Akurat Logo

Harga BBM Nonsubsidi Tak Bisa Langsung Turun Meski Minyak Dunia Melandai? Ini Penjelasannya

Ayu Rachmaningtyas | 17 Juni 2026, 20:44 WIB
Harga BBM Nonsubsidi Tak Bisa Langsung Turun Meski Minyak Dunia Melandai? Ini Penjelasannya
SPBU Pertamina.

AKURAT.CO Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi menjadi sorotan publik setelah harga minyak dunia mulai turun menyusul meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Namun, sejumlah ekonom menilai penurunan harga minyak mentah tidak serta-merta diikuti oleh turunnya harga BBM di SPBU.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan harga BBM di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah dunia, tetapi juga berbagai komponen lain yang memengaruhi biaya akhir yang dibayar konsumen.

"Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar regional, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak," kata Josua kepada wartawan, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, seluruh komponen tersebut dihitung berdasarkan rata-rata dalam periode tertentu, bukan mengikuti pergerakan harga harian minyak dunia.

Untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, lanjut Josua, harga lebih banyak ditentukan oleh kebijakan pemerintah yang mempertimbangkan daya beli masyarakat serta kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Ketika harga minyak dunia turun, ruang fiskal yang terbuka bisa lebih dahulu digunakan untuk mengurangi beban subsidi dan kompensasi. Tidak otomatis diteruskan menjadi penurunan harga di SPBU," ujarnya.

Sementara itu, penyesuaian harga BBM nonsubsidi memang lebih mengikuti mekanisme pasar.

Namun, perubahan harga tetap tidak dilakukan setiap hari karena menggunakan formula resmi dan berada di bawah pengawasan pemerintah.

Baca Juga: Pigai Bantah MBG Langgar HAM: Program yang Masih Berjalan Harus Dievaluasi, Bukan Diadili

"Persoalan utamanya bukan apakah harga BBM harus turun, tetapi seberapa transparan pemerintah menjelaskan komponen pembentuk harga tersebut kepada publik agar tidak mudah dipolitisasi," katanya.

Berdasarkan perhitungannya, harga keekonomian Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.500 per liter atau sekitar Rp250 lebih tinggi dibanding harga jual yang berlaku sebesar Rp16.250 per liter.

Josua menjelaskan, tingginya harga keekonomian Pertamax dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia yang masih berada di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut meningkatkan biaya impor energi.

Menurut dia, kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter merupakan langkah koreksi yang diperlukan untuk mengurangi tekanan keuangan yang selama ini ditanggung Pertamina akibat penahanan harga.

"Jika harga Pertamax tetap ditahan di Rp12.300 terlalu lama, beban tersebut harus ditanggung Pertamina," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Pakar Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki.

Ia menilai perdamaian antara Iran dan AS menjadi sentimen positif bagi pasar energi global karena berpotensi menekan harga minyak mentah dunia.

Menurut Yayan, tren pelemahan harga minyak pada akhirnya dapat berdampak pada penurunan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax.

Namun, penurunan hingga kembali ke level sekitar Rp12.300 per liter diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

"Pasti terjadi penurunan harga dan bisa berdampak ke Pertamax. Namun untuk kembali ke Rp12.300 per liter tidak akan secepat itu," katanya.

Yayan memperkirakan harga minyak dunia akan turun secara bertahap, dengan koreksi sekitar 1% hingga 3% per hari dalam beberapa bulan mendatang.

Meski demikian, arah pergerakan harga energi global masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan keberlanjutan perdamaian antara Iran dan AS.

Baca Juga: KPK Buka Peluang Panggil Ulang Direktur Keuangan PT Adaro Wamco Prima

Ia juga menyoroti pergerakan harga minyak Brent yang saat ini tengah melemah dan berpotensi terus turun hingga awal Juli 2026 sebelum kembali menguat pada Agustus hingga September seiring berakhirnya musim panas di negara-negara belahan bumi utara.

"Kita lihat harga Brent terus menurun dan kemungkinan masih berlanjut hingga awal Juli. Setelah itu berpotensi naik kembali pada Agustus hingga September ketika musim panas berakhir," ujarnya.

Lebih lanjut, Yayan menilai pasar minyak global masih berada dalam fase transisi menuju keseimbangan baru. Mengacu pada proyeksi Short Term Energy Outlook (STEO) yang diterbitkan Energy Information Administration (EIA) AS, peningkatan produksi minyak Negeri Paman Sam hingga sekitar 14 juta barel per hari diperkirakan menjadi faktor yang menahan kenaikan harga minyak dunia.

Dengan asumsi konflik benar-benar berakhir dan pasokan energi global kembali stabil, Yayan memperkirakan harga minyak dunia bergerak di kisaran US$80–US$90 per barel hingga akhir tahun. Selanjutnya, harga berpotensi turun ke rentang US$75–US$85 per barel pada akhir tahun atau awal tahun depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.