Tak Hanya Dipengaruhi Minyak Dunia, Ini Alasan Harga Pertamax Bertahan

AKURAT.CO Sejumlah pakar menilai, keputusan pemerintah mempertahankan harga Pertamax di level Rp16.250 per liter meski harga minyak dunia melemah masih memiliki dasar ekonomi yang rasional.
Menurut mereka, harga BBM nonsubsidi tidak ditentukan semata-mata oleh pergerakan harga minyak mentah, tetapi juga mempertimbangkan berbagai komponen biaya dan strategi penetapan harga.
Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, mengatakan keputusan mempertahankan harga Pertamax dapat diperkirakan berdasarkan model perhitungan yang dikembangkannya.
Ia menilai kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi price smoothing yang diterapkan PT Pertamina (Persero).
"Ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp16.250 pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi. Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya," kata Yayan, Jumat (3/7/2026).
Menurut Yayan, harga BBM nonsubsidi tidak mengikuti secara langsung fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Selain harga minyak, penetapan harga juga mempertimbangkan formula pemerintah serta strategi bisnis Pertamina.
Ia memperkirakan formula dasar untuk Agustus mengarah pada harga sekitar Rp13.700 per liter.
Namun, dengan pendekatan price smoothing, harga Pertamax diproyeksikan tetap berada di kisaran Rp16.000 per liter atau tidak jauh berbeda dengan harga saat ini.
Baca Juga: Jelang MPLS Siswa Baru Sekolah Rakyat, Mensos Beri 6 Arahan ke Seluruh Unit Kerja Kemensos
Yayan menambahkan, apabila harga Pertamax langsung diturunkan mengikuti formula, dampaknya berpotensi menurunkan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan.
Sebaliknya, jika harga dipertahankan, manfaat penurunan harga minyak lebih banyak digunakan untuk memperbaiki margin Pertamina, sementara beban subsidi Pertalite dan Solar tetap menjadi komponen terbesar dalam anggaran negara.
"Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan sekitar 0,4 poin persentase penurunan inflasi selama tiga bulan. Jika ditahan, dampaknya nihil dan seluruh penurunan harga minyak mengalir ke anggaran serta pemulihan margin Pertamina," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan pakar kebijakan publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono.
Menurutnya, keputusan mempertahankan harga Pertamax dapat dibenarkan selama didasarkan pada perhitungan biaya yang komprehensif dan disampaikan secara transparan kepada publik.
"Harga BBM tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah dunia pada hari tertentu. Pemerintah dan badan usaha juga memperhitungkan harga rata-rata dalam periode tertentu, nilai tukar rupiah, biaya pengolahan, distribusi, pajak, hingga cadangan untuk mengantisipasi gejolak pasar. Karena itu, penurunan harga minyak dunia tidak selalu harus langsung diikuti penurunan harga jual di dalam negeri," ujarnya.
Kristian menegaskan Pertamax sebagai BBM nonsubsidi tidak harus mengalami penyesuaian harga setiap kali harga minyak dunia turun.
Yang menjadi acuan utama adalah apakah harga jual masih mencerminkan biaya penyediaan berdasarkan formula yang berlaku.
"Apabila hasil perhitungan menunjukkan harga yang berlaku masih mencerminkan biaya penyediaannya, maka mempertahankan harga bukan merupakan pelanggaran terhadap prinsip pasar. Namun apabila biaya penyediaan sudah turun secara nyata tetapi harga tetap dipertahankan, pemerintah dan badan usaha perlu memberikan penjelasan yang transparan agar tidak menimbulkan persepsi bahwa konsumen menanggung beban yang tidak semestinya," katanya.
Ia juga mengingatkan pemerintah agar tidak mencampurkan mekanisme penetapan harga BBM nonsubsidi dengan upaya memperkuat kondisi fiskal negara.
Baca Juga: Sejarah Piala Dunia: Awal Mula, Piala Dunia Pertama, hingga Negara Juara Terbanyak
Menurutnya, apabila pertimbangan fiskal menjadi alasan utama mempertahankan harga, pemerintah perlu menjelaskan dasar kebijakan tersebut secara terbuka untuk menjaga kepercayaan publik.
"Keberhasilan kebijakan energi tidak hanya diukur dari murah atau mahalnya harga bahan bakar, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen, keberlanjutan penyediaan energi, kesehatan keuangan negara, serta kepercayaan publik terhadap proses pengambilan kebijakan," tutur Kristian.
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menetapkan harga Pertamax tetap Rp16.250 per liter pada Juli 2026, setelah mengalami kenaikan pada 10 Juni lalu.
Sementara itu, harga Pertamax Turbo turun Rp1.450 menjadi Rp19.300 per liter dari sebelumnya Rp20.750 per liter. Adapun harga Pertamax Green 95 tetap dipertahankan di level Rp17.000 per liter.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







