidak dapat berlangsung terus-menerus.

“Setelah beberapa waktu ditahan, BBM nonsubsidi tidak bisa lagi dipertahankan sehingga harus mengikuti mekanisme pasar. Karena itu kenaikan yang terjadi saat ini cukup tinggi,” kata Hendry, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, dana talangan Pertamina hanya bersifat sementara untuk meredam gejolak harga agar tidak langsung dirasakan masyarakat.

Namun ketika harga minyak global dan kurs rupiah terus mengalami tekanan, ruang untuk mempertahankan kebijakan tersebut semakin terbatas.

“Pertamax adalah BBM nonsubsidi, sehingga tidak mendapat subsidi dari APBN dan pada dasarnya mengikuti harga pasar,” ujarnya.

Hendry menilai, jika Pertamina terus menanggung selisih harga tanpa penyesuaian, kondisi itu dapat menggerus kinerja keuangan perusahaan dan memengaruhi kepercayaan investor.

“Investor melihat profitabilitas dan kesehatan keuangan perusahaan. Jika terus menanggung kerugian, tentu akan berdampak pada minat investasi,” katanya.

Baca Juga: Demo Aliansi Mahasiswa

Senada, pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, mengatakan kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah membuat biaya penyediaan BBM terus meningkat.

Ia menjelaskan, formula harga BBM mengacu pada harga rata-rata produk BBM di pasar Singapura (MOPS) serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebagaimana diatur dalam Kepmen ESDM Nomor 19 Tahun 2019.

“Perhitungan harga BBM sangat bergantung pada MOPS dan kurs rupiah terhadap dolar AS,” ujar Yayan.

Berdasarkan simulasi yang dilakukan, harga keekonomian Pertamax saat ini berada pada kisaran Rp14.150 hingga Rp16.650 per liter.

Karena itu, harga baru Pertamax sebesar Rp16.250 per liter masih berada dalam rentang formula yang berlaku.

“Kalau menggunakan rumus yang ada, harga Pertamax memang berada di kisaran tersebut,” katanya.

Yayan menambahkan, dana talangan yang digunakan untuk menahan harga tidak menghilangkan beban biaya, melainkan hanya menundanya.

Pada akhirnya, selisih harga tersebut tetap harus diperhitungkan dalam mekanisme kompensasi pemerintah.

“Jika Pertamina memiliki klaim kompensasi, pada akhirnya itu akan menjadi beban yang harus diperhitungkan pemerintah,” ujarnya.

Karena itu, mempertahankan harga Pertamax jauh di bawah harga keekonomian dinilai berisiko terhadap penerimaan negara maupun kesehatan keuangan Pertamina.

“Keuangan Pertamina harus tetap sehat agar mampu menjaga kepercayaan investor dan mendukung investasi di sektor migas,” tegas Yayan.

Baca Juga: Pengertian Cut Loss dan Take Profit dalam Investasi

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.