Akurat Logo

Menko Airlangga Beberkan Data Positif Perekonomian RI Terkini, Perusahaan Didorong Ekspansif

Esha Tri Wahyuni | 29 Juni 2026, 22:24 WIB
Menko Airlangga Beberkan Data Positif Perekonomian RI Terkini, Perusahaan Didorong Ekspansif
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto

AKURAT.CO Pemerintah mengubah pendekatan menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Di tengah perlambatan ekonomi dunia, pemerintah tidak hanya berfokus menjaga stabilitas, tetapi mulai mendorong dunia usaha melakukan ekspansi investasi dengan memanfaatkan harga barang modal yang dinilai lebih kompetitif.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada jalur positif sehingga pelaku usaha memiliki ruang untuk memperbesar investasi.

Baca Juga: Operasi Moneter BI Jitu, Likuiditas RP400 Triliun Mengalir ke Pasar RI dalam Sebulan

"Kondisi seperti sekarang justru menjadi momentum bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi. Dalam situasi seperti ini biasanya capital goods menjadi sangat kompetitif atau relatif murah. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali," kata Airlangga di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Pernyataan tersebut didukung sejumlah indikator makroekonomi yang masih menunjukkan ketahanan ekonomi nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding sejumlah proyeksi lembaga internasional dan tetap berada di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara ASEAN.

Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga mencatat inflasi pada Mei 2026 berada di kisaran 3%, masih berada dalam rentang sasaran stabilitas harga. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga bertahan di atas level 120, menandakan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih terjaga.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus sebesar USD0,09 miliar pada April 2026.

Aktivitas manufaktur juga tetap berada di zona ekspansi dengan Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global berada di level 50, sementara cadangan devisa Indonesia pada Mei 2026 mencapai USD144,9 miliar.

"Perekonomian Indonesia masih berada dalam jalur yang positif. Berbagai indikator menunjukkan ketahanan ekonomi domestik tetap terjaga meskipun tekanan global masih berlangsung," ujar Airlangga.

Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah telah menggelontorkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun pada semester II-2026.

Program tersebut meliputi bantuan pangan berupa beras kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat (KPM) selama tiga bulan, bantuan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kedelai bagi pelaku usaha tahu dan tempe, serta diskon tarif transportasi udara, kereta api, dan angkutan laut kelas ekonomi.

Stimulus tersebut juga diarahkan untuk menjaga konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) Indonesia, terutama pada periode libur sekolah hingga Natal dan Tahun Baru.

Di sektor ketenagakerjaan, pemerintah akan memulai Program Magang Nasional pada Juli 2026. Program tersebut memberikan kesempatan bagi lulusan baru untuk memperoleh pengalaman kerja selama enam bulan di sektor industri, jasa, dan ekonomi digital dengan dukungan insentif pemerintah.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program vokasi dan reskilling bagi sekitar 220 ribu lulusan SMK guna meningkatkan keterampilan tenaga kerja sekaligus memperluas akses menuju pasar kerja nasional maupun internasional.

Di bidang perdagangan internasional, pemerintah mempercepat penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang ditargetkan rampung tahun ini.

Melalui perjanjian tersebut, sekitar 90 persen produk ekspor Indonesia berpotensi memperoleh tarif masuk nol persen ke pasar Uni Eropa.

Pemerintah juga melanjutkan proses aksesi menuju Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebagai bagian dari strategi memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional.

Dalam jangka panjang, pemerintah turut menyiapkan pembentukan financial center di Bali melalui regulasi khusus yang tengah dibahas bersama DPR.

Di sisi lain, transformasi ekonomi hijau juga terus dipercepat melalui proyek energi panas bumi (geothermal) dan pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy) yang didukung skema pembiayaan Just Energy Transition Partnership (JETP).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.